Ekonomi
Rupiah Jumat 10 Juli 2026: Menguat tapi Masih Di Atas Rp18.000, Pekan Depan Dinamis Fluktuatif

Ada senyum di penutupan perdagangan valuta asing Jumat (10/7/2026) ketika nilai tukar (kurs) rupiah dibuka dan ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS). (Foto : Istimewa)
FAKTUAL INDONESIA: Rupiah berhasil menutup pekan ini dengan senyuman. Setelah sempat tertekan dalam beberapa hari terakhir, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melesat ke zona hijau meskipun masih di atas Rp18.000 pada penutupan perdagangan Jumat (10/7/2026).
Berdasarkan data pasar spot, rupiah perkasa dengan menguat 63 poin atau sekitar 0,35 persen ke level Rp18.065 per dolar AS, dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya yang sempat tertahan di posisi Rp18.128 per dolar AS.
Sejak pembukaan perdagangan valuta asing, Jumat pagi, rupiah memang langsung dibuka menguat dan kemudian bertahan stabil di zona hijau dengan level yang sama hingga penutupan.
Baca Juga : Rupiah Kamis 9 Juli 2026: Terperosok Tajam ke Rp18.128, Masih Cendrung Melemah
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak menguat di level Rp18.069 per dolar AS dari sebelumnya Rp18.090 per dolar AS.
Suntikan Optimisme Global
Keperkasaan rupiah di akhir pekan ini tidak lepas dari sentimen positif lembaga keuangan internasional. Pasar merespons baik keputusan Dana Moneter決 (IMF) dan Asian Development Bank (ADB) yang kompak memasang rapor hijau untuk masa depan ekonomi Indonesia.
- Proyeksi IMF: IMF mempertahankan perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap solid di level 5,0 persen untuk tahun 2026 dan diprediksi naik ke 5,1 persen pada 2027. Angka ini tergolong istimewa karena berada di atas rata-rata pertumbuhan negara berkembang Asia lainnya yang diperkirakan melambat ke 4,8 persen.
- Proyeksi ADB: Senada dengan IMF, ADB bahkan lebih optimistis dengan memproyeksikan ekonomi Indonesia mampu menyentuh angka 5,2 persen pada 2026 dan 2027 berkat fundamental ekonomi dalam negeri yang dinilai stabil.
Baca Juga : Rupiah Rabu 8 Juli 2026: Melemah ke Rp18.014 setelah Amerika Serang Iran Lagi, Tetap Fluktuatif Tertekan
Analis Mata Uang, Ibrahim Assuaibi, membenarkan bahwa laporan berkala dari lembaga internasional tersebut berhasil memicu aliran modal kembali masuk dan mengangkat kepercayaan diri para pelaku pasar, di tengah memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang sempat menekan mata uang Asia.
Padahal sentimen eksternal masih bergejolak. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran telah berakhir, dan memerintahkan serangan lebih lanjut terhadap negara tersebut, yang memicu tindakan balasan dari Teheran. Konflik tersebut telah menunda pembukaan kembali sepenuhnya Selat Hormuz, jalur air utama yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas global setiap hari sebelum perang.
Lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi yang didorong energi, yang pada gilirannya dapat memicu sikap yang lebih agresif dari Federal Reserve.
Pasar terlihat terus meningkatkan taruhan mereka pada kenaikan suku bunga Fed pada 2026 pekan ini, menurut CME Fedwatch Tool, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 63 persen pada pertemuan di September.
Baca Juga : Rupiah Selasa 7 Juli 2026: Menguat Menjauh dari Level Psikologis, Berpotensi Menjaga Penguatan
Proyeksi Senin Dinamis
Memasuki awal pekan depan, Senin (13 Juli 2026), pergerakan rupiah diprediksi akan berjalan dinamis dan fluktuatif. Penguatan hari ini menjadi modal bagus, namun pasar tetap perlu waspada.
| Faktor Pendorong (Bullish) | Faktor Penahan (Bearish) |
| Kepercayaan pasar pasca-rilis pertumbuhan ekonomi oleh IMF & ADB. | Target APBN 2026 pemerintah (5,4%) masih lebih tinggi dari proyeksi global. |
| Aksi ambil untung (profit taking) investor terhadap dolar AS. | Ketegangan geopolitik global yang sewaktu-waktu bisa memicu safe haven (pemburuan dolar). |
Baca Juga : Rupiah Senin 6 Juli 2026: Melemah dan Sempat Sentuh Rp18.016, Tekanan Volatilitas Tinggi Masih Membayangi
Para analis memperkirakan rupiah pada hari Senin depan akan bergerak fluktuatif namun memiliki kecenderungan mempertahankan posisinya. Kisaran pergerakan diproyeksikan akan berada di rentang Rp18.020 hingga Rp18.110 per dolar AS. Jika sentimen domestik tetap kuat, bukan tidak mungkin rupiah akan perlahan merangkak kembali ke bawah level psikologis Rp18.000.
Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah masih bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp18.060-Rp18.110 per dolar AS. ***