Ekonomi

Pasar Keuangan Selasa 21 April 2026: Rupiah Menguat Lagi, IHSG Tergerus Sentimen MSCI di Hari Hartini

Published

on

Di saat nilai tukar rupiah menguat lagi meninggalkan zona merah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) justru harus tetap parkir di teritori negatif pada perdagangan Selasa (21/4/2026). (Ist)

Di saat nilai tukar rupiah menguat lagi meninggalkan zona merah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) justru harus tetap parkir di teritori negatif pada perdagangan Selasa (21/4/2026). (Ist)

FAKTUAL INDONESIA:  Pada Hari Kartini, Selasa (21/4/2026), dinamika pasar keuangan Indonesia masih menunjukkan tren yang kontras. Di saat nilai tukar rupiah menguat lagi meninggalkan zona merah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) justru harus tetap parkir di teritori negatif akibat tekanan dari sektor saham berkapitalisasi besar.

Rupiah Tangguh di Tengah Geopolitik

Nilai tukar rupiah ditutup menguat tipis 25 poin atau 0,15% ke level Rp17.143 per dolar Amerika Serikat (AS), dari penutupan sebelumnya di angka Rp17.168.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak menguat ke level Rp17.142 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.176 per dolar AS.

Namun penguatan rupiah di penutupan perdagangan valuta asing Selasa sore menurun dibandingkan saat pembukaan ketika dibuka menguat 42 poin atau 0,24 persen menjadi Rp17.126 dari penutupan sebelumnya di level Rp17.168 per dolar AS.

Advertisement

Ketangguhan ekonomi domestik menjadi motor utama penguatan ini. Pengamat pasar menilai, harapan akan deeskalasi konflik di Timur Tengah (AS-Iran) memberikan ruang napas bagi mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Investor mulai kembali melirik aset berisiko seiring dengan langkah pemerintah yang terus menyelaraskan kebijakan fiskal demi menjaga target pertumbuhan ekonomi.

Mengutip Kontan, Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong menjelaskan, penguatan rupiah pada hari ini sebenarnya sempat lebih besar di awal sesi. Namun, pergerakan mata uang Garuda tertahan oleh beragam sentimen global, terutama terkait perkembangan geopolitik di Timur Tengah.

Meski demikian, rupiah masih mendapat dukungan dari faktor domestik. Salah satunya adalah langkah pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), serta ekspektasi pasar terhadap sikap Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang digelar Rabu (22/4/2026).

Menurut Lukman, investor saat ini mengantisipasi kemungkinan BI akan mengambil sikap lebih ketat (hawkish), baik melalui kenaikan suku bunga maupun sinyal pengetatan dalam waktu dekat.

Untuk perdagangan Rabu (22/4/2026), Lukman memperkirakan rupiah masih berpeluang menguat dengan pergerakan di kisaran Rp 17.100 – Rp 17.200 per dolar AS.

Advertisement

IHSG Diperkirakan Sideways

Berbanding terbalik dengan rupiah, IHSG berakhir melemah 0,46% atau turun 34,73 poin ke posisi 7.559,38. Sementara, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 12,18 poin atau 1,61 persen ke posisi 743,67.

Meski secara sektoral banyak saham yang menghijau, namun jatuhnya beberapa saham “raksasa” menjadi pemberat utama indeks.

IHSG sudah melemah sejak pembukaan perdagangan sahal ketika  dibuka terkoreksi 33,83 poin atau 0,45 persen ke posisi 7.560,28. Kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 7.00 poin atau 0,93 persen ke posisi 748,85.

Seperti dilansir IDXChannel, tercatat sebanyak 405 saham bergerak menguat, 283 saham melemah, dan 271 saham lainnya stagnan. Volume transaksi tercatat mencapai 40,77 miliar saham, dengan nilai transaksi sebesar Rp17,38 triliun. Sedangkan frekuensi perdagangan mencapai 2,67 juta kali transaksi. Sementara kapitalisasi pasar atau market cap senilai Rp13.442 triliun.

Advertisement

Meski demikian, sembilan indeks sektoral bergerak di zona hijau. Hanya sektor energi dan infrastruktur yang melemah masing-masing 1,02 persen dan 0,07 persen.

Saham-saham yang masuk top gainers yaitu saham PT Formosa Ingredient Factory Tbk (BOBA) menguat 34,91 persen ke Rp228, PT Trimitra Propertindo Tbk (LAND) naik 34,72 persen ke Rp97, dan PT LCK Global Kedaton Tbk (LCKM) menanjak 34,48 persen ke Rp156.

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang mengatakan, pelemahan IHSG dipicu oleh pengumuman MSCI yang masih membekukan rebalancing indeks saham Indonesia untuk periode Mei 2026.

“MSCI masih akan mengevaluasi konsistensi dan efektivitas kebijakan baru, termasuk transparansi data kepemilikan saham dan rencana kenaikan batas minimum free float,” ujar Alrich kepada Kontan, Selasa (21/4/2026).

Ia menambahkan, pelaku pasar juga mengantisipasi potensi keluarnya saham dengan kategori High Shareholding Concentration (HSC) dari indeks MSCI.

Advertisement

Meski demikian, kekhawatiran penurunan status pasar modal Indonesia ke kategori frontier market dinilai mulai mereda.

Dari sisi teknikal, Alrich melihat IHSG masih memiliki peluang bergerak terbatas. “Secara teknikal, IHSG diperkirakan bergerak sideways pada kisaran 7.480–7.620,” jelasnya.

Ia menyebutkan level support berada di 7.480, pivot di 7.600, dan resistance di 7.620.

Untuk perdagangan Rabu (22/4/2026), Alrich merekomendasikan sejumlah saham yang dapat dicermati, yakni BMRI, PANI, PTRO, SSIA, dan ACES.

Pelemahan ini dipicu oleh dua faktor utama:

Advertisement
  1. Sentimen MSCI: Keputusan MSCI untuk memperpanjang peninjauan pasar Indonesia memberikan tekanan jual. Saham seperti DSSA dan BREN ambruk signifikan setelah adanya potensi didepak dari indeks global tersebut karena masuk kategori konsentrasi kepemilikan tinggi (High Shareholding Concentration).
  2. Aksi Profit Taking: Menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia, banyak investor memilih untuk melakukan aksi ambil untung (profit taking) sambil memantau arah kebijakan suku bunga acuan. ***

Ringkasan Pasar (Selasa, 21 April 2026)

Instrumen Posisi Penutupan Perubahan
Kurs Rupiah Rp17.143 / USD +0,15% (Menguat)
IHSG 7.559,38 -0,46% (Melemah)
Total Transaksi Rp17,38 Triliun

Exit mobile version