Hukum

Kemunculan Mendadak Mama Yasinta di Jakarta Picu Sorotan, Tim Film Pesta Babi Mengaku Kehilangan Kontak

Published

on

Film dokumenter Pesta Babi jadi viral karena banyak konflik di dalamnya. (Foto : istimewa)

FAKTUAL-INDONESIA : Tokoh perempuan adat Malind, Yasinta Moiwend atau yang akrab disapa Mama Sinta, menjadi sorotan setelah dilaporkan sempat tidak dapat dihubungi usai dijemput menggunakan jet pribadi milik PT Jhonlin Group dari Kampung Wanam, Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, pada 25 Mei 2026.

Beberapa hari kemudian, Mama Yasinta muncul di Jakarta dan mendatangi Polda Metro Jaya pada Jumat (29/5/2026) untuk membuat laporan hukum terkait film dokumenter investigasi Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita.

Staf LBH Papua Merauke, Arnoldus Anda, dalam keterangan tertulis menyebut keberangkatan Mama Yasinta dilakukan secara mendadak dan tidak diketahui oleh pihak keluarga. Ia dijemput dari Wanam dan diterbangkan ke Merauke sebelum melanjutkan perjalanan ke Jakarta.

Menurut Arnoldus, sejak keberangkatannya keluarga tidak lagi dapat berkomunikasi dengan Mama Yasinta hingga akhirnya ia muncul dalam berbagai pemberitaan nasional terkait laporan yang diajukan ke Polda Metro Jaya.

“Keluarga tidak mengetahui keberadaannya dan kehilangan kontak hingga 29 Mei 2026. Kami kemudian mengetahui keberadaan Mama Yasinta melalui media sosial dan pemberitaan terkait laporannya ke Polda Metro Jaya,” ujarnya.

Advertisement

Mama Yasinta diketahui datang ke Polda Metro Jaya didampingi sejumlah kuasa hukum. Namun hingga kini belum ada penjelasan rinci mengenai substansi laporan yang diajukan.

Kemunculan mendadak tersebut turut mendapat perhatian dari Tim Kolaborasi Film Pesta Babi, yang terdiri atas Ekspedisi Indonesia Baru, Watchdoc, Jubi Media, LBH Papua Merauke, Pusaka Bentala Rakyat, dan Greenpeace Indonesia. Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Sabtu (30/5/2026), mereka mengaku belum berhasil berkomunikasi langsung dengan Mama Yasinta sejak video terkait dirinya beredar pada 23 Mei lalu.

Tim Kolaborasi menyatakan masih berupaya membangun komunikasi dengan Mama Yasinta serta berkoordinasi dengan pihak keluarga untuk mengetahui kondisi dan posisinya saat ini.

Mereka juga menegaskan tetap menghormati hak, pilihan, dan sikap politik Mama Yasinta. Menurut mereka, rekam jejak Mama Yasinta sebagai pembela hak-hak masyarakat adat Papua telah ditunjukkan melalui berbagai kegiatan advokasi yang selama ini dijalankannya.

Mama Yasinta sendiri merupakan salah satu tokoh yang tampil dalam film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita. Film tersebut menyoroti isu deforestasi dan dugaan perampasan tanah adat di Papua, serta telah ditonton jutaan kali sejak dirilis melalui kanal Jubi Media.

Advertisement

Sebelumnya, Mama Yasinta hadir dalam peluncuran film tersebut di Jayapura pada Maret 2026 dan aktif menyuarakan penolakan terhadap sejumlah proyek strategis nasional (PSN) di Papua dalam berbagai forum, termasuk di Jakarta.

Dalam pernyataannya, Tim Kolaborasi menilai terdapat pihak-pihak yang merasa terganggu oleh pesan yang disampaikan dalam film dokumenter tersebut. Mereka menduga keberadaan dan posisi Mama Yasinta saat ini tengah dimanfaatkan untuk menyerang kredibilitas film.

Meski demikian, Tim Kolaborasi mengimbau masyarakat untuk tidak menghakimi maupun menyudutkan Mama Yasinta terkait situasi yang berkembang. Mereka juga mengajak publik tetap memberikan perhatian terhadap berbagai persoalan lingkungan, hak masyarakat adat, dan isu kemanusiaan yang terjadi di Papua.

Menurut mereka, dukungan dan perhatian publik tetap diperlukan untuk mendorong penyelesaian berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat di Tanah Papua.***

Advertisement
Exit mobile version