Ekonomi
Rupiah Selasa 1 September 2026: Memerah di Awal Bulan Sambut Gubenur Baru BI, Esok Konsolidasi
Memanasnya kembali konflik Amerika Serikat (AS) dengan Iran dan penantian suku bunga The Fed menekan nilai tukar rupiah sehingga melemah terhadap dolar AS, Selasa (1/9/2026). (Foto: Istimewa)
FAKTUAL INDONESIA: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengawali perdagangan perdana September 2026 di zona merah, Selasa (1/9/2026). Bersamaan juga dengan hari dilantiknya Gubernur Bank Indonesia (BI) yang baru Destry Damayanti oleh DPR RI.
Mata uang Garuda ditutup melemah 22 poin atau 0,12% ke level Rp17.744 per dolar AS pada perdagangan Selasa (1/9/2026) sore.
Padahal pada pembukaan perdagangan valuta asing di pagi hari, rupiah bergerak menguat 7 poin atau 0,04 persen menjadi Rp17.715 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.722 per dolar AS.
Sedangkan pada Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, rupiah bergerak menguat di level Rp17.727 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.746 per dolar AS.
Pelemahan ini membalikkan membuat rupiah seiring dengan mata uang negara-negara Asiayang cendrung melemah. Yuan China turun 0,06 persen, ringgit Malaysia terdepresiasi 0,27 persen, dolar Singapura melemah 0,19 persen, yen Jepang turun 0,14 persen, won Korea Selatan terdepresiasi 0,40 persen, dan dolar Hong Kong terkoreksi 0,02 persen.
Penyebab Utama Pelemahan
Pelemahan nilai tukar rupiah pada awal September dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik:
- Indeks Dolar AS Menguat: Indeks dolar yang mengukur kekuatan greenback terhadap mata uang utama bergerak naik ke level 99,59.
- Kenaikan Ketegangan Geopolitik: Konflik di kawasan Timur Tengah yang melibatkan ketegangan militer AS dan Iran terus menahan kecenderungan investor untuk mengoleksi aset berisiko (risk-off) di pasar berkembang.
- Sikap Menanti Data Ekonomi: Pelaku pasar cenderung menahan posisi menjelang rilis indikator makroekonomi domestik serta sinyal kebijakan suku bunga The Fed.
Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai kinerja manufaktur Indonesia yang kembali mengalami tekanan pada Agustus 2026 memberi tekanan pada rupiah. Kondisi tersebut tecermin dari S&P Global Indonesia Manufacturing Purchasing Managers’ Index (PMI) yang turun ke level 49,8, dari 50,2 pada Juli 2026.
“Penurunan PMI Manufaktur ke bawah ambang batas 50,0 menunjukkan bahwa kondisi operasional sektor manufaktur kembali mengalami kontraksi setelah sempat mencatatkan ekspansi tipis pada bulan sebelumnya,” kata Ibrahim dalam risetnya seperti dilansir RCTI+.
Dari eksternal, Timur Tengah yang kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan lanjutan terhadap Iran menyusul terjadinya saling serang secara langsung.
“Upaya para mediator, termasuk Qatar dan Oman, untuk menengahi kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz sejauh ini belum membuahkan hasil yang berarti,” kata Ibrahim.
Semtimen lainnya, nada Ketua The Fed, Kevin Warsh di Simposium Jackson Hole bernada hawkish yang memicu kembali ekspektasi bahwa bank sentral dapat menaikkan suku bunga paling cepat pada September, serta mendorong lonjakan tajam pada nilai tukar dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor pendek. Menurut perangkat CME FedWatch, pasar kini memperhitungkan peluang sekitar 66 persen untuk kenaikan suku bunga pada bulan September, naik dari sekitar 38 persen sebelum pidato Warsh.
Fokus pasar hari ini adalah rilis data PMI Manufaktur dan JOLTS Job Openings dengan fokus utama minggu ini adalah data ketenagakerjaan utama AS data Nonfarm Payrolls yang akan dirilis pada hari Jumat.
Prediksi Pergerakan Rupiah Rabu, 2 September 2026
Untuk perdagangan Rabu (2/9/2026), mata uang rupiah diproyeksikan masih bergerak dalam rentang konsolidasi cenderung melemah tipis.
Ibrahim memprediksi mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.740-Rp17.790 per dolar AS
- Rentang Proyeksi Kurs:720 – Rp17.780 per dolar AS
- Fokus Pasar Besok: Pelaku pasar fokus mencermati rilis angka inflasi domestik terbaru dan respon pasar obligasi terhadap pergerakan yields US Treasury. Jika tensi geopolitik mereda, rupiah berpotensi melakukan rebound teknikal tipis. ***
