Ekonomi
Rupiah Kamis 30 Juli 2026: Terdepresiasi ke Rp18.111, Berpotensi Konsolidasi di Zona Merah

Berdasarkan data perdagangan antarbank, nilai tukar (kurs) rupiah terkoreksi terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan maupun penutupan Kamis (30/7/2026). (Foto: AI/Istimewa)
FAKTUAL INDONESIA: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Serikat (AS) ditutup tertekan pada akhir perdagangan Kamis (30/7/2026). Rupiah melemah tipis akibat kombinasi sentimen eksternal terkait kebijakan suku bunga global serta tingginya permintaan valuta asing menjelang akhir bulan.
Berdasarkan data perdagangan antarbank, rupiah terkoreksi sebesar 38 poin atau 0,12 persen dan parkir di level Rp18.111 per dolar AS.
Namun Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini bergerak menguat di level Rp18.078 per dolar AS dari sebelumnya Rp18.087 per dolar AS.
Posisi rupiah pada penutupan merosot dibandingkan ketika dibuka melemah hanya 2 poin atau 0,01 persen menjadi Rp18.075 dibandingkan penutupan sebelumnya Rp18.073 per dolar AS.
Sepanjang hari perdagangan, mata uang domestik bergerak fluktuatif di rentang Rp18.075 hingga sempat menyentuh Rp18.125 per dolar AS sebelum akhirnya stabil di area Rp18.111.
Mengamati pasar uang regional, rupiah tidak sendiri melemah terhadap dolar AS. Terpantau untuk kawasan Asia Tenggara, Peso Filipina melemah 0,28 persen, ringgit Malaysia terkoreksi 0,27 persen, dan dolar Singapura turun 0,12 persen. Lebih lebar lagi ke daratan Asia, yen Jepang melemah 0,12 persen. Namun Yuan China menguat 0,14 persen, dolar Hong Kong naik 0,28 persen, dan won Korea Selatan terapresiasi 0,28 persen.
Faktor Pendorong Pelemahan
Pelemahan rupiah pada perdagangan Kamis dipengaruhi oleh beberapa faktor sentimen utama yang menahan penguatan mata uang kawasan Asia:
- Sikap Hawkish Bank Sentral AS (The Fed): Ketidakpastian arah kebijakan moneter AS dan ekspektasi bahwa suku bunga acuan akan bertahan tinggi lebih lama (higher-for-longer) terus memperkuat indeks dolar AS (DXY).
- Aksi Repatriasi Akhir Bulan: Adanya kenaikan permintaan Dolar AS dari korporasi domestik untuk pembayaran dividen dan pelunasan kewajiban utang luar negeri di akhir bulan Juli.
- Dinamika Pasar Komoditas Global: Fluktuasi harga komoditas unggulan impor memperbesar kebutuhan valas di dalam negeri.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam analisis hariannya, hari ini, seperti dilansir Metrotv, mengemukakan, pergerakan rupiah dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan yang lebih besar terhadap Iran menyusul serangan rudal Iran ke pangkalan militer AS di Yordania.
Di saat yang sama, Amerika Serikat bersama Arab Saudi melancarkan serangan terhadap kelompok paramiliter yang didukung Iran di Irak. Washington juga kembali melakukan operasi militer terhadap Iran setelah sempat menghentikan serangan sejak akhir pekan.
Situasi tersebut semakin memanas setelah Iran menutup jalur pelayaran strategis yang selama ini menjadi lintasan sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia. Di sisi lain, kelompok Houthi di Yaman juga memberlakukan blokade laut di Laut Merah yang mengganggu aktivitas pelayaran melalui Selat Bab el-Mandeb.
Selain sentimen geopolitik, pasar turut mencermati hasil rapat Federal Reserve (The Fed). Bank sentral AS mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,50-3,75 persen. Meski demikian, keputusan tersebut diwarnai perbedaan pandangan di kalangan anggota Federal Open Market Committee (FOMC), dengan tiga anggota menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Dari dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati prospek perlambatan ekonomi Indonesia. Sejumlah ekonom memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2026 berada di kisaran 4,8-4,9 persen, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan kuartal I-2026 yang mencapai 5,61 persen.
Perlambatan tersebut diperkirakan dipicu meningkatnya biaya produksi akibat gejolak global, kebijakan moneter yang lebih ketat, serta ketidakpastian pengelolaan fiskal di dalam negeri. Untuk sepanjang 2026, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan berada pada kisaran 4,9-5,1 persen atau di bawah target pemerintah sebesar 5,4 persen.
Selain itu, investor masih menunggu kepastian mengenai suksesi kepemimpinan Bank Indonesia setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri.
Pasar juga mencermati tekanan fiskal daerah, hambatan ekspor mineral, serta sejumlah data ekonomi penting yang akan dirilis pekan depan, antara lain inflasi Juli, neraca perdagangan, cadangan devisa, produk domestik bruto (PDB) kuartal II-2026, dan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK).
Prediksi Jumat, 31 Juli 2026
Memasuki perdagangan penutup pekan ini, Jumat (31/7/2026), pergerakan rupiah diperkirakan masih berpotensi berkonsolidasi di zona merah dengan rentang yang relatif terbatas. Pelaku pasar akan mencermati rilis data ekonomi makro domestik dan rilis data ketenagakerjaan dari AS.
“Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah bakal fluktuatif namun diprediksi melemah di rentang Rp 18.110 – Rp 18.160 per dolar AS,” ungkap Ibrahim.
- Area Support:080 – Rp18.100
- Area Resistance:130 – Rp18.160
- Proyeksi Pergerakan:090 – Rp18.140 per dolar AS
Analis pasar uang memprediksi rupiah pada hari Jumat besok akan bergerak dinamis. Jika tekanan Dolar AS sedikit mereda di pasar global, Bank Indonesia diproyeksikan tetap melakukan intervensi terukur di pasar spot dan DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward) untuk menjaga stabilitas mata uang Garuda agar tidak menembus level psikologis Rp18.150. ***