Internasional
Iran Serang Lima Negara Teluk dan Tutup Selat Hormuz setelah Amerika Lancarkan Pemboman Putaran Ketiga

Iran menutup Selat Hormuz dan menyerang pangkalan Amerika Serikat (AS) di lima negara Teluk setelah AS melancarkan pemboman dalam serangan putaran ketiga, Minggu. (Foto : Istimewa)
FAKTUAL INDONESIA: Iran menyerang negara-negara Teluk dan menutup Selat Hormuz setelah Amerika Serikat (AS) melakukan serangan udara putaran ketiga dalam seminggu, yang merupakan eskalasi serius seiring dengan memburuknya konflik yang sedang berlangsung.
Pada hari Minggu, Teheran mengklaim serangan terhadap Bahrain, Kuwait, Yordania, Qatar, dan Oman, menyebutnya sebagai tanggapan atas pemboman AS yang kembali terjadi di kota-kota di sepanjang pantai selatannya.
Baca Juga : Iran Umumkan Penutupan Selat Hormuz hingga Batas Waktu yang Belum Ditentukan
Serangan Balasan Iran
Seperti dilansir Al Jazeera, sejak dimulainya konflik yang sedang berlangsung pada akhir Februari, Teheran menuduh negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) secara aktif mendukung operasi militer AS dengan menampung pangkalan-pangkalan militernya dan mengizinkannya menggunakan wilayah udara mereka.
Iran melancarkan serangan rudal dan pesawat nirawak yang menargetkan pangkalan dan fasilitas militer AS di beberapa negara Teluk.
Oman
Menurut IRIB, IRGC mengklaim serangan “berat dan mendadak” terhadap pusat-pusat dukungan logistik dan platform pengisian bahan bakar yang digunakan oleh kapal induk AS di pelabuhan Duqm di Oman.
Kantor humas IRGC mengatakan kepada IRIB bahwa situs-situs tersebut “hancur” dalam serangan itu.
Qatar
IRGC mengatakan pihaknya juga menargetkan pangkalan udara Al Udeid di Qatar dengan rudal balistik dan mengklaim telah menghancurkan pusat perawatan pesawat tempur, serta pusat komando dan kendali di pangkalan tersebut.
Kementerian Pertahanan Qatar mengatakan pihaknya mencegat tembakan yang datang dari Iran. Tiga orang, termasuk seorang anak, terluka akibat pecahan peluru yang berjatuhan dari pencegatan serangan Iran tersebut, kata Kementerian Dalam Negeri Qatar.
Kuwait
Baca Juga : Trump Menagih Janji Iran untuk Membebaskan Selat Hormuz, Teheran Menuduh AS Langgar Perjanjian
Militer Iran mengatakan pihaknya menggunakan drone berisi bahan peledak untuk menargetkan sistem pertahanan udara Patriot, gudang amunisi, dan lokasi radar milik militer AS di Kuwait.
Bahrain
Dalam gelombang serangan pesawat tak berawak lainnya, Teheran menargetkan sistem komunikasi dan situs radar AS di Bahrain.
Yordania
IRGC mengatakan pihaknya menargetkan fasilitas militer AS di pangkalan udara Pangeran Hassan di Yordania dengan beberapa rudal balistik, dan mengklaim telah menghancurkan pusat komando dan kendali di pangkalan tersebut, serta hanggar yang menampung drone MQ-9.
Reaksi Negara-negara Teluk
Beberapa negara membunyikan sirene pada Minggu sore, dengan pemerintah meminta warga untuk tetap berada di dalam rumah.
Oman menyatakan pihaknya mengambil “semua langkah yang diperlukan untuk menangani perkembangan tersebut guna menjaga keamanan negara dan penduduknya”. Kesultanan Oman menegaskan “kecaman dan penolakannya terhadap serangan ini”, yang terjadi hanya beberapa jam setelah negara tersebut menjadi tuan rumah kunjungan menteri luar negeri Iran untuk membahas isu-isu keamanan di Selat Hormuz.
Baca Juga : Mojtaba Khamenei Bersumpah Membalas Dendam Kematian Ayahnya, Trump Ancam Musnahkan Wilayah Iran
Qatar juga mengutuk keras serangan Iran terhadap wilayahnya, serta di kawasan tersebut, dengan menyatakan bahwa “berlanjutnya agresi ini merupakan eskalasi berbahaya yang akan mempersulit upaya untuk meredam ketegangan, melemahkan upaya politik dan diplomatik yang bertujuan untuk mencapai keamanan dan stabilitas di kawasan tersebut, dan menyatakan Republik Islam Iran sepenuhnya bertanggung jawab secara hukum atas agresi ini dan semua dampak serta konsekuensinya”.
Doha menyebut serangan itu sebagai “pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah” dan “pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional”. Kementerian Dalam Negeri menaikkan tingkat ancaman keamanan ke level tinggi dan mendesak warga untuk tetap berada di tempat yang aman dan menghindari pergerakan yang tidak perlu.
Militer Kuwait mengatakan pasukannya menanggapi “target udara musuh” di wilayah udara negara itu, dan menambahkan bahwa suara ledakan tersebut merupakan hasil dari sistem pertahanan mereka yang mencegat serangan tersebut.
Kementerian Dalam Negeri Bahrain mengatakan sirene serangan udara telah diaktifkan, dan mendesak warga untuk tetap tenang.
Baca Juga : Pertempuran Kembali Meletus Antara Amerika dan Iran Jelang Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei
Sasaran 140 Target Militer
Seperti dilansir Al Jazeera, serangan besar-besaran AS terjadi setelah Iran menutup Selat Hormuz — jalur air penting dan salah satu titik konflik terbesar — dengan menuduh Washington melanggar nota kesepahaman ( MoU ) yang ditandatangani antara kedua pihak bulan lalu.
Komando Pusat AS (CENTCOM) melakukan serangan putaran ketiga yang menargetkan situs radar, rudal, dan pesawat nirawak di seluruh Iran selatan pekan lalu.
Serangan AS terjadi setelah Iran melepaskan tembakan ke kapal-kapal komersial di Selat Hormuz dan mengumumkan penutupan jalur air strategis tersebut hingga pemberitahuan lebih lanjut, dengan satu anggota kru hilang, menurut CENTCOM.
CENTCOM mengatakan bahwa serangan putaran ketiga mereka terhadap Iran adalah “untuk meminta pertanggungjawaban pasukan Iran” atas serangan mereka baru-baru ini terhadap kapal berbendera Siprus di Selat Hormuz.
Disebutkan bahwa serangan itu mengenai sekitar 140 target militer yang “termasuk lokasi rudal dan drone Iran, kemampuan angkatan laut, fasilitas penyimpanan amunisi, jaringan komunikasi, dan lokasi pengawasan pantai”.
Ditambahkan pula bahwa lebih dari 300 target dihantam selama tiga malam sepanjang minggu tersebut “untuk melemahkan kemampuan Iran dalam menyerang pelaut sipil dan kapal komersial yang bebas melintasi selat tersebut”.
Baca Juga : Gelombang Serangan Baru Amerika Hantam 90 Target, Iran Balas Gempur Pangkalan AS di Bahraian dan Kuwait
Stasiun televisi pemerintah Iran, IRIB, mengatakan AS melancarkan serangan udara di pinggiran kota Veysian, di provinsi Lorestan bagian barat, sementara serangan lain menghantam pangkalan militer di Khondab, Iran.
Para pejabat dari Bushehr, di pantai selatan Iran, mengatakan kepada media lokal bahwa pasukan AS menyerang lima kota di provinsi tersebut, termasuk Asaluyeh, Dir, Bushehr, Dashti, dan Tangestan.
Teheran mengatakan bahwa jumlah korban jiwa dan tingkat kerusakan sedang ditinjau.
Iran Nyatakan Kesepakatan Berakhir
Ketua parlemen Iran yang berpengaruh dan negosiator perdamaian utama, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan pada hari Minggu, “Era kesepakatan sepihak telah berakhir.”
“Kami sudah bilang: tepati janji atau bayar harganya. Kenyataan sedang mengetuk pintu,” tulis Ghalibaf di X disertai gambar Pasal 5 MoU, yang berkaitan dengan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Pada hari Rabu, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa gencatan senjata dengan Iran telah berakhir. Pernyataannya tersebut diikuti oleh Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei yang berjanji untuk membalaskan dendam atas pembunuhan ayahnya.
Baca Juga : Trump Tegaskan Gencatan Senjata Telah Berakhir dan Bersumpah Serang Iran Lebih Hebat Rabu Malam
Nota kesepahaman yang rapuh antara AS dan Iran memiliki beberapa celah yang mencolok, sehingga membuka peluang terjadinya eskalasi.
Ketegangan kembali meluas ke Selat Hormuz pada Senin lalu, ketika Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyerang tiga kapal komersial, termasuk sebuah kapal tanker gas alam cair (LNG) Qatar di lepas pantai Oman.
Keesokan harinya, AS melakukan serangan terhadap target militer Iran, dan Teheran membalas dengan serangan rudal dan pesawat tak berawak terhadap pangkalan-pangkalan AS di seluruh Teluk, yang mendorong Trump untuk membatalkan gencatan senjata.
Serangan balasan terus berlanjut. Pada Sabtu malam, IRGC mengumumkan penutupan Selat Hormuz hingga pemberitahuan lebih lanjut setelah menyerang sebuah kapal kontainer yang menggunakan rute yang mereka sebut tidak resmi. Pada hari Minggu, kapal kedua di selat tersebut juga diserang.
Situasi Selat Hormuz Terkini
Iran telah menutup selat tersebut setelah melepaskan tembakan peringatan yang mengenai sebuah kapal yang berlayar di jalur yang tidak disetujui, dan pada hari Minggu mengatakan telah melumpuhkan kapal kedua.
Baca Juga : Perang Baru Amerika – Iran, Perebutan Kontrol Selat Hormuz jadi Sasaran Utama
Selat tersebut akan tetap ditutup hingga “berakhirnya campur tangan AS di wilayah ini,” kata IRGC.
Para pejabat Iran mengatakan kepada media pemerintah bahwa militer AS telah berupaya menciptakan “jalur ilegal” melalui Selat Hormuz, yang menyebabkan ketidakamanan di daerah tersebut.
Jalur air yang sempit namun vital ini — yang disebut-sebut sebagai arteri perdagangan global, yang menampung 20 persen aliran energi — telah menjadi pusat ketegangan antara AS dan Iran sejak kesepakatan awal ditandatangani.
Teheran secara konsisten bersikeras bahwa hanya rute yang disetujui oleh Iran yang boleh dilalui selama transit melalui selat tersebut. Mereka mengatakan bahwa mereka hanya terbuka untuk mengelola selat tersebut dengan Oman, negara pesisir lainnya.
AS dan negara-negara GCC telah menolak klaim Iran atas selat tersebut dan menuntut agar navigasi bebas dari campur tangan atau biaya apa pun.
Pada hari Sabtu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mendarat di Oman, di mana para pemimpin membahas pelayaran dan pengelolaan Selat Hormuz, kata Kementerian Luar Negeri. ***