Ekonomi

Rupiah Rabu 22 Juli 2026: Melemah 29 Poin, Berptensi Bergerak dalam Rentang Konsolidasi

Published

on

Beberapa sentimen domestik dan eksternal mempengaruhi laju nilai tukar rupiah sepanjang hari perdagangan Rabu (22/7/2026) sehingga ditutup melemah 29 poin ke level Rp17.888 per dolar AS

Beberapa sentimen domestik dan eksternal mempengaruhi laju nilai tukar rupiah sepanjang hari perdagangan Rabu (22/7/2026) sehingga ditutup melemah 29 poin ke level Rp17.888 per dolar Amerika Serikat (AS). (Foto: Istimewa)

FAKTUAL INDONESIA:  Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali ditutup melemah pada perdagangan Rabu (22/7/2026). Mata uang Garuda tertekan tipis di tengah sikap kehati-hatian (wait and see) para pelaku pasar yang mencermati dinamika ekonomi global serta arah kebijakan moneter bank sentral. 

Berdasarkan data perdagangan pasar spot, rupiah ditutup turun 29 poin atau 0,16 persen ke posisi Rp17.888 per dolar AS, bergerak melemah dari posisi penutupan hari sebelumnya Rp17.888 per dolar AS.

Rupiah sudah berada dalam tekanan sejak pembukaan perdagangan ketika dibuka melemah 42 poin atau 0,23 persen menjadi Rp17.930 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak datar di level Rp17.909 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.909 per dolar AS.

Faktor Utama Pemicu Pelemahan Rupiah

Advertisement

Beberapa sentimen utama domestik dan eksternal mempengaruhi laju nilai tukar rupiah sepanjang hari perdagangan Rabu:

  • Penguatan Indeks Dolar AS (DXY): Mata uang AS terdorong kuat seiring ekspektasi pasar bahwa Bank Sentral AS (The Fed) masih akan mempertahankan suku bunga acuan di level tinggi (higher for longer) akibat potensi inflasi global yang belum sepenuhnya mereda.
  • Antisipasi Kebijakan Bank Indonesia (BI): Investor cenderung bersikap hati-hati menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia terkait arah Suku Bunga Acuan (BI-Rate) untuk menjaga stabilitas nilai tukar domestik.
  • Dinamika Harga Minyak Dunia: Fluktuasi harga minyak mentah global dan ketegangan geopolitik yang dinamis masih membayangi persepsi risiko investor di pasar negara berkembang (emerging markets).

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipengaruhi tingginya ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan meningkatkan suku bunga pada 2026.

“Ekspektasi bahwa The Fed mungkin akan meningkatkan laju kenaikan suku bunga pada tahun 2026 meningkat tajam, didorong oleh harga minyak yang tinggi karena gangguan pasokan di Teluk memicu kekhawatiran inflasi dan memicu spekulasi tentang suku bunga yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama,” kata Ibrahim seperti dilansir MeteroTV, Rabu.

Melihat sentimen domestik, Bank Indonesia memutuskan untuk menahan BI-Rate di level 5,75 persen. Bersamaan dengan keputusan ini, BI menetapkan suku bunga Deposit Facility sebesar 25 basis points (bps) menjadi 4,75 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,5 persen.

Dengan keputusan menahan suku bunga acuan ini, lanjutnya, BI mendorong kebijakan lain, yakni pemberian insentif guna mendorong arus modal asing ke pasar uang Indonesia dalam rangka tetap menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

“BI memperluas kebijakan insentif dan sejumlah kebijakan lain untuk meningkatkan aliran masuk portofolio asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas serta meningkatkan likuiditas,” ujarnya.

Advertisement

Prediksi Pergerakan Kamis, 23 Juli 2026

Mengutip analisis pengamat mata uang dan analis pasar uang, pergerakan rupiah pada perdagangan Kamis (23/7/2026) diperkirakan masih akan berfluktuasi namun berpotensi bergerak dalam rentang konsolidasi.

Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy mengatakan, untuk perdagangan Kamis, investor akan mencermati sejumlah sentimen global dan domestik yang berpotensi memengaruhi arah rupiah. Di antaranya adalah pergerakan indeks dolar AS, perkembangan ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed, kondisi geopolitik global, serta arus modal asing yang masuk ke pasar saham dan obligasi Indonesia.

“Selain itu, respons pasar terhadap keputusan BI hari ini juga masih akan memengaruhi pergerakan rupiah,” katanya seperti dikutip dari Kontan.

Budi memproyeksikan rupiah pada Kamis (23/7) akan bergerak dalam rentang Rp 17.880 hingga Rp 17.950 per dolar AS.

Advertisement

Parameter Perdagangan dan  Proyeksi / Estimasi

Kecenderungan Arah: Fluktuatif dengan kecenderungan melemah terbatas (side-ways)

Rentang Pergerakan:   Rp17.850 – Rp17.950 per dolar AS

Kunci Penggerak Pasar:Respon pasar terhadap respon kebijakan moneter BI & data ekonomi AS. ***

Advertisement
Exit mobile version