Ekonomi

Laporan JP Morgan: Ketahanan Energi Indonesia di Atas AS dan China

Published

on

Menko Airlangga sebut ketahahan energi Indonesia kuat menurut JP Morgan. (Foto : istimewa)

FAKTUAL-INDONESIA : Pemerintah terus memperkuat strategi ketahanan energi nasional dengan menitikberatkan pada diversifikasi sumber pasokan serta jalur logistik energi guna mengantisipasi risiko geopolitik global.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan,”Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas pasokan energi di tengah ketidakpastian global”.

Ke depan, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian akan terus mengoordinasikan kebijakan energi dan fiskal secara terintegrasi. Upaya tersebut ditujukan untuk mempertahankan momentum ketahanan energi nasional sekaligus memastikan manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat dan pelaku usaha.

Sementara itu, laporan dari JP Morgan Asset Management memberikan gambaran komprehensif mengenai posisi ketahanan energi Indonesia di tingkat global. Studi tersebut mencakup analisis terhadap 52 negara yang merepresentasikan sekitar 82 persen konsumsi energi dunia.

Dalam laporan itu digunakan indikator total insulation factor, yaitu ukuran komposit yang mencerminkan kemampuan suatu negara dalam memenuhi kebutuhan energinya dari produksi domestik. Indikator ini mencakup kontribusi berbagai sumber energi seperti gas, batu bara, energi nuklir, serta energi terbarukan dibandingkan dengan total konsumsi energi final.

Advertisement

Indonesia tercatat memiliki insulation factor sebesar 77 persen. Angka ini menempatkan Indonesia sedikit di bawah Afrika Selatan yang mencapai 79 persen, namun masih berada di atas Tiongkok sebesar 76 persen dan Amerika Serikat yang berada di level 70 persen.

Ketahanan energi Indonesia terutama ditopang oleh produksi batu bara domestik yang berkontribusi sekitar 48 persen terhadap konsumsi energi akhir nasional. Selain itu, gas bumi menyumbang sekitar 22 persen, sementara energi terbarukan berkontribusi sekitar 7 persen.

Dalam kajian tersebut, Indonesia juga dikelompokkan bersama sejumlah negara berkembang seperti China, India, Afrika Selatan, Vietnam, dan Filipina yang dinilai memperoleh manfaat signifikan dari ketersediaan batu bara domestik, terutama selama periode gejolak energi global.

Selain faktor produksi domestik, Indonesia juga dinilai memiliki tingkat kerentanan yang rendah terhadap gangguan jalur distribusi energi internasional. Hal ini tercermin dari minimnya ketergantungan terhadap impor energi melalui jalur strategis seperti Selat Hormuz.

Tercatat, impor minyak dan gas Indonesia melalui Selat Hormuz hanya sekitar 1 persen dari total konsumsi energi primer nasional. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan, seperti Korea Selatan yang mencapai 33 persen, Taiwan dan Thailand masing-masing sekitar 27 persen, serta Singapura sebesar 26 persen.

Advertisement

Sebaliknya, sejumlah negara maju seperti Italia, Jepang, Korea Selatan, Singapura, dan Belanda dinilai lebih rentan terhadap gangguan pasokan energi global akibat tingginya ketergantungan pada impor energi.

Dengan kondisi tersebut, Indonesia dinilai memiliki fondasi yang relatif kuat dalam menjaga ketahanan energi, meskipun tetap perlu meningkatkan diversifikasi sumber energi dan mempercepat pengembangan energi terbarukan untuk menghadapi tantangan jangka panjang.***

Exit mobile version