Ekonomi

Rupiah Selasa 26 Mei 2026: Sempat Sentuh Rp17.800 Cetak Rekor Terlemah Lagi, Perbesar Resiko PHK

Published

on

Terus melemahnya nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang hari ini, Selasa (26/5/2026), kembali mencetak rekor terlemah berpotensi meningkatkan pemutusan hubungan kerja (PHK). (AI/Ist)

Terus melemahnya nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang hari ini, Selasa (26/5/2026), kembali mencetak rekor terlemah berpotensi meningkatkan pemutusan hubungan kerja (PHK). (AI/Ist)

FAKTUAL INDONESIA:  Rupiah yang terus tertekan oleh dolar Amerika Serikat (AS) dalam perdagangan valuta asing dapat memperbesar resiko pemutusan hubungan kerja (PHK) di Indonesia yang kaya raya sumber alam ini.

Jangankan makin melemah lagi, saat ini, Selasa (26/5/2026), dalam kondisi nilai tukar (kurs) rupiah di level Rp17.796 per dolar AS, sudah memunculkan ancaman PHK dan membuat beban hidup rakyat makin berat.

“Tekanan terhadap industri saat ini bersifat ganda; pelemahan rupiah meningkatkan harga bahan baku impor, sementara konflik global memicu kenaikan biaya energi. Jika situasi ini menetap, angka PHK diprediksi akan terus merangkak naik,” kata Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, seperti dilansir mediaindonesia ketika menanggapi melemahnya lagi kurs rupiah, Selasa.

Rekam Jejak Pelemahan Rupiah

Memang, tekanan terhadap mata uang Garuda tampaknya masih belum mereda. Pada penutupan perdagangan Selasa (26/5/2026), nilai tukar rupiah kembali terkapar di hadapan dolar AS, bahkan hingga mencetak rekor posisi terlemahnya sepanjang sejarah.

Advertisement

Mengutip data pasar spot Bloomberg, rupiah sore ini ditutup merosot 52 poin atau sekitar 0,30% ke level Rp17.796 per dolar AS, bergeser dari posisi penutupan hari sebelumnya di Rp17.744.

Pelemahan serupa juga dicatat oleh Bank Indonesia melalui kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang menempatkan rupiah di level Rp17.789 per dolar AS (turun 0,26%).

Sejak pembukaan perdagangan Selasa pagi, rupiah tetap berkubang di zona merah ketika dibuka

melemah 5 poin atau 0,0,03 persen menjadi Rp17.749 dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.744 per dolar AS.

Bahkan dalam pantauan seperti laporan kabarbisnis,  pelemahan nilai tukar rupiah sempat menembus level Rp 17.800 per dolar. Setelah dibuka melemah, rupiah  terus tertekan hingga menyentuh Rp 17.803 per dolar AS pada pukul 09.34 WIB, Namun pada perdagangan siang hari, rupiah bertahan di kisaran Rp 17.794 per dolar AS.

Advertisement

Jika ditarik sedikit ke belakang, tren pelemahan ini sebenarnya sudah terjadi selama empat hari berturut-turut di sepanjang akhir bulan Mei 2026:

Tanggal Kurs Penutupan (Pasar Spot) Status
19 Mei 2026 Rp17.706 per Dolar AS Rekor Terlemah Baru
25 Mei 2026 Rp17.744 per Dolar AS Terperosok Lagi
26 Mei 2026 Rp17.796 per Dolar AS Rekor Terendah Sepanjang Sejarah

Dua Biang Keladi: Geopolitik dan Efek “Libur Kejepit”

Mengapa mata uang kita kembali lunglai mendekati level psikologis Rp18.000? Para pengamat pasar uang menunjuk dua faktor utama:

  1. Tensi Panas AS-Iran: Situasi di Timur Tengah kembali memanas setelah militer AS dikabarkan meluncurkan serangan baru ke wilayah selatan Iran. Alhasil, investor global buru-buru memindahkan aset mereka ke instrumen yang lebih aman (safe haven) seperti Dolar AS.
  2. Efek Libur Iduladha: Pasar keuangan dalam negeri akan ditutup pada hari Rabu besok (27/5/2026) memperingati Hari Raya Iduladha 1447 H. Momentum libur nasional ini membuat ruang gerak intervensi pasar menjadi terbatas, sehingga pelaku pasar cenderung mengambil posisi aman dengan memegang Dolar AS.

Ibrahim Assuaibi  yang pengamat mata uang dan juga Direktur PT. Traze Andalan Futures mengungkapkan pelemahan rupiah berlanjut seiring ketegangan antara AS dan Iran yang terus memanas di Timur Tengah. Dilaporkan, AS kembali melancarkan serangan ke wilayah Iran selatan. Aksi militer baru dikhawatirkan mempersulit negosiasi perdamaian yang sedang berlangsung antara AS dan Iran, terutama setelah Teheran berulang kali memperingatkan AS untuk tidak melakukan serangan lebih lanjut.

Konflik geopolitik global tidak hanya menekan nilai tukar, tetapi juga mendorong kenaikan harga BBM industri non-subsidi yang semakin membebani struktur biaya manufaktur nasional.

Meskipun otoritas moneter terus memantau dan melakukan berbagai upaya stabilisasi, pasar memperkirakan pergerakan rupiah setelah libur Iduladha nanti masih akan berjalan fluktuatif. Investor domestik pun diharapkan tetap tenang namun waspada dalam mengatur strategi keuangannya.

Advertisement

“Harga minyak turun tajam pada hari Senin setelah laporan-laporan ini, meskipun kurangnya kejelasan di lapangan membatasi penurunan harga minyak mentah. Sedangkan untuk perdagangan besok (Iibur Iduladha), mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang  Rp 17.790 – Rp 17.850,” ungkap Ibrahim.

Dampak ke Sektor Riil:

Pelemahan kurs yang berkepanjangan ini mulai diwaspadai oleh para pelaku industri nasional. Sektor-sektor yang sangat bergantung pada bahan baku impor, seperti elektronik, garmen, hingga otomotif, diprediksi akan menghadapi tekanan biaya produksi yang membengkak jika tren ini terus berlanjut.

Ibrahim memperingatkan bahwa pelemahan rupiah yang berkelanjutan akan berdampak langsung pada kenaikan biaya produksi, terutama bagi industri yang bergantung pada bahan baku impor. Kondisi ini memperbesar risiko efisiensi tenaga kerja atau PHK.

Data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Sepanjang Januari hingga April 2026, jumlah pekerja yang terdampak PHK telah mencapai 15.425 orang. Lonjakan ini terjadi seiring dengan langkah sejumlah perusahaan melakukan efisiensi ketat hingga penghentian operasional akibat tekanan biaya operasional yang tak terkendali.

Advertisement

Ia menyebut, kekhawatiran terhadap krisis ekonomi mulai terlihat akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang belum diketahui sampai kapan akan terjadi.

“(Pelemahan rupiah) juga berdampak terhadap meningkatnya biaya produksi perusahaan, khususnya industri yang bergantung pada bahan baku impor dan pasar ekspor sehingga meningkatkan risiko pemutusan hubungan kerja (PHK),” bebernya. ***

Exit mobile version