Ekonomi

Rupiah Kamis 4 Juni 2026: Ingat! Sudah Lewat Rp18.000 Perdolar AS, Tanda Apa Ini?

Published

on

FAKTUAL INDONESIA: Ingat, nilai tukar (kurs) rupiah kini sudah melewati level psikologis baru Rp18.000 terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Tambah mengkhawatirkan lagi, ternyata rupiah diprediksi akan masih melemah terus terhadap dolar AS.

Sebagai tanda apa ini?

Ya, mata uang Garuda harus rela kembali parkir di zona merah pada penutupan perdagangan hari ini, Kamis (4/6/2026). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah 0,46 persen menjadi Rp18.049 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.966 per dolar AS.

Advertisement

Sama seperti sehari sebelumnya, rupiah sudah loyo sejak pembukan perdagangan Kamis pagi ketika dibuka melemah 28,5 poin atau 0,16 persen ke level Rp17.995 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.966 per dolar AS.

Sedangkan di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) rupiah ada di level Rp 18.039 per dolar AS, melemah 0,6% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 17.931 per dolar AS.

Pelemahan rupiah yang kembali mencetak rekor terlemah sepanjang masa itu  seiring dengan masih kuatnya tekanan eksternal dan sentimen global yang membayangi pasar keuangan domestik.

Pergerakan rupiah ini sejalan dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang juga terpantau keok menghadapi kedigdayaan greenback.

Di Asia, rupiah melemah bersama beberapa mata uang lainnya. Ringgit Malaysia mencatat pelemahan terdalam yakni 0,61%, disusul rupiah yang melemah 0,45%, won Korea melemah 0,27%, dolar Taiwan melemah 0,12%, dolar Singapura melemah 0,08%, dan rupee India yang melemah 0,05%.

Advertisement

Sedangkan mata uang Asia lainnya menguat terhadap dolar AS sore ini. Peso Filipina menguat 0,20%, baht Thailand menguat 0,14%, yen Jepang menguat 0,10%, yuan China menguat 0,02% dan dolar Hong Kong menguat 0,01% terhadap dolar AS.

Faktor Eksternal Jadi Pemicu Utama

Para analis pasar uang menyebutkan bahwa pelemahan rupiah kali ini masih didominasi oleh faktor luar negeri. Salah satu pemicu utamanya adalah ketidakpastian arah kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), serta rilis data ekonomi AS terbaru yang di luar ekspektasi pasar, sehingga memicu investor untuk kembali memburu aset safe haven.

“Sentimen global memang sedang kurang berpihak pada mata uang negara berkembang (emerging markets). Data tenaga kerja dan inflasi di AS yang dirilis belakangan ini membuat pasar berspekulasi bahwa The Fed tidak akan terburu-buru menurunkan suku bunga acuan mereka,” ujar seorang pengamat pasar keuangan di Jakarta, Kamis (4/6/2026).

Selain faktor The Fed, ketegangan geopolitik global yang belum mereda serta fluktuasi harga komoditas dunia turut andil dalam menekan stabilitas nilai tukar domestik. Investor cenderung bermain aman dan menarik dana mereka dari pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia.

Advertisement

Masih Akan Melemah

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam analisis hariannya mengungkapkan, pergerakan kurs rupiah pada hari ini dipengaruhi oleh sentimen investor yang tetap berhati-hati di tengah meningkatnya ketegangan militer di Timur Tengah. Washington mengumumkan kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon pada Rabu malam, meskipun kesepakatan tersebut bergantung pada penghentian permusuhan oleh Hizbullah.

“Perhatian kini beralih ke data ekonomi AS, khususnya laporan penggajian non-pertanian yang dipantau ketat pada hari Jumat. Pada Rabu, data dari perusahaan pemroses penggajian ADP menunjukkan perusahaan swasta AS menambah 122 ribu pekerjaan pada Mei, melebihi ekspektasi ekonom dan meningkat dari kenaikan bulan sebelumnya,” ujarnya seperti dilansir metrotv.

Di sisi lain, Ibrahim menyatakan kekhawatiran yang meningkat setelah harga minyak mentah yang tinggi memicu risiko defisit fiskal mendekati level tiga persen dan keseimbangan eksternal, membuat kekhawatiran akan adanya intervensi negara yang lebih besar dalam komoditas, dan kegelisahan atas kemungkinan reklasifikasi MSCI terhadao pasar modal yang sampai saat ini masih belum ada keputusan pasti.

Sementara itu, data perdagangan April menunjukkan surplus memudar karena biaya impor minyak yang melonjak tinggi melampaui ekspor. Inflasi Mei meningkat menjadi 3,08 persen, di atas titik tengah target bank sentral dampak dari kenaikan harga-harga barang impor.

Advertisement

Kemudian, Moodys’s Ratings memberikan peringkat pertamanya untuk PT Danantara Investment Management pada level Baa2. Peringkat sementara untuk global medium-term note yang belum diterbitkan oleh Danantara Investment Management. Namun Moody’s menyampaikan outlook atas peringkat Danantara Investment Management berada di level negative.

Sementara terkait outlook negatif tersebut, Moody’s menilai penilaian ini berdasarkan kaitan kuat antara Danantara Investment Management, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, dan Pemerintah Indonesia sebagai pemilik penuh Danantara.

“Dalam jangka panjang, peringkat tersebut kemungkinan akan bergerak sejalan dengan peringkat sovereign Indonesia. Peringkat Danantara Investment Management bisa turun, jika peringkat soveregin Indonesia melemah,” terang Ibrahim.

Melihat berbagai perkembangan tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah pada perdagangan Jumat besok akan bergerak secara fluktuatif dan kemungkinan besar akan kembali melemah.

“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp18.050 per USD hingga Rp18.120 per USD,” jelas Ibrahim.

Advertisement

Langkah Antisipasi Bank Indonesia

Makin melemahnya rupiah jelas menjadi indikator kurang baik bagi kondisi perekonomian Indonesia. Selain itu psikologis masyarakat juga akan terdorong pada pesimisme terhadap perekonomian nasional apaklagi beban hidup masyarakat makin memberat.

Kondisi ini biasanya menjadi indikator adanya tekanan pada perekonomian nasional. Pelemahan rupiah umumnya merupakan sinyal atau tanda salah satunya permintaan terhadap dolar di dalam negeri lebih tinggi daripada pasokannya (misalnya untuk membayar utang luar negeri atau kebutuhan impor bahan baku).

Pelemahan rupiah membawa dampak bagi masyarakat berupaka biaya hidup meningkat karena barang impor lebih mahal yang berujung pada naiknya inflasi dan harga kebutuhan pokok. Kemudian daya beli tertekan terutama biaya operasional industri yang membutuhkan bahan baku impor melonjak, yang dapat berdampak pada penyesuaian harga jual hingga ancaman pemutusan hubungan kerja.

Memang di sisi lain, ini adalah kabar baik bagi eksportir karena pendapatan mereka dalam mata uang asing menjadi lebih besar nilainya jika dikonversi ke rupiah.

Advertisement

Karena itu meski mengalami tekanan, Bank Indonesia (BI) dipastikan tetap berada di pasar untuk menjaga agar volatilitas rupiah tidak bergerak terlalu liar. BI terus melakukan langkah intervensi secara terukur di pasar valuta asing (valas), baik melalui mekanisme spot maupun Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

Langkah stabilisasi ini dinilai krusial untuk menjaga kepercayaan investor dan memastikan bahwa pelemahan yang terjadi tidak mengganggu momentum pemulihan ekonomi nasional yang tengah berjalan.

Para pelaku pasar kini tengah menantikan rilis data ekonomi domestik selanjutnya, serta rilis data pengangguran dari Amerika Serikat yang dijadwalkan keluar akhir pekan ini, yang diprediksi akan kembali memberikan arah baru bagi pergerakan rupiah di awal pekan depan.***

Advertisement
Exit mobile version