Home Ekonomi Dikuasai Pemodal Besar, Harga Telor Jadi Ambyar

Dikuasai Pemodal Besar, Harga Telor Jadi Ambyar

oleh Ki Pujo Pandunung

Peternak ayam di Magelang sedang mengumpulkan telor di kandang. (Istimewa)

FAKTUAL-INDONESIA: Ada pepatah Jawa yang berbunyi: “Asu Gede Menang Kerahe”, artinya  kurang lebih “Anjing Besar Menang Bertarungnya”.  Analogi ini mirip dengan kondisi para peternak ayam petelor kelas UMKM.

Beternak ayam petelor dalam skala kecil, biasanya banyak dilakukan oleh masyarakat di pedesaan, sebagai penunjang kehidupan mereka sehari hari.

Sayangnya, nasib mereka kini sedang dalam posisi tergencet. Lantaran harus bersaing dengan pabrik pakan bermodal jumbo, yang tidak hanya menguasai usaha per “ayam”-an dari hulu sampai hilir.

Namun, sejak dari penyediaan bibit (DOC), pakan (konsentrat), vitamin/obat2an, mereka ikut menguasai. Bahkan mereka ikut membudi dayakan atau beternak ayam petelur.

Dengan modal yang sangat besar bahkan tanpa batas, mereka dapat menyiapkan kandang lebih modern dengan kebutuhan tenaga dan lain-lain yang sangat efisien, sehingga biaya produksi benar-benar bisa ditekan serendah mungkin.

“Akibatnya jelas, mereka dapat menjual telor dengan harga semurah murahnya, bahkan jika dijual rugi tipis-tipis pun, bagi mereka tidak masalah. Tapi bagi peternak ayam petelur kelas UMKM, iklim ini sangat merugikan dan bisa membunuh penghidupan kami. Harga telor di tingkat peternak ambyar gara-gara ulah pemodal besar ,” tutur peternak kelas gurem di Magelang, Jateng, Nur Hadi Amiyanto, Kamis (28/10/2021).

Mengapa para pemodal besar bisa menjual telor dengan harga murah? Menurut Nur Hadi, karena dari penjualan DOC, pakan, vitamin/obat2an saja, mereka sudah mengeduk  untung sangat besar.

Terkait munculnya para pemain besar (integrator) yang menggencet para peternak gurem tadi, papar Nur Hadi, hendaknya pemerintah bisa turun tangan.

Jangan sampai pemerintah sebagai pemegang regulator hanya berorientasi pada banyaknya investasi yang masuk. Akan tetapi tidak memikirkan dampaknya pada peternak sebagai pelaku usaha kecil yang ada.

Di Kabupaten Magelang saat ini, jelas Nur Hadi, terdapat lebih dari 200 petenak ayam petelor. Para peternak itu menampung tenaga kerja sekitar 3.000 orang.

Lantas bagaimana nasib para peternak gurem, jika pemerintah tidak segera turun tangan, mencarikan solusinya? Tentu semua akan pontang panting melawan kompetisi alami ini.

Kondisi ini, lanjut Nur Hadi, diperparah dengan masa pandemi dan PPKM yang sangat panjang. Selain itu, juga harus diakui bahwa daya beli masyarakat yang menurun, membuat satu demi satu peternak harus bertumbangan.

“Memang ada yang mencoba bertahan, tapi sampai kapan mereka bisa kuat?” ucap Nur Hadi.

Diakuinya, ke depan atau bahkan saat ini sudah dimulai, bakal semakin banyak alih profesi dari alumni peternak ayam petelor ke peluang “usaha yang lain”. Dengan demikian mau tidak mau sektor “usaha yang lain” akan tambah pesaing, atau kalau pikiran eks peternak “stuck”, akan nambah angka pengangguran, selanjutnya pasti terjadi kerawanan sosial, sebagai efek domino.

“Itulah realita yang dihadapi semua peternak gurem saat ini. Ternyata pepatah ‘asu gede menang kerahe’ memang benar adanya,” pungkas Nur Hadi.***

Tinggalkan Komentar