Ekonomi
Rupiah Jumat 17 Juli 2026: Tambah Menguat di Akhir Pekan, Modal Bahan Bakar Bertahan Senin Depan

Penguatan nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di perdagangan akhir pekan, Jumat (17/7/2026), tidak lepas dari kombinasi sentimen positif dari dalam maupun luar negeri. (Ist)
FAKTUAL INDONESIA: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sukses menutup perdagangan pekan ini dengan senyuman manis. Setelah sempat tertekan cukup dalam selama beberapa pekan terakhir, mata uang Garuda akhirnya berhasil bangkit dan mendarat di zona hijau pada akhir pekan ini, Jumat (17/7/2026).
Berdasarkan data pasar spot, rupiah ditutup menguat signifikan sebesar 65 poin atau 0,45 persen ke level Rp17.921 per dolar AS. Performa impresif ini menjadi angin segar bagi pasar keuangan domestik setelah rupiah sempat terseok-seok hingga menyentuh kisaran Rp18.140-an per dolar AS di awal pekan.
Di akhir pekan ini rupiah sudah tampil positif sejak pembukaan perdagangan Jumat pagi ketika bergerak menguat 6 poin atau 0,03 persen menjadi Rp17.980 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.986 per dolar AS.
Setelah itu rupiah secara perlahan namun pasti terus menambah penguatan sehingga makin dalam berada di zona hijau saat penutupan.
Penguatan juga tercatat pada Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia yang bergerak menguat di level Rp17.944 per dolar AS dari sebelumnya Rp18.041 per dolar AS.
Hebatnya lagi, penguatan rupiah kali ini terjadi di tengah lesunya mayoritas mata uang di kawasan Asia yang justru keok melawan dolar AS.
Sentimen Positif S&P dan Data AS
Penguatan rupiah di hari Jumat ini tidak lepas dari kombinasi sentimen positif dari dalam maupun luar negeri.
Dari dalam negeri, lembaga pemeringkat internasional S&P (Standard & Poor’s) baru saja mempertahankan sovereign credit rating Indonesia. Keputusan ini menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih dinilai kokoh dan stabil di mata investor global, sehingga memberikan suntikan kepercayaan bagi pasar.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi, dalam keterangannya, Jumat (17/7/2026), mengemukakan, dari faktor domestik pergerakan rupiah dipengaruhi rilis Bank Indonesia (BI) tentang hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) periode kuartal II-2026. Aktivitas dunia usaha terpantau meningkat. BI melaporkan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) pada kuartal II-2026 berada di 12,97%, meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya yakni 10,11%.
Sejalan dengan itu, kapasitas produksi terpakai pada kuartal II-2026 tercatat sebesar 73,8%. Lebih tinggi ketimbang realisasi kuartal sebelumnya yang sebesar 73,33%. Peningkatan kapasitas produksi terpakai terutama ditopang oleh LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, LU Pertambangan dan Penggalian, dan LU Pengadaan Listrik.
Sementara itu, kondisi keuangan dunia usaha secara umum tetap baik pada aspek likuiditas maupun rentabilitas, dengan akses kredit yang tetap mudah. Untuk kuartal III-2026, responden memperkirakan aktivitas dunia usaha sedikit melambat dengan SBT di 11,75%.
Kinerja lapangan usaha yang diperkirakan meningkat adalah LU Industri Pengolahan, LU Perdagangan Besar dan Eceran, serta Reparasi Mobil dan Motor sejalan dengan prakiraan terjaganya permintaan masyarakat, serta LU Konstruksi seiring dengan berlanjutnya pengerjaan sejumlah proyek pemerintah dan swasta.
“Selain itu, kinerja kegiatan usaha pada LU Pertambangan dan Penggalian juga diprakirakan meningkat. Hal ini dipengaruhi oleh penurunan curah hujan sehingga mendorong kenaikan aktivitas pertambangan,” katanya.
Sementara dari eksternal, rilis data ekonomi AS—termasuk indeks harga produsen (PPI) yang melandai—meredam keagresifan indeks dolar AS (DXY). Imbasnya, aliran modal kembali masuk ke pasar keuangan domestik dan memberi ruang bagi rupiah untuk melakukan rebound tajam.
Seperti dilansir liputan6, menurut Ibrahim, sentimen eksternal masih didominasi meningkatnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Gelombang serangan terbaru AS terhadap sejumlah target Iran memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasokan energi global. Iran dilaporkan membalas serangan tersebut dengan meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.
Situasi tersebut mendorong harga minyak dunia tetap bertahan di level tinggi. Kenaikan harga energi dinilai berpotensi menghidupkan kembali tekanan inflasi global setelah sebelumnya mulai menunjukkan tren melandai.
“Permusuhan yang diperbarui telah memperpanjang konflik Timur Tengah hingga bulan kelima, menjaga harga minyak mentah tetap tinggi dan menghidupkan kembali kekhawatiran bahwa biaya energi yang lebih tinggi dapat memicu kembali inflasi,” ujarnya.
Ibrahim menjelaskan, tingginya harga minyak juga menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat memengaruhi langkah Federal Reserve (The Fed). Meski data inflasi konsumen maupun produsen AS terbaru menunjukkan tekanan harga mulai mereda, pasar lebih fokus pada risiko inflasi akibat lonjakan harga energi.
Kondisi tersebut membuat ekspektasi penurunan suku bunga AS kembali tertahan. Pejabat The Fed juga masih menegaskan bahwa risiko inflasi belum sepenuhnya hilang. Bank sentral AS disebut masih membutuhkan beberapa bulan lagi data inflasi yang konsisten sebelum mempertimbangkan pelonggaran kebijakan moneter.
Proyeksi Nilai Tukar Rupiah Hari Senin Depan
Melihat tren positif di penutupan pekan ini, bagaimana nasib rupiah saat pasar kembali dibuka pada Senin depan?
Sejumlah analis memproyeksikan rupiah masih memiliki bahan bakar untuk mempertahankan posisinya di bawah level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Namun, pelaku pasar diimbau untuk tetap waspada terhadap pergerakan dinamika global.
Berikut beberapa faktor penentu pergerakan rupiah pada Senin depan:
- Aksi Profit Taking: Setelah penguatan tajam di hari Jumat, ada potensi pelaku pasar melakukan aksi ambil untung (profit taking) jangka pendek yang bisa sedikit menahan laju penguatan rupiah.
- Pernyataan Pejabat The Fed: Pelaku pasar global masih akan mencermati sinyal-sinyal kebijakan moneter dari para pejabat bank sentral AS (The Fed) terkait arah suku bunga.
Prediksi Rentang Kurs Senin:
Rupiah diprediksi akan bergerak fluktuatif namun cenderung stabil dalam rentang Rp17.880 hingga Rp17.980 per dolar AS. Jika sentimen domestik tetap kondusif, bukan tidak mungkin rupiah merangkak naik mendekati level Rp17.850.
Ibrahim Assuaibi memproyeksikan pada perdagangan Senin mendatang mata uang rupiah diprediksi fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp17.870- Rp17.930 per dolar AS.
“Sedangkan dalam perdagangan sepekan di level Rp17.750-Rp18.050 per dolar AS,” kata Ibrahim. ***