Connect with us

Internasional

Wartawan Toru Kubuta, Ingin Cari Dukungan untuk Penduduk Myanmar

Avatar

Diterbitkan

pada

Kubota Toru ingin membantu masyarakat di Myanmar yang tertindas kekekuasaan militer di sana. (ist)

FAKTUAL-INDONESIA : Kedatangannya ke Myanmar ketika itu membuat Toru Kubota, wartawan dan pembuat film dokumenter asal Jepang terlanjur iba dengan kondisi penduduk di Myanmar.

Kubota Toru, yang sempat dipenjara di Myanmar selama sekitar 3½ bulan, menyerukan peningkatan dukungan bagi orang-orang yang tinggal di sana di bawah kekuasaan militer. Kubota ingin mencari dukungan untuk mereka.

“Bantuan kemanusiaan untuk Myanmar sama sekali tidak cukup. Saya berharap orang-orang akan lebih memperhatikan,” kata pembuat film berusia 26 tahun itu, dikutip The Yomiuri Shimbun.

Pada 1 Februari nanti merupakan  peringatan dua tahun kudeta militer di Myanmar.

Kubota saat itu dibawa pergi dengan todongan senjata oleh personel militer pada 30 Juli tahun lalu saat merekam protes terhadap junta militer di Yangon, kota terbesar di Myanmar.

Advertisement

Dia dijatuhi hukuman 10 tahun penjara karena tuduhan termasuk penghasutan, tetapi kembali ke rumah setelah diampuni dan dibebaskan pada 17 November  2022.

“Awalnya tampak sama seperti sebelum kudeta, tetapi orang-orang ditangkap atau diserang dengan kekerasan hanya karena memposting kritik terhadap militer di media sosial. Hal semacam ini terjadi setiap hari,” kata Kubota.

Kubota ditahan saat merekam demonstrasi semacam itu, yang menurutnya menggambarkan situasi di Myanmar.

Pada satu titik, dia ditempatkan di pusat penahanan yang sempit dan kotor bersama banyak orang lainnya dan dituduh dengan tuduhan palsu seperti “berpartisipasi dalam demonstrasi dan berusaha menyesatkan orang.”

Ketika dia dijatuhi hukuman 10 tahun penjara, Kubota mengatakan dia “hancur”. Perasaannya begitu bergejolak sehingga dia bahkan berpikir untuk bunuh diri. Namun, dia didorong oleh orang lain yang dipenjara karena alasan yang sama.

Advertisement

Kubota saat ini bekerja untuk membuat kerangka kerja untuk mendukung jurnalis Myanmar, merasa ini adalah tugasnya, karena dia sendiri yang terkena dampak langsung dari masalah tersebut. “Seharusnya aku yang melakukannya,” katanya.

“Saya juga ingin terus berkarya terkait Myanmar, untuk mengangkat permasalahan di sana,” tutup dia.***

Lanjutkan Membaca