Internasional
Korban Tewas Gempa Kembar Venezuela Naik Jadi 920 Orang, Ribuan Warga Masih Mengungsi

Gempa kembar Venezuela tewaskan ratusan orang. (Foto : istimewa)
FAKTUAL-INDONESIA : Jumlah korban jiwa akibat gempa bumi kembar yang mengguncang wilayah utara Venezuela terus bertambah. Hingga Jumat (26/6) waktu setempat, sedikitnya 920 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara 3.630 orang lainnya mengalami luka-luka.
Ketua Majelis Nasional Venezuela, Jorge Rodríguez, mengatakan dua gempa kuat yang mengguncang kawasan pesisir utara negara itu pada Rabu (24/6), disusul gempa susulan berkekuatan besar, telah memicu kerusakan luas, terutama di negara bagian La Guaira yang menjadi salah satu wilayah terdampak paling parah.
Dalam pernyataannya yang disiarkan televisi nasional, Rodríguez mengungkapkan sedikitnya 383 bangunan mengalami kerusakan berat, sehingga mengganggu aktivitas masyarakat dan infrastruktur penting di wilayah tersebut.
Selain itu, sekitar 3.007 warga terpaksa mengungsi dan kini berada di berbagai lokasi penampungan sementara maupun rumah sakit lapangan yang didirikan pemerintah.
Tim penyelamat yang diperkuat personel pencarian dan penyelamatan dari berbagai negara masih terus melakukan operasi di sejumlah titik untuk mencari korban yang diduga masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan.
Pemerintah juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan perjalanan menuju La Guaira. Kepadatan lalu lintas di kawasan tersebut dinilai dapat menghambat distribusi bantuan kemanusiaan, proses evakuasi korban, serta memperlambat operasi tanggap darurat.
Sementara itu, Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) melaporkan bahwa Venezuela diguncang dua gempa besar berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 dengan selang waktu hanya sekitar 39 detik.
Menurut USGS, gempa berkekuatan magnitudo 7,5 berpusat sekitar 23 kilometer di tenggara Kota Yumare, Negara Bagian Yaracuy. Adapun gempa bermagnitudo 7,2 berpusat sekitar 24 kilometer di timur laut Kota San Felipe, yang juga berada di wilayah Yaracuy.
Hingga kini pemerintah Venezuela masih menetapkan status darurat nasional dan terus mengerahkan seluruh sumber daya untuk mempercepat proses pencarian korban, penanganan pengungsi, serta pemulihan infrastruktur yang rusak akibat salah satu bencana gempa paling mematikan dalam sejarah negara tersebut.***