Ekonomi

Neraca Perdagangan November 2025 Lanjutkan Tren Surplus 67 Bulan, Mendag Busan: Didorong Kinerja Positif Nonmigas

Published

on

Neraca Perdagangan November 2025 Lanjutkan Tren Surplus 67 Bulan, Mendag Busan: Didorong Kinerja Positif Nonmigas

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso (Busan), saat mengumumkan negara perdagangan Indonesia pada November 2025 kembali surplus dimana secara kumulatif ekspor pertanian naik tertinggi hingga 24,63 persen (CtC). (Kemendag)

FAKTUAL INDONESIA: Menteri Perdagangan (Mendag) Budi  Santoso (Busan) mengemukakan, neraca perdagangan Indonesia pada November 2025 melanjutkan tren surplus 67 bulan berturut-turut setelah mencatatkan surplus USD 2,66 miliar, atau lebih besar dibandingkan surplus Oktober 2025 yang senilai USD  2,39  miliar.

Menurut Mendag Busan, surplus  neraca  perdagangan  pada  November  2025 tersebut  didorong  kinerja  positif  di  sektor  nonminyak  dan  gas  (nonmigas).  Pada  periode  tersebut, neraca perdagangan nonmigas berhasil mencatatkan surplus USD 4,64 miliar.

Baca Juga : Wamendag Roro Tegaskan Bappebti Harus Mencegah Transaksi PBK untuk Pencucian Uang dan Pendanaan Terorisme

“Capaian neraca perdagangan pada November 2025 melanjutkan tren surplus untuk 67 bulan berturut-turut  sejak  Mei  2020.  Neraca  perdagangan  nonmigas  mencatat  surplus  USD  4,64  miliar,  sementara neraca minyak dan gas (migas) mencatat defisit USD 1,98 miliar,” kata Mendag Busan di Jakarta, Selasa (6/1/2026).

Seperti dilansir siaran pers Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Perdagangan (Kemendag), secara kumulatif, neraca perdagangan pada Januari – November 2025 mencatatkan surplus sebesar USD 38,54 miliar. Nilai tersebut lebih tinggi dibandingkan Januari – November 2024 yang sebesar USD 29,24 miliar. Surplus kali ini terutama didorong surplus nonmigas sebesar USD 56,15 miliar dan defisit migas sebesar USD 17,61 miliar.

Surplus nonmigas pada Januari – November 2025 sebagian besar disumbang oleh perdagangan dengan beberapa negara mitra utama, antara lain, Amerika Serikat (AS) sebesar USD 19,21 miliar, disusul India USD 12,16 miliar dan Filipina USD 7,72 miliar.

Advertisement

Baca Juga : Rakor Percepatan Pemulihan Pascabencana Sumatra, Wamendag Roro Sampaikan Kemendag Dorong Pemulihan Pasar Hadapi Ramadan

Kinerja Ekspor Meningkat

Pada November 2025, ekspor Indonesia mencapai USD 22,52 miliar atau turun 7,08 persen dibanding Oktober 2025 (MoM). Penurunan ini terutama didorong turunnya ekspor nonmigas sebesar 7,30 persen (MoM) dan turunnya ekspor migas sebesar 1,25 persen.

Mendag Busan menyampaikan, secara kumulatif, total ekspor Indonesia pada Januari – November 2025 adalah  sebesar  USD  256,56  miliar.  Nilai  itu  tumbuh  5,61  persen  dibanding  Januari – November  2024 (CtC). Peningkatan ekspor ini turut ditopang pertumbuhan ekspor nonmigas sebesar 7,07 persen (CtC) menjadi USD 244,75 miliar.

“Tiga komoditas nonmigas utama dengan pertumbuhan ekspor tertinggi pada Januari – November 2025 adalah  aluminium  dan barang  daripadanya  (HS  76)  yang naik  hingga  57,69  persen; berbagai  produk kimia (HS 38) naik 48,02 persen; serta kakao dan olahannya (HS 18) naik 44,06 persen (CtC),” ungkap Busan.

Baca Juga : Bertemu Mendag Komisi Ekonomi Eurasia, Busan: Memastikan Implementasi Indonesia – EAEU FTA Memberikan Manfaat Nyata

Kemudian, sektor industri pengolahan mendominasi struktur ekspor Januari – November 2025 dengan kontribusi 80,27 persen, disusul pertambangan dan lainnya (12,65 persen), migas (4,60 persen), serta pertanian (2,48 persen).

Advertisement

“Secara  kumulatif,  ekspor  pertanian  naik  tertinggi  hingga  24,63  persen  (CtC).  Ekspor  industri pengolahan  juga  naik  sebesar  14,00  persen,  namun  sektor  pertambangan  dan  lainnya  turun  24,24 persen serta migas turun 17,64 persen (CtC),” tuturnya.

Busan   memaparkan,  Tiongkok,  AS,  dan  India  masih  menjadi  pasar  utama  ekspor  nonmigas pada  Januari — November  2025.  Total  nilai  ekspor  ketiga  negara  tersebut  adalah  sebesar  USD  102,82 miliar  atau  42,02  persen  dari  total  ekspor  nonmigas  nasional.  Sementara  itu,  negara  tujuan  ekspor dengan  peningkatan  tertinggi  secara  kumulatif,  antara  lain,  Swiss  dengan  kenaikan  220,13  persen, Thailand (33,95 persen), dan Singapura (31,20 persen) (CtC).

Berdasarkan kawasannya, ekspor ke Asia Tengah mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 64,15  persen, diikuti Afrika Barat sebesar 63,76 persen, dan Eropa Barat 44,66 persen.

Baca Juga : Indonesia Siap Tandatangani FTA – Uni Ekonomi Eurasia, Mendag Busan: Strategis untuk Memperluas Akses Pasar

Kinerja Impor Barang Modal

Pada November 2025, kinerja impor Indonesia tercatat sebesar USD 19,86 miliar. Nilai ini turun 9,09 persen  dibanding  Oktober  2025  (MoM).  Nilai  impor  November  2025  terdiri  atas  sektor  nonmigas sebesar USD 17,00 miliar dan migas sebesar USD 2,86 miliar.

Advertisement

“Secara  kumulatif,  impor  Indonesia  pada  Januari – November  2025  mencapai  USD  218,02  miliar  atau tumbuh  2,03  persen  (CtC). Peningkatan  ini  disebabkan  oleh  impor  nonmigas  yang  naik  4,37  persen menjadi USD 188,61 miliar dibanding Januari – November 2024 yang sebesar USD 180,71 miliar,” ujar Busan.

Beberapa komoditas impor nonmigas dengan peningkatan tertinggi, antara lain, garam, belerang, batu, dan semen (HS 25) sebesar 70,89 persen; kakao dan olahannya (HS 18) 54,53 persen; serta berbagai produk kimia (HS 38) 36,12 persen (CtC).

Baca Juga : Mendagri Tinjau Lokasi Kebakaran Terra Drone, Tekankan Evaluasi Kelayakan Bangunan Berisiko Tinggi

Berdasarkan   negara   asal,   impor   nonmigas   Indonesia   pada   Januari – November   2025   didominasi Tiongkok,  Jepang,  dan  AS  dengan  kontribusi  gabungan  mencapai  52,87  persen  terhadap  total  impor nonmigas. Sementara itu, negara asal impor  dengan kenaikan tertinggi dibanding Januari – November 2024 adalah Meksiko dengan 234,22 persen, Uni Emirat Arab 74,86 persen, dan Spanyol 38,32 persen (CtC).

Selain itu, struktur imporJanuari – November 2025 masih didominasi bahan baku atau penolong dengan pangsa 70,27 persen, diikuti barang modal 20,55 persen dan barang konsumsi 9,18 persen. Dibanding Januari – November  2024,  impor  barang  modal  naik 18,54  persen, sementara  impor  barang  konsumsi turun 2,02 persen, dan bahan baku atau penolong turun 1,46 persen.

“Kenaikan impor barang modal yang mencapai 18,54 persen turut disebabkan naiknya imporcentral processing  unit (CPU),ponsel  pintar,mobil  listrik  (selain completely  knocked  down/CKD), dan  base station,” ujar Busan.

Advertisement

Selanjutnya,  impor  produk  bahan  baku  atau  penolong  dengan  penurunan  terdalam  pada  Januari – November 2025, yaitu bahan bakar minyak, gula tebu, kacang kedelai, bungkil untuk pakan ternak, dan polipropilena. Di sisi lain, impor barang konsumsi turun terutama untuk  mesin pengatur suhu udara, bawang putih, mobil listrik (CKD), non-dairy creamer, dan obat-obatan. ***

Exit mobile version