Ekonomi

Rupiah Selasa 12 Mei 2026: Kembali Cetak Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah, Alarm Stabilitas Moneter Nasional

Published

on

Nilai tukar (kurs) rupiah melayang-layang ke bawah setelah tertekan dolar Amerika Serikat (AS) sehingga terkapar di posisi terlemah sepanjang masa Selasa (12/5/2026) sore. (Ist)

Nilai tukar (kurs) rupiah melayang-layang ke bawah setelah tertekan dolar Amerika Serikat (AS) sehingga terkapar di posisi terlemah sepanjang masa Selasa (12/5/2026) sore. (Ist)

FAKTUAL INDONESIA: Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kian tak terbendung pada perdagangan Selasa (12/5/2026). Mata uang Garuda terhempas ke level terendah sepanjang masa (all-time low) setelah ditutup melemah signifikan menembus level psikologis baru di angka Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS).

Mengutip data Bloomberg, rupiah menutup hari dengan pelemahan 115 poin atau 0,66% ke level Rp17.529 per dolar AS. Posisi ini jauh melampaui tekanan pada hari sebelumnya dan menempatkan rupiah sebagai salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di Asia sepanjang tahun berjalan.

Dalam sehari ini tupiah mencatat dua kali rekor terlemah sepanjang masa ketika sebelumnya menyentuh Rp17.503 di siang hari setelah dibuka melemah melemah 69 poin atau 0,40 persen menjadi Rp17.483 dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.414 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Selasa ini juga bergerak melemah ke level Rp17.514 dari sebelumnya Rp17.415 per dolar AS.

Kontras dengan Pertumbuhan Ekonomi

Advertisement

Pelemahan tajam ini dipicu oleh eskalasi ketegangan di Timur Tengah yang semakin memanas. Gagalnya negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran terkait gencatan senjata membuat investor global panik dan berbondong-bondong mengalihkan aset mereka ke mata uang safe haven.

“Situasi di Selat Hormuz benar-benar menjadi beban berat. Ditambah lagi, pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut kesepakatan berada dalam kondisi kritis kian memperburuk sentimen pasar terhadap mata uang negara berkembang,” ungkap analis pasar uang sore ini.

Kondisi rupiah yang “babak belur” ini terasa kontras jika melihat data fundamental dalam negeri. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 sebenarnya mencatatkan angka yang solid di level 5,61%. Namun, derasnya arus modal keluar akibat ketidakpastian global membuat capaian positif tersebut seolah tak bertenaga untuk membentengi mata uang domestik.

Penembusan angka Rp17.500 ini merupakan alarm bagi stabilitas moneter nasional. Fokus pasar kini tertuju pada langkah intervensi Bank Indonesia di pasar valas serta hasil pertemuan tingkat tinggi antara AS dan Tiongkok akhir pekan ini yang diharapkan bisa membawa sedikit angin segar bagi pasar keuangan dunia.

Berpotensi Makin Melemah

Advertisement

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan rupiah terjadi dipicu batalnya negosiasi untuk mengakhiri perang antara Amerika Serikat dan Iran. Iran menyoroti proposal disampaikan Presiden AS, Donald Tump, yang terdapat perbedaan mencolok membuat ketegangan kembali meningkat.

“Donald Trump mengatakan pada hari Senin bahwa gencatan senjata dengan Iran dalam kondisi kritis menunjuk pada ketidaksepakatan atas beberapa tuntutan, seperti penghentian permusuhan di semua lini, pencabutan blokade angkatan laut AS, dimulainya kembali penjualan minyak Iran, dan kompensasi atas kerusakan perang,” jelas Ibrahim kepada wartawan.

Iran juga menekankan kedaulatan atas Selat Hormuz, yang menangani sekitar seperlima aliran minyak dan gas alam cair global. Sementara itu, pemerintahan Trump mengumumkan rencana pada hari Senin untuk meminjamkan 53,3 juta barel minyak mentah dari Cadangan Minyak Strategis AS (SPR) sebagai bagian dari upaya untuk meredam pasar minyak.

“Data pelacakan kapal menunjukkan bahwa pengiriman minyak mentah dari SPR AS sedang dalam perjalanan ke Turki, menandai pengiriman pertama ke negara Mediterania tersebut,” ungkapnya.

Sementara dari dalam negeri pergerakan rupiah kali ini dipicu data pertumbuhan ekonomi nasional kuartal I tumbuh sebesar 5,61 persen. Angka tersebut merupakan realisasi terbesar sejak lima tahun terakhir, bahkan jadi yang tertinggi di antara negara G20.

Advertisement

Namun, angka pertumbuhan PDB itu harus selalu dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu (year to year). Kuartal I 2025 adalah salah satu realisasi terburuk dalam beberapa tahun terakhir yang hanya sebesar 4,87 persen.

“Angka 5,61% terlihat tinggi bukan karena ekonomi tiba-tiba maju pesat, tapi karena kita membandingkannya dengan titik yang memang sedang rendah.Dalam pelajaran statistik, ini namanya base effect, atau efek basisi,” kata Ibrahim.

Selain itu, jika diteliti lebih jauh, pertumbuhan kuartal I 2026 ini tak bisa dikatakan sehat. Ada banyak variabel yang perlu dicermati dan diwaspadai .

Kemudian, Presiden Prabowo telah menegur Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo karena mata uang tersebut berada di dekat rekor terendah sekitar Rp17.500 per dolar. Sentimen juga terpukul oleh penurunan sektor manufaktur Indonesia pada bulan April, yang pertama dalam sembilan bulan, karena melemahnya permintaan pasca-liburan dan meningkatnya tekanan produksi akibat guncangan geopolitik dan pasokan.

Selain itu, sejumlah data ekonomi belum mampu menopang laju rupiah. Ketidakpastian arah kebijakan terkait pengenaan royalti terhadap hasil tambang, ditambah belum jelasnya arah penambahan pendapatan negara di tengah belanja yang nilainya jumbo membuat pasar khawatir dengan kondisi fiskal.

Advertisement

Ditambah hari ini pasar akan mencermati pengumuman dari MSCI terkait potensi penurunan bobot Indoneia dalam indeks global tersebut.

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.520-Rp17.580 per dolar AS. ***

Exit mobile version