Ekonomi
Mengejutkan! 75 Persen Peluang Kerja Luar Negeri Masih Belum Terisi

Menteri P2MI Mukhtarudin pada acara Penandatanganan Nota Kesepahaman dan Perjanjian Kerja Sama antara Kementerian P2MI/BP2MI dengan Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Banjarmasin, Selasa (23/6/2026). (Ist)
FAKTUAL INDONESIA: Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia Drs. Mukhtarudin menyatakan, penguatan sistem pelindungan dan penyiapan tenaga kerja terampil sangat mendesak mengingat Indonesia saat ini berada di puncak bonus demografi.
“Di saat kita memiliki kelimpahan penduduk usia produktif, negara-negara maju justru sedang berjuang melawan fenomena aging population yang mengakibatkan mereka mengalami defisit tenaga kerja.”
“Di sinilah letak titik temu yang strategis antara kelebihan sumber daya manusia kita dan tingginya kebutuhan tenaga kerja dunia,” papar Menteri Mukhtarudin dalam sambutannya pada acara Penandatanganan Nota Kesepahaman dan Perjanjian Kerja Sama antara Kementerian P2MI/BP2MI dengan Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Banjarmasin, Selasa (23/6/2026).
Presiden Prabowo, ungkap Menteri Mukhtarudin, memberi arahan agar meningkatkan kualitas pelindungan dari sebelum, selama dan setelah bekerja serta mengoptimalkan penempatan Pekerja Migran Indonesia terampil dari medium-high skill.
Arahan tersebut sekaligus menegaskan pentingnya membangun ekosistem migrasi yang aman, profesional, dan terintegrasi melalui sinergi lintas instansi. Dalam hal ini, institusi pendidikan tinggi seperti Universitas Lambung Mangkurat memiliki peran strategis ganda, yakni; sebagai mitra hulu yang menyiapkan sumber daya manusia kompeten dan tersertifikasi sejak dari bangku kuliah, sesuai kebutuhan pasar kerja global.
Serta, sebagai garda edukasi yang membentengi mahasiswa dan masyarakat di sekitarnya dari jebakan migrasi non-prosedural, melalui literasi tentang jalur bekerja ke luar negeri yang aman dan resmi.
Pergerakan Pekerja Migran Indonesia
Berdasarkan data SISKOP2MI periode Januari 2025 hingga 21 Juni 2026, jelas Mukhtarudin lebih lanjut, secara nasional kita telah memfasilitasi sebanyak 439.543 layanan penempatan. Penempatan tertinggi ini didominasi oleh lima negara tujuan utama kita, yaitu Taiwan, Malaysia, Hongkong, Jepang, dan Singapura.
Tingginya angka layanan penempatan tersebut juga selaras dengan besarnya peluang yang masih tersedia. Berdasarkan data SIP2MI per 21 Juni 2026, terdapat peluang kerja luar negeri sebanyak 311.073 posisi.
Dari jumlah tersebut, yang telah terserap baru mencapai 76.979 atau sekitar 24,75%, sehingga masih terdapat 234.094 peluang kerja atau sekitar 75,25% yang terbuka dan menanti untuk diisi oleh tenaga kerja Indonesia yang kompeten dan memenuhi kualifikasi.
“Dalam merespons besarnya peluang di tingkat global tersebut, wilayah Kalimantan Selatan memiliki kedudukan yang strategis untuk terus kita kembangkan,” tambahnya.
Dari data SISKOP2MI, pada periode 2023 hingga 20 Juni 2026, tercatat 679 penempatan PMI yang berasal dari Kalimantan Selatan. Selain itu, Kementerian P2MI sudah menangani 35 aduan PMI dari Kalimantan Selatan, sebagai bagian dari upaya memastikan pelindungan bagi warga yang bekerja di luar negeri.
Program Desa Migran Emas
Upaya tersebut diperkuat melalui program Desa Migran Emas yang secara nasional telah menjangkau 756 desa, termasuk 10 desa di Kalimantan Selatan. Program ini menjadi ujung tombak edukasi, pelindungan, dan pemberdayaan PMI dari daerah asal.
Dengan fondasi yang semakin kuat, bergabungnya delapan perguruan tinggi pada hari ini menjadi langkah strategis untuk membuka akses yang lebih luas bagi generasi muda Kalimantan Selatan dalam meraih peluang kerja internasional.
Dengan sebelas fakultas yang mencakup bidang kesehatan, teknik, pertanian, kehutanan, perikanan, ekonomi, pendidikan, hingga ilmu sosial, Universitas Lambung Mangkurat memiliki modal yang sangat kuat untuk menjawab kebutuhan pasar kerja dunia.
“Bisa kita bayangkan dampak ekonomi yang dihasilkan, apabila setiap pekerja migran kita secara konsisten mengirimkan remitansi rata-rata sekitar 5 juta rupiah per bulan, maka aliran dana tersebut akan menciptakan multiplier effect yang luar biasa. Dana ini langsung menggerakkan urat nadi perekonomian lokal, memutar roda UMKM di desa-desa, dan meningkatkan daya beli masyarakat secara signifikan,” ujar Menteri.
Oleh karena itu, lanjutnya, Nota Kesepahaman dan Perjanjian Kerja Sama yang ditandatangani hari ini menjadi langkah esensial. Secara garis besar, ruang lingkup kerja sama ini berfokus pada penguatan pelindungan melalui pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi bersama Universitas Lambung Mangkurat.
“Secara spesifik diwujudkan dalam ruang lingkup yang mencakup; Pembentukan dan pengembangan Migrant Center, Penyelenggaraan pendidikan dan peningkatan kompetensi sumber daya manusia, Penyiapan profil, potensi persediaan, dan peningkatan kompetensi peminatan bekerja ke luar negeri agar sesuai dengan kebutuhan negara tujuan”
“Pertukaran data dan informasi dalam penyebarluasan informasi penempatan dan pelindungan Pekerja Migran Indonesia serta peluang kerja luar negeri di negara tujuan penempatan, Harmonisasi atau penyelarasan kompetensi Pekerja Migran Indonesia, Standardisasi kelembagaan vokasi yang meliputi sarana prasarana, kurikulum, instruktur, dan sertifikasi kompetensi, Pelaksanaan penelitian, inovasi, dan pengabdian masyarakat,” papar Mukhtarudin merinci.
Peta Jalan Penempatan PMI
Dalam kesempatan itu Menteri Mukhtarudin juga menjelaskan telah merancang peta jalan penempatan 500.000 tenaga kerja terampil. Mereka akan difokuskan untuk mengisi sektor strategis seperti caregiver, welder, hospitality, nurse, hingga truck driver. Target ini akan dieksekusi secara bertahap dari tahun 2026 hingga 2029 guna menjadikan Indonesia sebagai Global Talent Supplier.
Seluruh rangkaian penyiapan kompetensi ini bermuara pada satu visi besar ke depan, yaitu terciptanya ekosistem Brain Circulation. Kita mendesain agar anak-anak bangsa berangkat sebagai talenta global yang profesional, menimba ilmu, teknologi, dan etos kerja di negara maju, untuk kemudian membawa pulang kompetensi terbaiknya demi membangun tanah air. ***