Ekonomi

Pengusaha Nasional Siap Ikut Business Summit di AS, ART RI–AS Tunggu Penandatanganan Pekan Depan

Published

on

Shinta Kamdani bakal ikut Prabowo ke AS. (Foto : istimewa)

FAKTUAL-INDONESIA : Pemerintah mematangkan langkah menjelang penandatanganan kerja sama perdagangan resiprokal (Agreements on Reciprocal Trade/ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) yang dijadwalkan berlangsung pekan depan. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menggelar pertemuan tertutup dengan sejumlah pengusaha nasional di Gedung Ali Wardhana, Jakarta Pusat, Kamis (12/2/2026).

Pertemuan tersebut membahas kesiapan dunia usaha menghadapi implementasi kesepakatan tarif yang akan diteken dalam kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Washington D.C. pada 19 Februari mendatang.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani mengatakan kalangan pelaku usaha akan turut hadir dalam agenda business summit yang digelar bertepatan dengan kunjungan kenegaraan tersebut.

“Tadi itu persiapan untuk Amerika. Kita kan minggu depan akan ada acara di Amerika, di Washington D.C., dalam rangka Presiden juga nanti akan ke sana, kita akan buat business summit di sana,” ujar Shinta usai pertemuan.

Ia menyebut sekitar 20 pengusaha dan perwakilan asosiasi industri telah menyatakan kesiapan untuk berangkat, dan jumlah tersebut masih berpotensi bertambah. Peserta berasal dari berbagai sektor yang memiliki keterkaitan langsung dengan struktur perdagangan Indonesia–AS, baik dari sisi impor maupun ekspor.

Advertisement

Komoditas yang dibahas antara lain kedelai, gandum, jagung, serta kapas yang selama ini diimpor dari AS. Di sisi lain, sektor tekstil dan produk tekstil (TPT), alas kaki, furnitur, serta industri kelapa sawit juga termasuk dalam daftar pelaku usaha yang berkepentingan terhadap isi perjanjian.

“Pasti yang ada kepentingan sama Amerika ya, komoditas-komoditas yang kita impor karena kita kan mau beli lebih banyak dari Amerika. Seperti kedelai, terigu, kemudian jagung dan lain-lain, cotton, kapas,” kata Shinta.

Meski demikian, ia enggan memerinci substansi pembahasan maupun detail klausul perjanjian. Menurutnya, keterbukaan informasi yang terlalu dini berpotensi mengganggu proses diplomasi dagang yang masih berjalan.

“Jangan sampai nanti informasi kita buka kemudian malah menjadi blunder. Karena Amerika tidak suka kalau ada informasi yang disampaikan mendahului daripada pihak Amerika,” ujarnya.

Sementara itu, Airlangga sebelumnya menyampaikan bahwa negosiasi tarif telah menghasilkan penurunan signifikan dari posisi awal 32 persen menjadi 19 persen. “Kan kita sudah turun dari (tarif) 32% ke 19%, kemudian ada hal-hal lain yang juga akan kita tunggu sampai semuanya 100% selesai,” kata Airlangga di Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (11/2/2026).

Advertisement

Pemerintah berharap kesepakatan ART ini dapat memperkuat akses pasar sekaligus memberi kepastian bagi pelaku usaha, khususnya sektor padat karya yang bergantung pada ekspor ke pasar Amerika Serikat.***

 

Exit mobile version