Ekonomi
Imbas BBM Naik, Inflasi Diperkirakan Tembus 7 Persen

Inflasi Diperkirakan Tembus 7 Persen Imbas BBM Naik (Foto: Istimewa)
FAKTUAL-INDONESIA: Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi sudah resmi naik pada Sabtu kemarin (3/9/2022). Keputusan ini diperkirakan akan menyulut inflasi sekitar 7 – 7,5 persen hingga akhir tahun 2022.
Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menyebut menaikkan harga BBM itu pilihan terakhir yang berat dan sulit. Keputusan menaikkan BBM itu karena anggaran subsidi dan kompensasi BBM pada tahun 2022 telah meningkat tiga kali lipat dari Rp152,5 triliun menjadi Rp502,4 triliun.
Pemerintah, menurut Presiden Jokowi, telah berupaya sekuat tenaga untuk melindungi rakyat dari gejolak harga minyak dunia.
“Saya sebetulnya ingin harga BBM di dalam negeri tetap terjangkau dengan memberikan subsidi dari APBN. Akan tetapi, anggaran subsidi dan kompensasi BBM pada tahun 2022 telah meningkat tiga kali lipat dari Rp152,5 triliun menjadi Rp502,4 triliun,” kata Presiden Jokowi dalam konferensi pers di Istana Merdeka Jakarta, Sabtu (3/9/2022).
Baca juga: BBM Naik Lagi, Jokowi Nyatakan Pilihan Terakhir yang Sulit dan Berat
Mulai Sabtu kemarin, harga BBM bersubsidi jenis Pertalite naik dari Rp7.650 per liter menjadi Rp10.000 per liter, sementara harga Solar subsidi menjadi Rp6.800 per liter dari sebelumnya Rp5.150 per liter.
Sedangkan harga BBM jenis Pertamax juga mengalami kenaikan harga menjadi Rp14.500 per liter dari sebelumnya Rp12.500 per liter.
Sementara itu, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, kenaikan harga BBM subsidi dilakukan diwaktu yang tidak tepat. Ia menilai bahwa masyarakat belum siap menghadapi kenaikan harga tersebut.
Hal ini menyebabkan timbulnya ancaman stagflasi, yakni naiknya inflasi yang signifikan, yang tidak dibarengi dengan kesempatan kerja.
Baca juga: BBM Bersubsidi Jangan Naik Tahun Ini, Bisa Menyulut Inflasi
“Untuk inflasi pangan diperkirakan akan kembali menyentuh dobel digit atau diatas 10 persen per tahun pada September ini. Sementara inflasi umum diperkirakan menembus di level 7 persen hingga 7,5 persen hingga akhir tahun,” kata Bhima sebagaimana dikutip idxchanel, Senin (5/9/2022).
Bhima menjelaskan, kenaikan harga BBM bersubdsidi ini bukan hanya sekadar berdampak pada harga energi dan biaya transportasi kndaraan pribadi, namun akan berdampak ke hampir semua sektor.
Secara singkat, BBM merupakan kebutuhan dasar, yang pada saat mengalami kenaikan harga, maka pengusaha di sektor industri pakaian jadi, makanan minuman, hingga logistik akan terdampak.
Semisal, harga pengiriman bahan pangan naik. Disaat yang bersamaan pelaku sektor pertanian mengeluh biaya input produksi yang mahal, terutama pupuk.
Menurutnya, masyarakat baik yang memiliki kendaraan pribadi maupun yang tidak memiliki kendaraan akan secara bersamaan mengurangi konsumsi barang-barang lainnya.
Baca juga: BBM Naik, Hotel Makin Tertekan karena Tak Mudah Naikkan Tarif
“Sekarang realistis saja, biaya produksi naik, biaya operasional naik, permintaan turun ya harus potong biaya-biaya. Ekspansi sektor usaha bisa macet, nanti efeknya ke PMI manufaktur kontraksi kembali dibawah 50,” pungkasnya.
Di samping itu, dampak kenaikan harga BBM yang diikuti dengan rentetan inflasi dan potensi kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia diprediksi bakal memperlambat pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV 2022. Meski, melihat pertumbuhan ekonomi masih berkisar 5 persen.
Adapun untuk 2023, diprediksi pertumbuhan ekonomi prediksi cenderung melambat di kisaran 4,8 persen hingga 4,9 persen.***