Ekonomi

Rupiah Hari Jumat 4 September 2026: Solid Menguat di Akhir Pekan, Awas Volatilitas Tipis Senin

Published

on

Fokus pelaku pasar pada ketegangan yang makin meningkat di Selat Hormuz menjadi salah satu pendorong menguatnya rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (4/9/2026). (Foto: Istimewa)

FAKTUAL INDONESIA: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menutup perdagangan akhir pekan ini dengan performa solid. Pada penutupan pasar spot Jumat (4/9/2026), rupiah berhasil melonjak 37 poin atau menguat 0,21 persen ke level Rp17.642 per dolar AS dari posisi sebelumnya.

Penguatan rupiah pada penutupan perdagangan valuta asing  hari ini lebih tipis dibandingkan saat pembukaan Jumat pagi. Ketika pembukaan, mata uang Garuda sudah langsung masuk zona hijau dengan langkah menguat 51 poin atau 0,29 persen menjadi Rp17.628 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.679 per dolar AS.

Pada Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia rupiah juga tercatat  menguat dengan naik ke level Rp17.636 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.689 per dolar AS.

Laju positif ini memperpanjang tren pemulihan rupiah dalam beberapa pekan terakhir di tengah antisipasi pelaku pasar terhadap arah kebijakan suku bunga global.

Dengan kembali menghijau hari ini maka untuk tingkat regional rupiah ikut bergabung dengan mayoritas mata uang negara-negara Asia lainnya yang juga menguat terhadap dolar AS. Untuk kawasan Asia Tenggara penguatan dicetak oleh dolar Singapura yang menguat (0,02%), dan baht Thailand (0,003%). Sedangkan peso Filipina melemah setelah terkoreksi (-0,21%) dan ringgit Malaysia (-0,04%).

Sedangkan lebih luas lagi untuk kawasan Asia, dolar Taiwan mencatat penguatan paling siginifikan dengan naik (0,42%) setelah itu won Korea Selatan (0,27%), yuan China (0,1%), dan rupee India (0,007%).  Sementara itu, yen Jepang merosot tajam  dengan melemah (0,33%),  diiringi  dolar Hong Kong ( 0,01%).

Advertisement

Fokus Selat Hormuz

Pengamat Pasar Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah terjadi karena pelaku pasar fokus pada kondisi di Selat Hormmuz  di tengah memanasnya eskalasi terbaru antara militer AS dan Iran.

“Iran telah memperluas pembatasan pelayaran internasional di jalur perairan tersebut, sehingga memicu kekhawatiran bahwa gangguan dapat terus berlanjut dan memperketat pasokan di pasar minyak global,” tulis Ibrahim dalam risetnya seperti dilansir RCTI+.

Di sisi lain, pasar merespons positif pernyataan dovish dari Gubernur Fed Christopher Waller yang membuat para pedagang tetap waspada terhadap kemungkinan pergerakan suku bunga pada September. Waller menilai telah melihat beberapa tanda disinflasi dalam data terbaru, dan bahwa keputusan suku bunga pada September bergantung pada inflasi pada Agustus. Dia akan mendukung suku bunga tidak berubah jika data Agustus mengkonfirmasi kemajuan baru-baru ini.

Para pedagang kini menunggu laporan Nonfarm Payrolls (NFP) hari ini untuk mendapatkan petunjuk baru tentang prospek kebijakan moneter The Fed. Data Nonfarm Payrolls diperkirakan menunjukkan penambahan 56.000 pekerjaan pada Agustus, sementara Tingkat Pengangguran diproyeksikan tetap stabil di 4,1 persen selama periode yang sama.

Advertisement

Dari internal, para ekonom menilai target pertumbuhan ekonomi Indonesia 6 persen di 2027 tidak mudah dicapai di tengah tren suku bunga yang kembali meningkat. Investasi akan menjadi faktor penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan. Namun, kondisi suku bunga yang meningkat menjadi tantangan bagi pemerintah dan pelaku usaha ditambah tensi geopolitik global belum tentu selesai tahun depan.

Faktor Pendorong Penguatan

Penguatan rupiah pada penutupan pekan pertama September 2026 ini didorong oleh kombinasi sentimen domestik dan eksternal:

  • Sinyal Pelonggaran Bank Sentral AS (The Fed): Melandainya sejumlah data tenaga kerja dan ekonomi AS memberi ruang bagi pasar untuk berspekulasi bahwa The Fed akan segera memangkas suku bunga acuan. Kenaikan ekspektasi ini menekan indeks dolar AS (Greenback).
  • Intervensi Pasar Bank Indonesia (BI): Langkah konsisten BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar melalui pasar DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward) serta intervensi di pasar spot dan SBN memberikan pondasi kuat bagi mata uang domestik.
  • Inflow Pasar Modal: Masuknya kembali aliran modal asing (capital inflow) ke pasar obligasi dan saham Indonesia menambah pasokan valas di dalam negeri.

Prediksi Kurs Senin, 7 September 2026

Memasuki awal pekan depan, pergerakan rupiah diperkirakan masih berpotensi melanjutkan konsolidasi positif, meski dinamika pasar global berpeluang memicu volatilitas tipis.

Ibrahim yang juga Direktur PT Traze Andalan Futures memperkirakan rupiah pada perdagangan Senin (7/9/2026) akan bergerak fluktuatif dan berpotensi ditutup melemah.

Advertisement

“Sedangkan untuk perdagangan Senin depan, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp17.640-Rp17.690. sedangkan untuk sepekan depan di range Rp17.550-Rp17.850,” katanya.

  • Sentimen Kunci: Rilis data ketenagakerjaan AS (Non-Farm Payrolls / NFP) yang diumumkan pada Jumat malam akan menjadi penentu utama arah indeks dolar di awal pekan. Jika data tersebut melemah, arus modal ke pasar keuangan negara berkembang (emerging markets) diperkirakan makin kencang.
  • Proyeksi Rentang Kurs: Pada perdagangan Senin (7/9/2026), nilai tukar rupiah diproyeksikan bergerak bervariasi di kisaran 580 – Rp17.680 per dolar AS.

Jika sentimen positif bertahan, rupiah berpeluang menembus level psikologis baru di bawah Rp17.600 per dolar AS. Sebaliknya, bila dolar mengalami kembalinya aksi profit taking, rupiah diperkirakan tertahan di area Rp17.650. ***

Exit mobile version