Ekonomi

Tingkatkan Kualitas Pelindungan dan Kapasitas Pekerja Migran, Menteri Mukhtarudin Gandeng Pensiunan BNP2TKI-BP2MI

Published

on

Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin menerima audiensi Pensiunan Pegawai BNP2TKI/BP2MI/KP2MI di Jakarta, Senin (31/8/2026). (Foto: Kementerian P2MI)

FAKTUAL INDONESIA: Demi memperkuat tata kelola pelindungan serta peningkatan kompetensi Pekerja Migran Indonesia, Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin membuka ruang kolaborasi dengan para pensiunan pegawai BNP2TKI, BP2MI, dan Kementerian P2MI.

Menteri Mukhtarudin mengemukakan hal itu saat menerima audiensi dan silaturahmi Paguyuban Pensiunan Pegawai BNP2TKI/BP2MI/KP2MI di Kantor Kementerian P2MI, Jakarta, Senin (31/8/2026).

Mukhtarudin mengatakan, pengalaman para pensiunan pegawai merupakan aset penting yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kelembagaan Kementerian P2MI yang relatif baru.

“Kami ingin mendapatkan masukan, saran, dan dorongan-dorongan penguatan dari sisi kelembagaan. Karena kami-kami ini baru semua di kementerian ini,” kata Mukhtarudin.

Menurut  Mukhtarudin, pemerintah saat ini tengah memperkuat transformasi tata kelola Pekerja Migran Indonesia sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, terutama dalam memastikan pelindungan diberikan secara menyeluruh sejak sebelum keberangkatan, selama bekerja di luar negeri, hingga setelah kembali ke tanah air.

“Fokus yang pertama adalah peningkatan kualitas pelindungan bagi pekerja migran Indonesia dari sebelum penempatan, ketika penempatan, dan purna penempatan. Jadi perlindungan mulai dari hulu sampai hilir,” ujarnya.

Advertisement

Dorong Pekerja Migran Naik Kelas

Selain aspek pelindungan, Mukhtarudin menegaskan pemerintah juga mendorong peningkatan kapasitas Pekerja Migran agar tidak lagi didominasi pekerja dengan keterampilan rendah (lower-skilled), tetapi semakin banyak mengisi pasar kerja medium-skilled hingga high-skilled.

Menurutnya, peluang kerja global saat ini semakin terbuka, termasuk di sektor formal dan profesional. Penempatan Pekerja Migran telah berkembang ke sejumlah negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara Eropa.

Bahkan, kata Mukhtarudin, sudah terdapat Pekerja Migran yang bekerja di sektor strategis seperti industri aerospace dan industri pertahanan Korea Selatan, selain bidang engineering dan manufaktur.

“Ke depannya kita lebih memfokuskan kepada penempatan formal dan profesional, khususnya yang skilled workers, khususnya yang medium dan high-skilled,” imbuhnya.

Advertisement

Karena itu, pemerintah kini membangun sistem penyiapan Pekerja Migran yang dimulai dari kebutuhan pasar kerja di negara tujuan. Kebutuhan tersebut kemudian diterjemahkan menjadi kebutuhan sektor dan kompetensi sebelum menentukan jenis pelatihan yang diberikan.

“Jadi, latih, kompeten, tempatkan. Sehingga yang dilatih ini insyaallah mayoritas semuanya akan siap untuk bekerja di luar negeri sesuai kompetensi yang dibutuhkan,” jelas Mukhtarudin.

SMK Go Global Jadi Program Prioritas

Dalam kesempatan tersebut, Mukhtarudin juga memaparkan Program SMK Go Global yang menjadi salah satu program prioritas nasional Kementerian P2MI periode 2026–2029.

Program tersebut merupakan tindak lanjut arahan Presiden pada Sidang Kabinet 20 Oktober 2025 untuk menyiapkan 500.000 tenaga kerja, khususnya untuk sektor welder dan hospitality, sekaligus membuka akses lulusan pendidikan vokasi ke pasar kerja global.

Advertisement

Target penempatan melalui program tersebut dilakukan secara bertahap, yakni 40.000 orang pada 2026, 140.000 pada 2027, 180.000 pada 2028, dan 140.000 pada 2029.

“Ini semuanya skilled worker. Jadi mulai dari hulu sampai hilir. Mulai peningkatan kapasitasnya, kemudian penempatannya, sampai perlindungannya semuanya dalam satu lembaga, yaitu di Kementerian P2MI,” beber Mukhtarudin.

Untuk 2026, program tersebut telah memasuki tahap pelatihan Batch 1 dengan sekitar 3.340 peserta di 20 wilayah BP3MI.

Mukhtarudin menjelaskan, skema SMK Go Global dirancang berbeda karena proses penyiapan tenaga kerja dimulai dari kebutuhan nyata pasar kerja luar negeri.

“Jadi ada Job Order-nya dulu, sektornya apa, kompetensinya apa, baru kita latih seperti apa. Kita balik dari hulunya dulu baru ke hilirnya,” ujarnya.

Advertisement

Dengan pola tersebut, pelatihan diharapkan tidak berhenti pada peningkatan keterampilan, tetapi benar-benar menghasilkan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan pengguna di negara tujuan.

Manfaatkan Ekosistem Vokasi

Kementerian P2MI juga tidak membangun lembaga pelatihan baru secara khusus. Pemerintah memilih mengoptimalkan infrastruktur dan sumber daya yang telah dimiliki berbagai kementerian/lembaga serta perguruan tinggi.

Saat ini, Kementerian P2MI bekerja sama dengan 12 kementerian/lembaga yang memiliki ekosistem pendidikan dan vokasi. Kolaborasi tersebut mencakup ratusan lembaga vokasi dengan kapasitas pelatihan yang besar.

Di sisi lain, Kementerian P2MI juga mengembangkan Migrant Center sebagai pusat layanan informasi, edukasi, pembekalan, dan pengembangan kompetensi talenta global di perguruan tinggi.

Advertisement

Hingga kini, Migrant Center telah hadir di 32 perguruan tinggi dan satu lembaga pelatihan.

“Ekosistem hulunya kita memang memanfaatkan sumber daya yang ada. Karena mereka sudah siap infrastruktur, siap sumber daya. Jadi tinggal kita menyinergikan saja,” kata Mukhtarudin.

Selain penyiapan dan penempatan, Kementerian P2MI juga terus memperkuat pelindungan Pekerja Migran termasuk pencegahan keberangkatan ilegal, penanganan pengaduan, perlindungan dari ancaman siber, serta penyediaan layanan darurat melalui shelter.

Hingga 29 Agustus 2026, Kementerian P2MI telah memfasilitasi 243.816 layanan penempatan PMI ke berbagai negara tujuan. Sementara program pemberdayaan Pekerja Migran dan purna juga terus dikembangkan, termasuk melalui Desa Migran Emas yang telah ditetapkan di 756 desa pada 27 provinsi.

Pensiunan Jadi Mitra Strategis

Advertisement

Pertemuan tersebut menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi sekaligus menyerap masukan dari para senior yang memiliki pengalaman panjang dalam penyelenggaraan penempatan dan pelindungan Pekerja Migran Indonesia.

Hadir dalam audiensi tersebut Ketua Paguyuban Pensiunan Pegawai BNP2TKI/BP2MI/KP2MI yang juga mantan Deputi Penempatan, Agusdin Subiantoro, Wakil Ketua yang merupakan mantan Deputi Pelindungan, Anjar Prihantoro, Wakil Ketua yang juga mantan Deputi Penempatan, Teguh Hendro Cahyono, serta Sekretaris yang merupakan mantan Kepala Biro Perencanaan, Yunafri Agus.

Ketua Paguyuban Pensiunan Pegawai BNP2TKI/BP2MI/Kementerian P2MI, Agusdin Subiantoro, mengaku tersanjung dengan sambutan yang diberikan Menteri P2MI Mukhtarudin.

“Saya sangat tersanjung Bapak menghadirkan seluruh eselon I. Semoga ini bisa menjadi awal baru bagi kita. Saya sudah sembilan tahun pensiun,” kata Agusdin.

Menurut mantan Deputi Penempatan tersebut, para pensiunan memiliki pengalaman panjang yang dapat menjadi referensi bagi penguatan pelaksanaan program Kementerian P2MI di lapangan.

Advertisement

Ia mengatakan paguyuban siap menyediakan diri untuk mendukung program Kementerian P2MI, termasuk membantu pelaksanaan program di daerah melalui peran mentor, memperkuat gerakan migrasi aman, serta melakukan transfer pengetahuan kepada generasi baru.

“Pengalaman yang kami miliki mudah-mudahan bisa dijadikan acuan. Kami siap mendukung program P2MI, penguatan pelaksanaan di lapangan sebagai mentor, migrasi aman, dan transfer pengetahuan,” ujarnya.

Soroti Migrasi Ilegal hingga TPPO

Dalam audiensi tersebut, Agusdin juga menyampaikan sejumlah isu yang menurutnya perlu menjadi perhatian serius Kementerian P2MI.

Pertama, masih maraknya keberangkatan Pekerja Migran secara ilegal atau nonprosedural. Menurut dia, langkah Kementerian P2MI melalui Gerakan Nasional Migran Aman merupakan kebijakan yang tepat untuk memperkuat edukasi dan pencegahan sejak tingkat masyarakat.

Advertisement

“Kita melihat masih maraknya ilegal. Ini benar sekali Bapak lakukan Gerakan Nasional Migran Migram Aman ini,” tuturnya.

Untuk itu, Agusdin menegaskan, paguyuban tidak ingin berhenti sebagai wadah silaturahmi para pensiunan. Para mantan pegawai yang memiliki pengalaman dalam bidang penempatan maupun pelindungan Pekerja Migran siap dilibatkan sebagai mitra strategis pemerintah.

“Transfer pengetahuan, dapat dilakukan melalui berbagai media dan mekanisme, tetapi idealnya dilakukan secara terjadwal sehingga berbagai persoalan aktual dapat dibahas dan menjadi masukan bagi Kementerian P2MI,” cetus Agusdin.

Gagasan tersebut sejalan dengan harapan Mukhtarudin agar para senior dapat memberikan masukan, pengalaman, dan jejaring untuk memperkuat kelembagaan serta program Kementerian P2MI.

Mukhtarudin menilai, kontribusi para senior tidak harus berhenti setelah memasuki masa pensiun. Pengetahuan dan pengalaman yang telah dibangun selama bertahun-tahun tetap relevan untuk mendukung generasi baru di Kementerian P2MI.

Advertisement

“Pengalaman dan jejaring para senior ini tentu sangat penting untuk membantu kami memperkuat program-program Kementerian P2MI,” tandasnya.

Menteri Mukhtarudin pun berharap silaturahmi tersebut tidak berhenti sebagai pertemuan formal, tetapi berkembang menjadi kolaborasi yang konkret dalam memperkuat pelindungan Pekerja Migran dari hulu hingga hilir.

Dengan sinergi antara generasi baru dan para senior, Kementerian P2MI optimistis transformasi tata kelola Pekerja Migran dapat berjalan lebih kuat, sekaligus mendorong semakin banyak pekerja migran Indonesia masuk ke pasar kerja global dengan kompetensi yang lebih tinggi dan pelindungan yang lebih baik. ***

Exit mobile version