Internasional
Israel Menyelidiki Tentaranya Dalam Pembunuhan Jurnalis Abu Akleh

Keluarga, teman, dan kolega jurnalis Al Jazeera yang terbunuh, Shireen Abu Akleh, membawa peti matinya ke sebuah rumah sakit di lingkungan Sheikh Jarrah di Yerusalem Timur. (Foto: Al Jazeera)
FAKTUAL-INDONESIA: Militer Israel menerima kemungkinan bahwa salah satu tentaranya membunuh jurnalis veteran Al Jazeera, Shireen Abu Akleh. Kemungkinan itu menguat menyusul munculnya laporan tentang Israel yang sedang menyelidiki kemungkinan salah satu tentaranya menembaknya dalam serangan di kota Jenin di Tepi Barat yang diduduki.
Abu Akleh, menurut Al Jazeera, sedang berada di Jenin pada hari Rabu, dan melaporkan serangan ketika dia dibunuh oleh pasukan Israel. Beberapa saksi di tempat kejadian, juga mengatakan tidak ada konfrontasi dengan pejuang Palestina pada saat itu.
Pengakuan bahwa seorang tentara Israel dapat bertanggung jawab, adalah bukti bahwa Israel meragukan keterangan awal bahwa kemungkinan pejuang Palestina di Jenin yang membunuh Abu Akleh.
Sebuah video yang disebarluaskan oleh pemerintah Israel, termasuk Perdana Menteri Naftali Bennett, yang menunjukkan penembakan warga Palestina di Jenin. Kini telah terbukti tidak difilmkan di sekitar Abu Akleh ketika dia dibunuh.
Israel sedang melakukan penyelidikan atas pembunuhan Abu Akleh. Ungkapan itu disampaikan sumber militer Israel kepada Wall Street Journal dan surat kabar Washington Post.
Menurut Washington Post, seorang pejabat senior militer Israel pada hari Kamis mengatakan bahwa militer sedang menyelidiki tiga insiden terpisah yang melibatkan tentaranya selama pembunuhan Abu Akleh.
“Seorang tentara dengan senapan dan sistem bidikan yang sangat baik menembak ke arah teroris dengan M16, dalam kondisi sangat baik, gambar yang sangat jelas, yang menembaki pasukan kami. Apa yang kami periksa sekarang adalah lokasi Shireen,” kata pejabat itu kepada Washington Post.
Dia menambahkan bahwa ini adalah skenario yang paling mungkin, untuk terlibat dalam kematian Shireen. Pejabat itu juga mengatakan bahwa penyelidik militer telah mengambil senapan dari tentara Israel yang terlibat dalam pertempuran untuk dilakukan pengujian balistik.
Sementara itu, seorang pejabat senior militer Israel juga mengatakan kepada Wall Street Journal, bahwa tentara sedang menyelidiki satu insiden di mana ada kemungkinan peluru tentara Israel bertanggung jawab atas pembunuhan Abu Akleh.
Pejabat itu mengakui bahwa peluru bisa saja dibelokkan dari tanah atau dinding dan mengenai Abu Akleh. Wartawan yang bersama Abu Akleh, termasuk seorang yang tertembak dan terluka, mengatakan pasukan Israel menembaki mereka meskipun mereka jelas dapat diidentifikasi sebagai wartawan.
Israel juga menyerukan penyelidikan bersama dengan Otoritas Palestina (PA), yang mengelola bagian-bagian Tepi Barat dan bekerja sama dengannya dalam hal keamanan.
Presiden Palestina Mahmoud Abbas dengan marah menolak proposal itu, dengan mengatakan “kami menganggap otoritas pendudukan Israel bertanggung jawab penuh atas pembunuhannya”.
“Mereka tidak dapat menyembunyikan kebenaran dengan kejahatan ini,” kata Abbas dalam pidatonya dengan bendera Palestina di atasnya di kota Ramallah, Tepi Barat, tempat Otoritas Palestina bermarkas.
“Merekalah yang melakukan kejahatan. Dan karena kami tidak mempercayai mereka, kami akan segera pergi ke Pengadilan Kriminal Internasional,” kata Abbas.
Uni Eropa telah mendesak penyelidikan “independen” sementara Amerika Serikat menuntut pembunuhan itu “diinvestigasi secara transparan”. Seruan itu digaungkan oleh kepala hak asasi manusia PBB Michelle Bachelet.
Dalam sebuah pernyataan, Al Jazeera mengatakan bahwa Abu Akleh telah “dibunuh dengan darah dingin” dan meminta masyarakat internasional untuk meminta pertanggungjawaban pasukan Israel.
Selain Abu Akleh, seorang jurnalis Al Jazeera lainnya, Ali al-Samoudi, juga mengalami luka tembak di bagian punggung di lokasi kejadian. Dia sekarang dalam kondisi stabil. Abu Akleh dimakamkan pada hari Jumat di kampung halamannya di Yerusalem.***