Home Hukum Kasus Meninggalnya Mahasiswa UNS, 37 Saksi Telah Diperiksa

Kasus Meninggalnya Mahasiswa UNS, 37 Saksi Telah Diperiksa

oleh Uti Farinzi

 

Kapolresta Solo, Kombes Pol Ade Safri Simanjuntak. (Foto : Istimewa)

FAKTUAL-INDONESIA: Tim Penyidik Polresta Solo, masih terus melakukan penyidikan terhadap kasus meninggalnya mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Gilang Endi Saputra (21) saat mengikuti Diklatsar Menwa beberapa waktu lalu.

Hingga saat ini tim penyidik Polesta Solo sudah memeriksan 37 saksi dalam kasus tersebut. Dalam kasus tersebut polisi sudah menetapkan dua tersangka yakni NFM dan FPJ.

“Sudah ada 37 saksi yang kita lakukan pemeriksaan. Termasuk dua tersangka,” jelas Kapolresta Solo, Kombes Pol Ade Safri Simanjuntak, Senin (15/11/2021).

Selain saksi dari panitia dan peserta Diklatsar, penyidik juga telah memeriksa saksi tambahan lain dari staf Biro Akademik dan Kemahasiswan UNS. Yakni yang membawahi kegiatan seluruh Ormawa di Kampus UNS.

“Dari Biro Akademik dan Kemahasiswan ini kembali kita dalami sekitar pelaksanaan kegiatan Diklatsar Menwa UNS kemarin,” katanya.

Pihak penyidik Polresta Solo juga tengah menyusun rencana rekonstruksi yang bertujuan untuk membangun kembali cerita kejadian dugaan tindak kekerasan yang terjadi secara utuh dari waktu ke waktu.

“Rekonstruksi dilakukan di lokasi kejadian dalam pekan ini. Saat ini, tim penyidik telah memperoleh alat bukti yang dibutuhkan untuk pelaksanaan penyidikan perkara dimaksud,” katanya lagi.

Sementara itu, di tempat terpisah, Rektor UNS Prof Jamal Wiwoho mengatakan saat ini panitia dan peserta Diklatsar Menwa UNS masih ditempatkan di Asrama Mahasiswa UNS. Hal tersebut untuk mempermudah koordinasi karena penyidik Polresta Solo masih melakukan pemeriksaan dengan memanggil mereka sebagai saksi.

“Bisa juga mendampingi mereka untuk kesehatan dan psikologi,” ujarnya.

Disinggung mengenai sampai kapan pembekuan Menwa di UNS,  Jamal mengatakan pihaknya menunggu proses peradilan kasus tersebut selesai.

“Sampai kapan ya kita menunggu prose peradilan kan berjenjang. Misal sekarang di kepolisian nanti ada pelimpahan ke kejaksaan kemudian ke pengadilan. Di pengadilan nanti bisa dilihat semuanya,” kata Jamal.

Jamal juga menegaskan proses hukum telah sesuai dengan KUHAP.  Atas kasus tersebut pihaknya mengatakan hal itu menjadi pembelajaran bagi semuanya, baik masyarakat akademika maupun semuanya.

“Kita tunggu saja,” pungkasnya. ***