Ekonomi
Industri Plastik Tertekan, Inaplas Pastikan Belum Ada PHK

Pengusaha plastik akui tertekan tapi pastikan belum ada PHK. (Foto : istimewa)
FAKTUAL-INDONESIA : Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) mengungkapkan bahwa sektor industri plastik tengah menghadapi tekanan, bahkan sejak sebelum meningkatnya konflik geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel pada awal 2026. Meski demikian, pelaku industri memastikan belum terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) di kalangan anggotanya.
Ketua Umum Inaplas, Suhat Miyarso, menyatakan hingga saat ini tidak ada laporan dari perusahaan anggota terkait kebijakan PHK. Ia menegaskan bahwa asosiasi juga belum pernah menyampaikan adanya PHK kepada pemerintah.
Menurut Suhat, kondisi ini menunjukkan bahwa industri plastik masih mampu bertahan di tengah tekanan yang ada, setidaknya dalam jangka pendek.
Hal senada disampaikan Wakil Ketua Umum Inaplas, Edi Rivai. Ia menyebut dalam satu dekade terakhir, kasus PHK di sektor petrokimia dan industri pengolahan plastik tergolong sangat jarang terjadi. Hal ini didukung oleh basis pelanggan yang relatif luas, sehingga mampu menjaga keberlangsungan usaha.
Namun, Edi tidak menutup kemungkinan tekanan berkepanjangan dapat berdampak pada sektor hilir. Risiko tersebut bisa muncul apabila pasokan bahan baku terganggu atau aktivitas produksi menurun secara signifikan.
Meski demikian, ia optimistis kondisi tersebut tidak akan berujung pada gelombang PHK dalam waktu dekat. Industri diharapkan masih dapat menjaga stabilitas operasionalnya.
Di tengah situasi tersebut, Inaplas mendorong pemerintah untuk mengambil langkah strategis guna memperkuat daya tahan industri dalam negeri. Salah satunya melalui penambahan insentif fiskal untuk mendukung investasi, terutama proyek-proyek berskala besar yang membutuhkan waktu pembangunan panjang.
Selain itu, kebijakan energi industri yang menjamin ketersediaan bahan baku dinilai menjadi faktor krusial dalam menjaga keberlanjutan sektor ini.***