Connect with us

Hukum

Kasus Pencabulan Mantan Direktur PDAM Solo, Polisi Ungkap Pelaku Lakukan 12 Kali

Avatar

Diterbitkan

pada

TAS pelaku pencabulan anak dibawah umur yang juga mantan Direktur PDAM Solo dihadirkan saat konferensi pers di Mapolresta Solo. (Foto: istimewa)

FAKTUAL-INDONESIA:  Kapolresta Solo, Kombes Pol Ade Safri Simanjuntak mengungkapkan, pelaku pencabulan yang juga mantan Direktur Teknik PDAM Toyo Wening Solo, ternyata sudah melakukan perbuatan itu sebanyak 12 kali terhadap korban. Korban masih dibawah umur dan duduk di bangku SMA.

Kapolresta juga mengatakan jika tersangka, TAS atau Tri Atmojo Sukomulyo (53) adalah teman kecil dari ibu korban. Korban dan keluarganya berdomisili di Tangerang tetapi sering pulang ke Solo.

“Ayah korban sebagai pelapor atas tindak pidana yang terjadi. Untuk tempat kejadian perkara (TKP) ada di beberapa tempat, di mobil milik tersangka dan mobil milik ibu korban serta di spot fasilitas umum yakni kolam renang di sejumlah hotel di Solo,” jelas Kapolresta saat konferensi pers d Mapolresta Solo, Selasa (12/7/2022).

Lebih lanjut Kapolresta mengatakan perbuatan cabul itu bermula saat terjadi komunikasi antara tersangka dengan korban yang masih berusia 16 tahun itu terkait beberapa hal yang terjadi pada korban.

Korban merasa ada gangguan makluk astral dalam tubuhnya. Selain itu dia juga mengalami kendala dalam pembelajaran di sekolah.

Advertisement

“Hal itu disambut oleh tersangka dengan melakukan tipu muslihat bahwa tersangka bisa mengusir roh halus yang ada dalam tubuh korban,” jelasnya lagi.

Tersangka juga menunjukkan file video asusia kepada korban dan dengan tipu muslihat tersangka bisa membantu kendala pembelajaran di sekolah.  Dengan tipu muslihat tersebut, tersangka kemudian melakukan pencabulan terhadap korban di beberapa tempat.

“Korban mengutarakan seluruh hal yang menimpa dirinya kepada guru Bahasa Inggris. Kemudian penyidik berhasil mengungkap fakta peristiwa yang terjadi,” katanya.

Setelah melakukan penyelidikan dan penyidikan, Satreskrim Polresta Solo berhasil menangkap tersangka pada tanggal 4 Juli lalu dan menahan tersangka tanggal 5 Juli di Rutan Polresta Solo.

“Kami juga menyita sejumlah barang bukti yakni pakaian korban, pakaian tersangka baik baju maupun celana termasuk baju renang,” katanya lagi.

Advertisement

Selain itu juga menyita 3 tanaman pohon bidara dalam pot. Pohon bidara ini digunakan untuk melakukan tipu muslihat dengan meminta korban menaruhnya di dalam kamar untuk mengusir roh halus.

Polisi juga menyita Hp sebagai dokumen elektronik untuk mendukung pemenuhan barang bukti atas pasal yang disangkakan. Selain itu juga menyita 1 unit mobil yang diduga digunakan sebagai TKP pencabulan.

“Kami juga melakukan pendampingan psikologis terhadap korban yang mengalami traumatis atas kejadian tersebut,” ujar Kapolresta.

Tersangka dijerat dengan Pasal 82 ayat (1)  UURI Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas UURI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Menjadi Undang-Undang. Dengan ancaman pidana penjara paling singkat 5  tahun dan paling lama 15 tahun dan denda  paling banyak Rp 5 miliar.

Serta Pasal  76 E UURI Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas UURI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Menjadi Undang-Undang.

Advertisement

“Karena saat melakukan pencabulan, tersangka juga melakukan kekerasan dengan mengunci semua akses pintu masuk mobil sehingga korban tidak bisa keluar,”  ungkap Ade.

Sementara itu tersangka TAS yang dihadirkan dalam konferensi pers tersebut hanya bisa tertunduk. Saat ditanya alasan melakukan perbuatan itu, tersangka hanya menjawab lirih minta maaf dan khilaf. ***

Lanjutkan Membaca
Advertisement