Ekonomi

Rupiah Menguat ke Bawah Rp 17.500 per Dolar AS, BI Soroti Dampak Konflik Timur Tengah

Published

on

Rupiah sedikit menguat pada Rabu, 13 Mei 2026. (Foto : istimewa)

FAKTUAL-INDONESIA : Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Rabu siang (13/5/2026) dan kembali bergerak di bawah level Rp 17.500 per dolar AS setelah sebelumnya sempat mengalami tekanan.

Berdasarkan data perdagangan pasar spot, rupiah tercatat menguat 31 poin atau sekitar 0,18 persen ke posisi Rp 17.497 per dolar AS pada pukul 12.20 WIB. Pada sesi perdagangan pagi, mata uang Garuda sempat melemah hingga menyentuh level Rp 17.539 per dolar AS.

Bank Indonesia (BI) menilai pergerakan rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor global, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan konflik tersebut telah memicu lonjakan harga minyak dunia dan mendorong penguatan dolar AS terhadap berbagai mata uang dunia.

Menurutnya, sejak konflik memanas pada akhir Februari 2026, harga minyak dunia telah naik lebih dari 40 persen. Kenaikan harga energi itu kemudian memberikan tekanan terhadap nilai tukar sejumlah negara berkembang, termasuk Indonesia.

Advertisement

Selain faktor geopolitik, BI juga menyoroti kenaikan suku bunga dan imbal hasil obligasi pemerintah AS sebagai faktor utama penguatan dolar. Yield US Treasury tenor 10 tahun disebut mendekati 4,5 persen, naik dibandingkan posisi akhir Februari yang berada di kisaran 4 persen.

Kondisi tersebut membuat mayoritas mata uang di kawasan Asia dan negara berkembang ikut tertekan. Tidak hanya rupiah, mata uang seperti baht Thailand, peso Filipina, rupee India, hingga won Korea Selatan juga mengalami pelemahan terhadap dolar AS.

Dari sisi domestik, meningkatnya kebutuhan dolar AS turut dipicu musim repatriasi dividen perusahaan, pembayaran utang luar negeri, serta kebutuhan valuta asing menjelang musim haji.

Meski demikian, Bank Indonesia tetap optimistis tekanan terhadap rupiah bersifat sementara dan stabilitas nilai tukar masih dapat dijaga melalui berbagai langkah kebijakan moneter dan stabilisasi pasar keuangan.***

Advertisement
Exit mobile version