Ekonomi

Skenario Terburuk IHSG BEI setelah Ambruk Hampir 5 Persen, Rupiah Tergelincir Tertekan Keputusan Trump

Published

on

Skenario Terburuk IHSG BEI setelah Ambruk Hampir 5 Persen, Rupiah Tergelincir Tertekan Keputusan Trump

Pada perdagangan saham dan valuta di awal Februari, Senin (2/2/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) anjlog sedangkan nilai tukar (kurs) rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS)

FAKTUAL INDONESIA: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ambruk, nilai tukar (kurs) rupiah tergelincir ke posisi melemah.

Begitu dinamika yang mewarnai pembukaan dan penutupan perdagangan saham dan valuta pada awal Februari, Senin (2/2/2026).

IHSG yang tengah berada dalam masa transisi setelah mundurnya Dirut BEI dan jajaran pejabat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah masuk zona merah sejak pembukaan hingga penutupan perdagangan.

Baca Juga : IHSG Anjlok Hampir 5 Persen, Pemerintah Imbau Pasar Tetap Tenang

Sementara itu kurs rupiah sempat menunjukkan harapan ketika dibuka menguat namun kemudian tergelincir ke pisisi melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) saat penutupan.

Skenario Terburuk IHSG

Advertisement

Senin pagi pada pembukaan perdagangan, IHSG BEI langsung masuk zona merah ketika dibuka melemah 70,36 poin atau 0,84 persen ke posisi 8.259,25. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 0,91 poin atau 0,11 persen ke posisi 834,44.

Sepanjang hari IHSG tidak bisa beranjak dari zona merah sehingga akhirnya ditutup melemah ambruk hampir 5 persen. IHSG ditutup melemah 406,88 poin atau 4,88 persen ke posisi 7.922,73. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 27,29 poin atau 3,27 persen ke posisi 806,24.

Baca Juga : OJK Percepat Reformasi Pasar Modal Usai Gejolak IHSG

Seperti dilansir infobank, Berdasarkan statistik RTI Business, tercatat sebanyak 720 saham terkoreksi, 58 saham menguat, dan 36 saham tetap tidak berubah. Sebanyak 49,91 miliar saham diperdagangkan dengan 2,94 juta kali frekuensi perpindahan tangan, serta total nilai transaksi Rp28,99 triliun.

Seluruh indeks dalam negeri juga ditutup merah dengan IDX30 merosot 2,07 persen menjadi 420,87, Sri-Kehati turun 0,38 persen menjadi 371,50, LQ45 melemah 3,27 persen ke 806,24, dan JII merosot 6,92 persen menjadi 519,65.

Lalu, seluruh sektor juga ditutup melemah. Ini tercermin dari sektor bahan baku ambles 10,74 persen, sektor siklikal -7,67 persen, sektor energi -7,66 persen, sektor properti -6,27 persen, sektor transportasi -6,18 persen, dan sektor infrastruktur -6,06 persen,

Advertisement

Selanjutnya, sektor teknologi turun 6,04 persen, sektor industrial -5,88 persen, sektor keuangan -2,33 persen, sektor non-siklikal -1,73 persen, dan sektor kesehatan -1,28 persen.

Baca Juga : Bareskrim Selidiki Dugaan Manipulasi Saham Usai IHSG Anjlok Tajam

Sederet saham top gainers di antaranya adalah PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), dan PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY).

Sedangkan saham top losers adalah PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), dan PT MD Entertainment Tbk (FILM).

Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda menilai pelemahan ini lebih mencerminkan sikap wait and see investor ketimbang meningkatnya pesimisme terhadap prospek pasar.

“Tekanan IHSG hari ini lebih dipengaruhi pesan pasar, khususnya dari investor asing, yang masih menantikan tindak lanjut resmi dari pertemuan BEI dengan MSCI terkait transparansi pasar. Selain itu, masa transisi di regulator juga membuat pelaku pasar menunggu langkah konkret yang lebih meyakinkan,” ujar Reza kepada Kontan, Senin (2/2/2026).

Advertisement

Baca Juga : IHSG Benar-benar Pulih dan Menguat Setelah Dirut BEI Mundur, Rupiah Ditekan Sentimen Global

Dari sisi domestik, sentimen utama masih berasal dari kebijakan MSCI terkait isu free float dan pembekuan rebalancing pada Februari yang memicu penyesuaian portofolio investor, terutama asing. Ketidakpastian juga meningkat seiring perubahan jajaran pimpinan di regulator dan otoritas pasar modal.

Sementara dari global, tekanan datang dari pelemahan harga sejumlah komoditas, ketidakpastian geopolitik, serta dinamika kebijakan Amerika Serikat, termasuk pernyataan Presiden Donald Trump terkait arah kebijakan moneter dan isu suksesi pimpinan The Fed yang meningkatkan volatilitas pasar.

“Untuk perdagangan Selasa, IHSG diperkirakan bergerak mixed cenderung tertekan dengan support di 7.785 dan resistance di 8.232. Jika tekanan berlanjut dan hasil pertemuan dengan MSCI belum menunjukkan kejelasan, IHSG berpotensi menguji area psikologis 7.500-7.600,” jelasnya.

Ia menambahkan, komitmen pemerintah dalam membenahi keterbukaan informasi pasar, khususnya terkait formula free float dan keterbukaan ultimate beneficial owner (UBO), berpotensi menjadi faktor peredam tekanan ke depan.

Senada, VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi menilai pergerakan IHSG dalam jangka pendek masih fluktuatif, dengan peluang tekanan lanjutan jika gagal bertahan di area support.

Advertisement

Baca Juga :  Dirut BEI Mundur Setelah Kejatuhan IHSG, Mensesneg Angkat Bicara, Menkeu Purbaya Sebut Fatal tapi Positif

“Level support penting berada di kisaran 7.600-7.700, sementara resistance terdekat di 8.170-8.400. Selama IHSG belum mampu kembali menembus resistance tersebut, pasar masih rentan terhadap koreksi lanjutan,” katanya.

Ia memperkirakan skenario terburuk IHSG berpotensi mengarah ke area 7.250–7.500 apabila tekanan asing berlanjut dan ketidakpastian kebijakan belum mereda.

Rupiah Dipengaruhi Trump

Nilai tukar (kurs) rupiah meskipun sempat menguat saat pembukaan akhirnya ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Ketika pembukaan perdagangan mata uang Senin pagi, rupiah menguat 10 poin atau 0,06 persen menjadi Rp16.776 dari sebelumnya Rp16.786 per dolar AS.

Namun pada penutupan sore harinya, rupiah melemah 12 poin atau 0,07 persen menjadi Rp16.798 dari sebelumnya Rp16.786 per dolar AS.

Advertisement

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp16.800 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.796 per dolar AS.

Baca Juga : BEI Bekukan Sementara Perdagangan setelah IHSG Anjlog 8 Persen, Menkeu Purbaya: Nggak Usah Takut

Pelemahan kurs rupiah berlanjut setelahPresiden AS Donald Trump mengumumkan pencalonan mantan gubernur Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh, untuk memimpin bank sentral.Warsh sendiri secara luas diyakini akan mendukungseruan Trump untuk menurunkan suku bunga secara tajam.

“Namun, Warsh mungkin akan menekankan kelemahan pasar tenaga kerja sebagai risiko yang lebih besar terhadap mandat The Fed untuk mencapai lapangan kerja maksimal, dan stabilitas harga dan kemungkinan akan mendukung lebih banyak penurunan suku bunga jika dikonfirmasi dalam beberapa bulan mendatang,” ungkap Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi dalam keterangan tertulis pada Senin (2/2/2026), seperti dilandir ipotnews.

Rupiah juga melemah di tengah perkembangan ketegangan geopolitik antara AS dan Iran serta setelah pernyataanPerdana menteri Jepang Takaichi terkait manfaat mata uang yang lebih lemah, yang agak kontras dengan sinyal dari pemerintahannya yang memperingatkan terhadap pelemahan mata uang yang berkepanjangan. ***

Advertisement
Exit mobile version