Ekonomi
BI Perkuat Intervensi Moneter Jaga Rupiah di Tengah Tekanan Global

Deputy Gubernur Senior Destry Damayanti. (Foto : istimewa)
FAKTUAL-INDONESIA : Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dengan mengoptimalkan seluruh instrumen operasi moneter di tengah pelemahan yang menembus level Rp17.000 per dolar AS. Langkah ini diambil sebagai respons atas meningkatnya ketidakpastian global, terutama akibat konflik di Timur Tengah.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menyatakan bahwa stabilitas saat ini menjadi prioritas utama bank sentral. “Di tengah ketidakpastian global yang sangat tinggi, maka saat ini stabilitas menjadi prioritas bagi Bank Indonesia,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa.
Destry menjelaskan, BI secara konsisten melakukan intervensi di berbagai segmen pasar keuangan. Intervensi tersebut mencakup pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore. Strategi ini dilakukan secara terukur guna meredam volatilitas nilai tukar.
Menurutnya, dampak konflik Timur Tengah terhadap perekonomian Indonesia bersifat dua arah. Di satu sisi, tekanan terhadap rupiah meningkat akibat ketidakpastian global. Namun di sisi lain, kenaikan harga komoditas justru berpotensi memberikan keuntungan bagi Indonesia sebagai negara eksportir, sehingga dapat menjadi penyeimbang tekanan tersebut.
Pada penutupan perdagangan Selasa, nilai tukar rupiah tercatat melemah 70 poin atau 0,41 persen ke posisi Rp17.105 per dolar AS, dibandingkan sebelumnya Rp16.980 per dolar AS. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga melemah ke level Rp17.092 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.037 per dolar AS.
Mengantisipasi dinamika global, BI sebelumnya telah menyiapkan kalibrasi kebijakan intervensi berdasarkan tiga skenario dampak konflik, yakni jika harga minyak dunia berada pada level rendah, menengah, dan tinggi.
Gubernur BI Perry Warjiyo menambahkan bahwa penguatan kebijakan moneter juga didukung oleh kecukupan cadangan devisa dan kebijakan suku bunga. “Kami terus mengoptimalkan tiga instrumen intervensi moneter dengan dukungan cadangan devisa yang memadai serta diperkuat kebijakan suku bunga,” ujarnya.
Selain itu, BI memandang pentingnya memperkuat kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) untuk menjaga stabilitas eksternal. Data terbaru menunjukkan Neraca Perdagangan Indonesia pada Februari 2026 mencatat surplus 1,27 miliar dolar AS, meningkat dari Januari sebesar 0,95 miliar dolar AS.
Sementara itu, cadangan devisa Indonesia pada akhir Februari 2026 tetap kuat di level 151,9 miliar dolar AS, setara pembiayaan 6,1 bulan impor atau 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Posisi ini dinilai berada jauh di atas standar kecukupan internasional dan menjadi bantalan penting dalam menjaga stabilitas rupiah.***