Connect with us

Hukum

Kemen PPPA Kecam Pemerkosaan Anak di Duren Sawit, Tersangka Dapat Dijerat dengan Pasal Berlapis

Avatar

Diterbitkan

pada

Foto ilustrasi: Istimewa

FAKTUAL-INDONESIA: Para orang tua harus makin peduli memperhatikan dan memberi nasehat anak-anak mereka yang masih di bawah umur.

Anak-anak misalnya bisa diajarkan bahwa tidak semua orang itu baik. Mereka juga harus diajarkan untuk membedakan sentuhan yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh orang lain kepada mereka, serta diajarkan pula hal yang harus dilakukan bila mendapat perlakuan tersebut

Hal ini penting agar anak-anak mengerti  dan tahu bagaimana menghindar dari kemungkinan  aksi bejat orang jahat.

Tentu kita sedih sekali akan derita yang kini dialami seorang anak usia 12 tahun di Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur.  Anak itu kini dalam kondisi hamil akibat diperkosa seorang pria paruh baya.

Pihak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) mengecam keras pemerkosaan  terhadap seorang anak 12 tahun hingga korban saat ini hamil lima bulan di Duren Sawit.

Advertisement

Asisten Deputi Pelayanan Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus Kemen PPPA Robert Parlindungan Sitinjak dalam keterangannya di Jakarta, Jumat  (11/3/2022) menjelaskan, korban kini telah menjalani visum.

Polres Metro Jakarta Timur telah menahan tersangka dan masih tahap penyidikan melengkapi berkas perkaranya untuk diserahkan ke Kejaksaan.

Kemen PPPA berkoordinasi dengan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Jakarta Timur untuk upaya pendampingan dan pemulihan korban.

Robert menambahkan, selain memastikan kebijakan dan peraturan perlindungan khusus anak, pihaknya juga mendorong agar penegak hukum menerapkan hukuman untuk tersangka sesuai peraturan yang berlaku.

Pihaknya mengatakan, tersangka dapat dijerat dengan pasal berlapis, yaitu Primer Pasal 76 D Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 jo Pasal 81 ayat 1, 2, 3, 6 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Perpu 1 Tahun 2016 tentang Perubahan ke-2 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menjadi Undang Undang.

Advertisement

Kemudian subsidair Pasal 76 E Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 jo Pasal 82 ayat 1, 2, 3, 5 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Perpu 1 Tahun 2016 tentang Perubahan ke-2 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menjadi Undang-undang dengan ancaman hukuman penjara paling singkat lima tahun dan paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp5 miliar serta pidana tambahan pengumuman identitas pelaku setelah terpidana selesai menjalani pidana pokok.

Dalam keseharian-nya, seperti dilansir antaranews.com, tersangka merupakan seorang sopir bajaj. Tersangka diduga mengimingi korban dengan uang sebelum memperkosanya.

Edukasi Seks

Ketua Program Studi Terapan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi,  menekankan pentingnya edukasi seks pada anak untuk mencegah terjadinya kekerasan seksual di kemudian hari.

“Orang tua harus memberikan pendidikan pubertas kepada anak,” kata Rose Mini saat dihubungi di Jakarta, Jumat (14/2).

Advertisement

Pendidikan seks dapat diberikan pada anak-anak sejak anak usia dini, kata dia.

Diawali dengan pengenalan anggota tubuh dan mengajarkan mereka cara membersihkan diri secara mandiri usai buang air. Saat remaja, mereka perlu diajarkan cara menjaga dan membersihkan anggota tubuh yang sensitif.

Mereka juga harus diajarkan untuk membedakan sentuhan yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh orang lain kepada mereka, serta diajarkan pula hal yang harus dilakukan bila mendapat perlakuan tersebut.

“Ajarkan bahwa tidak semua orang baik. Mereka juga harus tahu sentuhan mana yang boleh dan yang tidak boleh,” kata Rose.

Dia mengingatkan bahwa pelaku pelecehan seksual umumnya dilakukan oleh orang yang dikenal oleh korban, di antaranya anggota keluarga dan guru.

Advertisement

Untuk itu, orang tua tidak boleh menganggap pendidikan seks adalah hal yang tabu. Justru dengan memberikan pendidikan seks, anak mengetahui hal yang harus dilakukan bila mereka mendapat perlakuan yang tidak baik.

“Kita ajarkan ke anak-anak kita untuk bisa memberikan tameng pada diri mereka kalau terjadi apa-apa,” pesannya. ***

Lanjutkan Membaca
Advertisement