Ekonomi
Rupiah Senin 27 April 2026: Menguat Tertiup Angin Segar Dari Timur Tengah tapi Tetap Fluktuatif

FAKTUAL INDONESIA: Nilai tukar rupiah berhasil menutup perdagangan awal pekan, Senin (27/4/2026), dengan performa positif. Mata uang Garuda tercatat menguat tipis ditengah tiupan angin segar harapan pasar akan meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Berdasarkan data pasar spot, rupiah ditutup menguat 18 poin atau 0,10% ke level Rp17.211 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp17.229 per dolar AS. Senada dengan pasar spot, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga merayap naik ke level Rp17.277 per dolar AS.
Pergerakan rupiah sore ini sejalan dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang juga terpantau bergerak di zona hijau. Melemahnya indeks dolar AS (DXY) memberikan ruang bagi mata uang regional untuk melakukan rebound setelah sempat tertekan hebat pada pekan lalu.
Selain faktor eksternal, optimisme domestik juga turut menopang rupiah. Pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 mampu mencapai angka 5,5%, sebuah sinyal kuat bahwa fundamental ekonomi nasional tetap terjaga di tengah ketidakpastian global.
Sentimen Damai Jadi Pendorong
Penguatan rupiah kali ini didorong oleh sentimen global yang mulai mendingin. Fokus investor tertuju pada potensi pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Kabar mengenai rencana pertemuan para petinggi kedua negara di Islamabad, Pakistan, memberikan napas lega bagi aset berisiko di pasar berkembang, termasuk rupiah.
“Pasar merespons positif proposal perdamaian baru terkait navigasi di Selat Hormuz. Hal ini mengurangi kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global yang sempat melambungkan harga minyak,” ujar pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi
Seperti dilansir periskop, dari dalam negeri, sentimen datang dari lembaga pemeringkat Moody’s yang mempertahankan peringkat utang Indonesia di level Baa2, meskipun outlook diturunkan dari stabil menjadi negatif. Pemerintah menyatakan akan terus menjaga stabilitas ekonomi melalui sinergi kebijakan fiskal dan moneter.
Selain itu, pemerintah bersama Bank Indonesia menegaskan komitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan pasar keuangan, termasuk melalui berbagai kebijakan strategis guna menopang pertumbuhan ekonomi.
Proyeksi Pergerakan Besok
Meski hari ini ditutup manis, para analis mengingatkan bahwa volatilitas masih akan menghantui pasar dalam beberapa hari ke depan. Fokus pelaku pasar selanjutnya akan tertuju pada keputusan suku bunga Bank Sentral Jepang (BoJ) pada hari Selasa dan pertemuan The Fed (FOMC) pada tengah pekan ini.
Untuk perdagangan Selasa (28/4), rupiah diprediksi akan bergerak fluktuatif namun tetap memiliki peluang untuk bertahan di rentang level Rp17.200 hingga Rp17.260 per dolar AS.
“Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.210 – Rp 17.260,” ungkap Ibrahim.
Menurutnya rupiah rentan melemah imbas sentimen terkait pemblokiran Selat Hormuz, di tengah upaya tercapainya kesepakatan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran. Rupiah juga diprediksi rentan melemah setelah lembaga pemeringkat Moody’s mengumumkan penilaian terbaru terhadap peringkat utang RI sejak Februari 2026. ***