Hukum
Pembunuh Anggota Komunitas Gay di Amerika Tak Pernah Terlacak

Ilustrasi
FAKTUAL-INDONESIA: Pria penyuka sesama jenis atau gay di Amerika Serikat, satu persatu dibunuh seseorang berjulukan The Doodler.
Para korbannya pria gay yang tergabung di komunitas gay San Fancisco.
The Doodler beraksi di tahun 1970-an. Si pelaku berjulukan seperti itu karena dia lebih dulu membuat sketsa korbannya sebelum membunuh.
Dalam kasus ini, seperti diberitakan Reuters, lima pria kulit putih penyuka sesama jenis di komunitas itu diyakini dibunuh antara Januari 1974 hingga Juni 1975.
Semua korban mengalami luka tusukan di dada dan punggung bagian atas. Hasil pemeriksaan menemukan fakta bahwa luka-luka korban berasal dari senjata yang sama. Dua pria lainnya yang diserang pelaku pada Juli 1975, berhasil selamat dan juga diyakini menjadi korban dari pelaku yang sama.
Sebelum melakukan pembunuhan, si pelaku menggambar dulu korbannya.
Polisi pun merilis sketsa tersangka beberapa bulan kemudian setelah kejadian itu. Mereka berulang kali menanyai satu orang. Tapi Doodler tidak pernah tertangkap.
Lebih dari 40 tahun kemudian, Departemen Kepolisian San Francisco semakin yakin dengan ciri-ciri tersangka.
Seorang ahli sketsa polisi, CNN melaporkan, telah memperbarui sketsa The Doodler. Sketsa ini pun terus disebar.
“Kasus ini membuat khawatir komunitas gay di San Francisco (saat itu),” ujar Komandan Greg McEachern pada tahun 2019.
Sebab, ujarnya, ada banyak pertanyaan soal mengapa pria-pria gay yang menjadi target?
Untuk menangkap The Doodler, kepolisian San Francisco menawarkan imbalan US$ 100 ribu (Rp 1,3 miliar) bagi para pemburu The Doodler. Selain mengumumkan imbalan, polisi juga merilis sebuah rekaman audio dari panggilan anonim pada 27 Januari 1974.
Panggilan telepon itu melaporkan temuan jenazah di dekat Ocean Beach di Bay Area. Si penelepon yang enggan menyebut identitasnya, belum pernah diminta keterangan oleh polisi saat itu.
Sebagai upaya membantu perburuan, Kepolisian San Francisco juga merilis sketsa wajah versi terbaru dari pembunuh berantai ini. Sketsa wajah terbaru itu menyesuaikan penampilan pelaku 40 tahun kemudian, dengan wajah lebih tua dari sketsa wajah yang dirilis tahun 1975 silam.
Kepolisian San Francisco menyatakan pihaknya juga ingin berkomunikasi dengan seorang psikiater dari wilayah Bay Area, yang diperkirakan memiliki nama belakang ‘Priest’. Psikiater tersebut diyakini pernah merawat pelaku pada saat itu.
Perburuan baru terhadap pembunuh berantai ‘Doodler’ ini diumumkan setelah penangkapan tersangka kasus pembunuhan, perampokan dan pemerkosaan di California yang sudah sejak lama mengendap. Pelaku yang dijuluki ‘Golden State Killer’ yang ternyata seorang mantan polisi bernama Joseph James DeAngelo (73) itu, ditangkap pada April tahun 2018.
Pelaku berhasil ditemukan berkat analisis bukti DNA di tempat kejadian perkara (TKP) dengan informasi genetik pada situs silsilah komersial, yang berujung temuan keterkaitan keluarga pelaku.
Untuk kasus pembunuh berantai ‘Doodler’, McEachern menyatakan bukti DNA telah diajukan untuk diperiksa dan dianalisis, namun hasilnya belum dirilis.
Hingga hari ini The Doodler masih diburu.***