Connect with us

Internasional

Saling Ancam: Trump Siap Selamatkan Demonstran, Iran Tuding Israel dan Amerika Picu Unjuk Rasa

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Saling Ancam: Trump Siap Selamatkan Demonstran, Iran Tuding Israel dan Amerika Picu Unjuk Rasa

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) saling ancam dengan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani (tengah) yang menuduh AS dan Israel memicu aksi unjuk rasa yang makin memanas dan meluas di Iran

FAKTUAL INDONESIA: Aksi unjuk rasa yang awalnya dipicu oleh kesulitan ekonomi yang melanda Iran kini makin melebar dan memanas bahkan menyeret ketegangan global setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan pejabat tinggi Republik Islam itu saling ancam, Jumat (2/1/2026).

Kondisi itu makin meningkatkan ketegangan unjuk rasa yang sudah meluas melanda beberapa bagian Iran dan  semakin meningkatkan ketegangan antara kedua negara setelah Amerika bergabung dengan Israel dalam membom situs nuklir Iran pada bulan Juni.

Trump awalnya menulis di platform Truth Social miliknya, memperingatkan Iran bahwa jika mereka “membunuh demonstran damai secara brutal,” Amerika Serikat “akan datang untuk menyelamatkan mereka.”

Baca Juga : Zelensky Ungkap Trump Mempertimbangkan Pengerahan Pasukan AS ke Ukraina

Setidaknya tujuh orang telah tewas sejauh ini dalam kekerasan yang terjadi di sekitar demonstrasi, yang sebagian dipicu oleh runtuhnya mata uang rial Iran.

“Kami sudah siap tempur dan siap beraksi,” tulis Trump, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.

Advertisement

Tak lama kemudian, Ali Larijani, mantan ketua parlemen yang menjabat sebagai sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, menuduh di platform media sosial X bahwa Israel dan AS sedang memicu demonstrasi tersebut. Ia tidak memberikan bukti untuk mendukung tuduhan tersebut, yang telah berulang kali dilontarkan oleh pejabat Iran selama bertahun-tahun protes yang melanda negara itu.

“Trump harus tahu bahwa intervensi AS dalam masalah domestik akan menyebabkan kekacauan di seluruh kawasan dan kehancuran kepentingan AS,” tulis Larijani di X, yang diblokir oleh pemerintah Iran. “Rakyat AS harus tahu bahwa Trump telah memulai petualangan ini. Mereka harus menjaga tentara mereka sendiri.”

Pernyataan Larijani kemungkinan merujuk pada jejak militer Amerika yang luas di kawasan tersebut. Pada bulan Juni, Iran menyerang Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar setelah serangan AS terhadap tiga situs nuklir selama perang 12 hari Israel melawan Republik Islam Iran.

Baca Juga : Ukraina Serang Kilang Minyak Rusia dengan Rudal Storm Shadow, Zelensky Kontak Utusan Trump

Ali Shamkhani, seorang penasihat Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei yang sebelumnya menjabat sebagai sekretaris dewan selama bertahun-tahun, memperingatkan bahwa “tangan intervensionis mana pun yang terlalu dekat dengan keamanan Iran akan dipotong.”

“Rakyat Iran sangat memahami pengalaman ‘diselamatkan’ oleh Amerika: dari Irak dan Afghanistan hingga Gaza,” tambahnya di X.

Advertisement

Terbasar Sejak 2022

Aksi protes yang sedang berlangsung, yang kini memasuki hari keenam, telah menjadi yang terbesar di Iran sejak tahun 2022, ketika kematian Mahsa Amini yang berusia 22 tahun dalam tahanan polisi memicu demonstrasi nasional. Namun, demonstrasi tersebut belum meluas ke seluruh negeri dan belum seintens demonstrasi yang terjadi seputar kematian Amini, yang ditahan karena tidak mengenakan hijab, atau jilbab, sesuai keinginan pihak berwenang.

Baca Juga : Israel Siap Gempur Iran Lagi, Netanyahu akan Bertemu Trump untuk Bicarakan Rencana Serangan

Pemerintah sipil Iran di bawah Presiden reformis Masoud Pezeshkian telah mencoba memberi sinyal bahwa mereka ingin bernegosiasi dengan para demonstran. Namun, Pezeshkian mengakui bahwa tidak banyak yang dapat ia lakukan karena nilai tukar rial Iran telah terdepresiasi dengan cepat, dengan $1 sekarang setara dengan sekitar 1,4 juta rial. Hal itu memicu protes awal.

Aksi protes yang berakar pada isu-isu ekonomi ini juga meneriakkan slogan-slogan menentang teokrasi Iran.

Beberapa bulan setelah perang, Iran mengatakan bahwa mereka tidak lagi memperkaya uranium di lokasi mana pun di negara itu, mencoba memberi sinyal kepada Barat bahwa mereka tetap terbuka untuk potensi negosiasi mengenai program atomnya untuk meringankan sanksi. Namun, pembicaraan tersebut belum terjadi karena Trump dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah memperingatkan Teheran agar tidak membangun kembali program atomnya.

Advertisement

Republik Islam Iran mengklaim program nuklirnya hanya melayani tujuan damai. Namun, mereka telah memperkaya uranium hingga tingkat yang hanya memiliki kegunaan militer, sementara menolak akses inspektur ke lokasi pengayaan uranium mereka. Selama beberapa dekade, Teheran juga menyerukan penghancuran Israel. ***

Lanjutkan Membaca
Advertisement