Ekonomi

Menkeu Optimistis Harga Pertamax Turun Seiring Meredanya Ketegangan Global

Published

on

Menkeu Purbaya yakin harga Pertamax akan kembali turun.(Foto : istimewa)

FAKTUAL-INDONESIA : Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi, termasuk Pertamax dan Pertamax Green 95 yang harganya naik mulai 10 Juni 2026, berpeluang turun dalam waktu mendatang seiring meredanya ketegangan geopolitik global dan potensi penurunan harga minyak dunia.

Pernyataan tersebut disampaikan Purbaya dalam rapat kerja bersama Komite IV DPD RI, secara daring pada Senin (22/6/2026). Menurutnya, kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi mengurangi tekanan di pasar energi global yang selama beberapa bulan terakhir mendorong kenaikan harga minyak mentah.

“Saya yakin dengan potensi menurunnya harga minyak dunia, harga Pertamax dan lain-lain pun akan turun sehingga pondasi pertumbuhan ekonomi kita akan semakin kuat,” ujar dia.

Ia mengakui lonjakan harga minyak dunia menjadi salah satu tantangan utama yang dihadapi Indonesia sepanjang tahun ini. Kondisi tersebut memaksa pemerintah dan pelaku usaha melakukan berbagai langkah mitigasi, termasuk penyesuaian harga BBM non-subsidi.

Menurutnya, situasi global yang mulai membaik memberikan harapan baru bagi perekonomian nasional. Ia menilai Indonesia telah berhasil melewati masa-masa sulit akibat tingginya ketidakpastian global yang dipicu konflik geopolitik dan gejolak pasar energi.

Advertisement

“Kalau dilihat dari data yang sekarang, sepertinya kita sudah melewati masa ujian itu. Ke depan, tinggal memperbaiki pondasi yang sudah ada supaya kita bisa tumbuh lebih optimal,” katanya.

Optimisme tersebut didukung sejumlah indikator ekonomi yang menunjukkan kinerja positif. Purbaya memaparkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 mencapai 5,61 persen, sementara inflasi tetap terkendali di level 3,08 persen. Selain itu, neraca perdagangan mencatat surplus selama tujuh bulan berturut-turut hingga April 2026.

Di sektor keuangan, cadangan devisa Indonesia dinilai tetap kuat setara 5,6 bulan impor. Sementara itu, kredit perbankan nasional tumbuh 11,51 persen secara tahunan pada Mei 2026, yang menurutnya mencerminkan aktivitas ekonomi riil masih berlangsung dengan baik.

Dia juga menyoroti sejumlah indikator domestik yang menunjukkan peningkatan, seperti konsumsi masyarakat, penjualan listrik, serta penjualan kendaraan bermotor pasca-Lebaran. Penjualan mobil tercatat meningkat sekitar 55 persen, sedangkan penjualan sepeda motor tumbuh 28,1 persen.

Meski mengakui kondisi ekonomi global belum sepenuhnya ideal, Purbaya menilai berbagai langkah kebijakan yang ditempuh pemerintah berhasil menjaga stabilitas ekonomi nasional. Dengan prospek harga energi yang lebih rendah dan meredanya ketegangan geopolitik, pemerintah berharap momentum pertumbuhan ekonomi dapat terus berlanjut pada paruh kedua 2026.***

Advertisement

Exit mobile version