Internasional
Kopilot Air India Meninggal di Bali akibat Serangan Jantung saat Layover

Pilot Air India tewas di Bali karena serangan jantung. (Foto : istimewa)
FAKTUAL-INDONESIA : Seorang kopilot maskapai Air India dilaporkan meninggal dunia saat berada di Bali setelah menyelesaikan penerbangan internasional dari New Delhi. Insiden tersebut terjadi ketika yang bersangkutan tengah menjalani masa istirahat (layover), Kamis (30/4/2026).
Berdasarkan laporan media internasional, pilot yang berusia sekitar awal 40-an itu sebelumnya dalam kondisi sehat dan telah lulus pemeriksaan kesehatan rutin penerbangan. Namun, ia mengalami henti jantung mendadak yang berujung fatal.
Baca Juga : Satu-satunya Penumpang Air India yang Selamat, Akui Ngeri Melihat Mayat Bergelimpangan
Peristiwa ini kembali menyoroti risiko serangan jantung yang dapat terjadi tanpa gejala jelas, bahkan pada individu yang terlihat bugar. Kondisi seperti tekanan darah tinggi, kolesterol, resistensi insulin, hingga stres berkepanjangan dapat berkembang tanpa disadari dan meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular.
Kasus tersebut juga menambah perhatian terhadap kesehatan para pilot, menyusul sejumlah insiden serupa yang melibatkan awak maskapai lain dalam beberapa waktu terakhir. Para ahli menilai profesi pilot memiliki tingkat tekanan yang tinggi, dengan faktor risiko seperti jam kerja panjang, pola tidur tidak teratur, serta perubahan zona waktu yang dapat mengganggu ritme biologis tubuh.
Meskipun pilot secara rutin menjalani pemeriksaan kesehatan seperti elektrokardiogram (EKG), pengukuran tekanan darah, dan evaluasi riwayat medis, sejumlah pakar menilai pemeriksaan tersebut belum cukup untuk mendeteksi gangguan jantung pada tahap awal atau tanpa gejala.
Baca Juga : Ini Kata-Kata Terakhir Pilot Air India yang Alami Kecelakaan di Bandara Ahmedabad
Untuk itu, para ahli menyarankan pemeriksaan lanjutan seperti stress test, pemeriksaan kalsium koroner, serta analisis profil lipid yang lebih mendalam guna mengidentifikasi risiko lebih dini, khususnya bagi profesi dengan tingkat tanggung jawab tinggi.
Dokter juga mengingatkan sejumlah gejala awal yang kerap diabaikan, seperti kelelahan berlebihan, sesak napas, nyeri dada, pusing, hingga detak jantung tidak teratur. Gejala tersebut dapat menjadi tanda peringatan adanya gangguan jantung yang serius.
Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya pencegahan melalui gaya hidup sehat, termasuk olahraga rutin, pola makan seimbang, manajemen stres, serta istirahat yang cukup. Selain itu, penerapan skrining kesehatan yang lebih komprehensif dinilai penting untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang.***