Ekonomi

Rupiah Jumat 8 Mei 2026: Lagi-lagi Melemah, Pekan Depan Tetap Menggantung

Published

on

Nilai tukar (kurs) rupiah kembali ditekan dolar Amerika Serikat (AS) sehingga melemah lagi mulai pembukaan hingga penutupan perdagangan valuta asing Jumat (8/5/2026). (AI/Ist)

Nilai tukar (kurs) rupiah kembali ditekan dolar Amerika Serikat (AS) sehingga melemah lagi mulai pembukaan hingga penutupan perdagangan valuta asing Jumat (8/5/2026). (AI/Ist)

FAKTUAL INDONESIA:  Melemah lagi, melemah lagi. Loyo Lagi, layo lagi. Begitulah nasib rupiah pada perdagangan akhir pecan, Jumat (8/5/2026).

Sedangkan untuk pecan depan, Senin (11/5/2026), nasib mata uang Garuda, masih menggantung karena sangat tergantung oleh gerakan orang lain. Apalagi kalau bukan situasi di Timur Tengah serta rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS).

Pada perdagangan valuta asing hari ini, nilai tukar (kurs) rupiah sudah melemah sejak pembukan dan kemudian masuk zona merah saat penutupan.

Saat pembukaan perdagangan di pagi hari, rupiah dibuka melemah 24 poin atau 0,14 persen menjadi Rp17.357 dari penutupan sebelumnya di level Rp17.333 per dolar AS.

Bahkan pada penutupan perdagangan, kurs rupiah tambah anjlok lagi menjadi melemah

Advertisement

49 poin atau 0,28 persen menjadi Rp17.382 per dolar AS.

Sedangkan Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Jumat ini juga bergerak melemah ke level Rp17.375 dari sebelumnya Rp17.362 per dolar AS.

Faktor Utama Pelemahan Rupiah

Analis menilai bahwa pelemanan ini bukan disebabkan oleh faktor internal, melainkan murni tekanan eksternal. Eskalasi militer antara AS dan Iran di Selat Hormuz menjadi pemicu utama.

“Rupiah tertekan karena eskalasi konflik di Selat Hormuz yang meningkatkan harga minyak dunia akibat aksi balasan militer AS terhadap Iran,” ujar Rully Nova, Analis Bank Woori Saudara.

Advertisement

Selain faktor geopolitik, beberapa poin penting berikut turut mewarnai pergerakan pasar hari ini:

  • Kenaikan Harga Minyak: Ketegangan di jalur logistik vital tersebut memicu lonjakan harga energi yang memberikan tekanan pada mata uang negara importir minyak seperti Indonesia.
  • Sentimen “Wait and See”: Investor cenderung beralih ke aset aman (safe haven) di tengah ketidakpastian global.
  • IHSG Turut Terkoreksi: Pelemahan Rupiah sejalan dengan ambruknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang anjlok 2,86% ke level 6.969 pada hari yang sama.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede seperti dilansir mediaindonesia, menyatakan, pelemahan rupiah meningkat seiring tensi di Timur Tengah menengah pascapenyerangan AS ke Iran.

“Tensi di Timur Tengah kembali meningkat pascapenyerangan AS ke Iran di hari ini. Alhasil, harga minyak global kembali meningkat dan dolar AS kembali terapresiasi secara luas,” kata Josua, Jumat.

Sepanjang pekan, menurut Josua, rupiah bergerak sideways seiring melemah pada awal pekan, dan kemudian sempat menguat di akhir sesi, akibat dukungan Tiongkok terhadap negosiasi perdamaian di Timur Tengah. Namun, kemudian kembali melemah pada Jumat ini.

Fundamental Ekonomi Masih Kokoh

Meskipun rupiah sempat menembus level psikologis di atas Rp17.400 pada awal pekan, Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa kondisi ini masih sejalan dengan tren pelemahan mata uang negara berkembang lainnya (emerging markets).

Advertisement

Pihak otoritas moneter menyatakan bahwa cadangan devisa Indonesia tetap kuat, berada di angka 148,2 miliar dolar AS per akhir Maret 2026. Selain itu, pertumbuhan ekonomi nasional pada Kuartal I-2026 yang mencapai 5,61% diharapkan menjadi bantalan yang kuat terhadap guncangan eksternal.

Prediksi Rupiah ke Depan

Ke depan, Rupiah diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif di kisaran Rp17.320 hingga Rp17.370. Para pelaku pasar kini memantau perkembangan situasi di Timur Tengah serta rilis data ekonomi Amerika Serikat yang akan sangat menentukan arah kebijakan suku bunga The Fed dan kekuatan dolar di pasar global.

“Pada perdagangan pekan depan, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang terbatas di level Rp17.300-Rp17.425 per USD,” kata Josua Pardede.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memberikan proyeksi terkait pergerakan mata uang domestik untuk awal pekan depan yang diperkirakan masih akan bergejolak.

Advertisement

“Sedangkan untuk perdagangan senin besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.380 – Rp 17.430,” ungkap Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya yang diperoleh pada Jumat.

Ibrahim menjelaskan bahwa pecahnya kembali pertempuran antara AS dan Iran menjadi faktor utama yang meredam harapan gencatan senjata serta pembukaan Selat Hormuz. Selain itu, pasar juga mencermati perbedaan sinyal dari pejabat Federal Reserve terkait kebijakan suku bunga di tengah inflasi yang masih tinggi.

“Para ekonom memperkirakan peningkatan 62.000 pekerjaan di AS untuk bulan April, sementara Tingkat Pengangguran diproyeksikan tetap stabil di 4,3%. Laporan ini mungkin akan menentukan langkah selanjutnya Federal Reserve (Fed) terkait kebijakan suku bunga,” ujarnya.

Dari faktor internal, posisi utang pemerintah per 31 Maret 2026 tercatat mencapai Rp 9.920,42 triliun atau setara 40,75 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut menunjukkan kenaikan hampir 3 persen jika dibandingkan dengan posisi pada Desember 2025 yang berada di level Rp 9.637,9 triliun. ***

Advertisement
Exit mobile version