Internasional

Iran Menyatakan Menang Perang, Trump Hanya Punya Waktu 20 Jam untuk Menyerah

Published

on

Iran Menyatakan Menang Perang, Trump Hanya Punya Waktu 20 Jam untuk Menyerah

Menanggapi rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menggempur fasiltitas listrik dan jembatan, Wakil Menteri Urusan Pemuda Iran akan melibatkan kaum muda membentuk rantai manusia di sekitar pembangkit listrik di seluruh negeri. (Foto : Istimewa)

FAKTUAL INDONESIA: Semakin sesumbar Presiden Amerika Serikat Donald Trump maka makin keras Iran menanggapinya. Trump menyatakan akan menghancurkan Iran dalam satu malam. Maka Iran langsung menjawab, negara itu telah menang dan memberi waktu 20 jam kepada Trump untuk menyerah.

Seperti dilansir laman Iran Iternasional, seorang penasihat Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan Presiden Donald Trump memiliki sekitar 20 jam untuk tunduk kepada Iran atau menghadapi konsekuensi yang menghancurkan bagi sekutu AS.

“Trump sekarang memiliki sekitar 20 jam untuk tunduk kepada Iran atau sekutunya akan kembali ke Zaman Batu,” tulis Mahdi Mohammadi di X.

Baca Juga : Sesumbar Lumpuhkan Iran dalam Satu Malam, Trump Menolak Mengatakan akan Akhiri atau Tingkatkan Serangan

“Iran jelas telah memenangkan perang dan hanya akan menerima akhir yang menstabilkan pencapaiannya dan menciptakan rezim keamanan baru di kawasan itu,” tambahnya. “Kami tidak akan mundur.”

Sementara itu Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei menegaskan, pembunuhan dan kejahatan tidak akan mengganggu angkatan bersenjata Iran saat mereka melawan AS dan Israel.

Advertisement

Dalam pernyataan yang dikeluarkan hari ini untuk menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Kepala Intelijen Iran Seyyed Majid Khademi, yang tewas dalam serangan semalam, Khamenei mengatakan insiden tersebut tidak akan menghalangi Korps Garda Revolusi Islam.

Khamenei menjauh dari sorotan publik sejak pembunuhan ayahnya, Ali Khamenei, dan anggota keluarga lainnya di awal perang. Ia ditunjuk sebagai pengganti ayahnya setelah kematian ayahnya.

Baca Juga : Sesumbar Lumpuhkan Iran dalam Satu Malam, Trump Menolak Mengatakan akan Akhiri atau Tingkatkan Serangan

Bentuk Rantai Manusia

Wakil Menteri Urusan Pemuda Iran mengatakan sebuah acara simbolis nasional akan melibatkan kaum muda membentuk rantai manusia di sekitar pembangkit listrik di seluruh negeri.

Alireza Rahimi mengatakan inisiatif yang berjudul “Rantai Manusia Pemuda Iran untuk Masa Depan yang Cerah” ini bertujuan untuk menunjukkan solidaritas nasional dan mendukung tindakan angkatan bersenjata terhadap apa yang digambarkan oleh para pejabat sebagai agresor.

Advertisement

Ia mengatakan acara tersebut, yang diselenggarakan dengan partisipasi kaum muda di seluruh negeri, juga bertujuan untuk menyampaikan pesan dari pemuda Iran kepada komunitas internasional dan memprotes apa yang disebutnya sebagai “kejahatan perang” oleh Amerika Serikat dan Israel.

Saeed Jalili, anggota Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, mengatakan para kritikus seharusnya membiarkan Presiden AS Donald Trump terus berbicara, dengan alasan bahwa pernyataannya mengungkapkan karakter Washington yang sebenarnya.

Baca Juga : Ancaman Trump Kembali Diejek Iran, Sembrono Mengikuti Arahan Netanyahu Bawa Amerika ke Dalam Neraka

“‘Diam’ bukanlah respons yang tepat terhadap ocehan Trump; biarkan dia berbicara lebih banyak,” tulis Jalili di X. “Tidak ada yang lebih efektif dalam mengungkap sifat asli Amerika Serikat selain ledakan emosi Trump.”

Jalili adalah tokoh garis keras terkemuka dalam politik Iran dan sebelumnya menjabat sebagai kepala negosiator nuklir dan sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi.

Dalam bagian lain kantor berita negara IRNA melaporkan, Iran menolak usulan Amerika untuk gencatan senjata sementara dan menekankan perlunya pengakhiran perang secara permanen.

Advertisement

Iran mengirimkan tanggapannya melalui Pakistan, yang menguraikan tuntutan termasuk diakhirinya konflik di kawasan tersebut, pembuatan protokol jalur aman untuk Selat Hormuz, dan pencabutan sanksi, menurut media tersebut.

Sebelumnya, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan, “Negosiasi sama sekali tidak sesuai dengan ultimatum, kejahatan, atau ancaman untuk melakukan kejahatan perang,” menurut kantor berita semi-resmi Fars.

Baca Juga : Amerika Sukses Selamatkan Kru Jet Tempur, Trump Kembali Omong Besar Ancam Iran Hidup di Neraka

Serangan Terhadap Israel Semakin Intensif

Sementara itu serangan terhadap Israel semakin intensif dengan kelompok Houthi Yaman menargetkan wilayah selatan negara itu dan mengumumkan partisipasi bersama Iran dan Hizbullah Lebanon.

Telah terjadi lebih banyak serangan dan upaya serangan terhadap Israel tengah dan utara, yang menyebabkan banyak kerusakan.

Advertisement

Terutama wilayah utara telah terdampak oleh apa yang digambarkan oleh penduduk setempat sebagai serangan bertubi-tubi tanpa henti, khususnya sejak Hizbullah bergabung dalam perang.

Telah terjadi peningkatan wacana publik dan kritik di Israel seputar kurangnya liputan media ketika wilayah utara diserang dibandingkan dengan wilayah tengah Israel. ***

Exit mobile version