Ekonomi
Rupiah Rabu 3 Juni 2026: Ya Ampun, Terlemah Sepanjang Masa Lagi, Nyaris dan Berpotensi Lewati Rp18.000

Dengan makin terpuruknya nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang hari ini, Rabu (3/6/2025), mencapai Rp17.966 diprediksi membuat beban hidup makin berat. (AI/Ist)
FAKTUAL INDONESIA: Ya ampun, rupiah semakin parah. Bukan saja terus melemah namun juga nilai tukar (kurs) rupiah kembali mencetak rekor terlemah sepanjang masa terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan valuta asing, Rabu (3/6/2026).
Tekanan demi tekan yang belum mereda membuat rupiah penutupan perdagangan Rabu sore kembali terkoreksi cukup dalam dan bergerak mendekati psikologis baru.
Makin mendekati angka Rp18.000 perdolar AS dan bahkan diproyeksikan untuk perdagangan esok hari bisa melewati angka tersebut.
Berdasarkan data pasar spot, mata uang Garuda ditutup melemah 127,5 poin atau ambles 0,71 persen ke posisi Rp 17.966 per dolar AS dibandingkan penutupan hari sebelumnya.
Hari ini dan sama dengan hari-hari sebelumnya, rupiah sudah terlihat loyo sejak pembukaan perdagangan ketika dibuka melemah 39 poin atau 0,22 persen menjadi Rp17.878 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.839 per dolar AS.
Pelemahan ini memperpanjang tren koreksi rupiah sejak akhir Mei sekaligus menempatkannya di posisi terlemah sepanjang masa.
Yang bisa menjadi penghibur tentunya kabar nasib apes rupiah ternyata juga dialami oleh mayoritas mata uang di kawasan Asia. Kedigdayaan greenback hari ini menyapu bersih mata uang regional tanpa ampun.
Dolar AS perkasa terhadap Won Korea Selatan, Ringgit Malaysia, Rupee India, Baht Thailand dan Yuan China.
Guncangan Geopolitik Pemicu Utama
Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa memanasnya situasi di Timur Tengah menjadi motor utama penguatan dolar AS (greenback) yang memukul mata uang regional.
Eskalasi konflik semakin meruncing setelah adanya laporan serangan militer di kawasan Selat Hormuz — jalur logistik vital yang mengalirkan seperlima pasokan minyak dunia.
“Ketegangan ini memicu kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global yang berpotensi melambungkan harga minyak. Akibatnya, investor global berbondong-bondong mengamankan aset mereka ke tempat aman (safe haven), yakni dolar AS,” ujar Ibrahim dalam risetnya, Rabu (3/6/2026).
Selain faktor global, tekanan dari dalam negeri juga ikut membayangi, salah satunya rilis data inflasi domestik yang mulai merangkak naik serta aksi lepas saham oleh investor asing yang membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ikut anjlok signifikan pada hari yang sama.
Melihat kondisi tersebut maka untuk perdagangan Kamis (4/6), Ibrahim memperkirakan rupiah masih bergerak dalam tekanan, rentang Rp 17.960 hingga Rp 18.030 per dolar AS.
Merespons volatilitas yang meninggi dan angka kurs yang menembus level Rp 17.900, Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas di pasar keuangan.
BI memastikan bakal terus mengawal pergerakan nilai tukar melalui strategi intervensi ganda (triple intervention) baik di pasar spot, domestik Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder guna meredam gejolak yang terlalu liar. ***