Ekonomi
Membela Rakyat dan Melaksanakan Amanat Presiden, Mentan Amran Tidak Gentar Hadapi Intimidasi Mafia Beras

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman tidak gentar menghadapi intimidasi dalam mengungkap praktik kecurangan beras karena dalam posisi membela rakyat dan melaksanakan amanat langsung Presiden Prabowo Subianto untuk beresin korupsi dan mafia
FAKTUAL INDONESIA: Sempat diingatkan agar berhati-hati karena menghadapi “orang-orang besar”, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman terus melangkah dan tidak gentar menghadapi intimidasi dalam mengungkap praktik kecurangan beras yang merugikan masyarakat dan mengancam ketahanan pangan nasional secara serius.
Mentan Amran menegaskan, dirinya dalam posisi membela rakyat dan melaksanakan amanat langsung dari Presiden Prabowo Subianto untuk memberantas korupsi dan mafia pangan hingga ke akar-akarnya maka tidak gentar membrantas praktik curang dalam tata niaga dan distribusi beras.
“Saya bilang ini perintah Bapak Presiden untuk selesaikan yang korupsi dan mafia diberesin. Saya bilang, siap Bapak Presiden, akhirnya kami tindak lanjuti,” kata Amran dalam keterangan di Jakarta, Jumat.
Baca Juga : Satgas Pangan Panggil 212 Merek Beras Nakal, Mentan Amran Tegaskan Mafia-mafia Sektor Pangan Harus Dibereskan
Amran menegaskan, apa yang ia lakukan merupakan bentuk pengabdian kepada rakyat kecil, petani, dan bangsa Indonesia. Dia menyatakan siap menghadapi segala resiko dan tekanan demi membela kepentingan petani dan keadilan harga beras.
“Kami tidak peduli, yang penting kami membela rakyat Indonesia, membela petani, membela yang ada di level bawah. Kami siap segala risiko, kami siap tanggung,” ujarnya tegas.
Hal senada pernah disampaikan Mentan dalam puncak peringatan Hari Krida Pertanian (HKP) Ke-53 Tahun 2025 di Jakarta, Senin (30/6). Saat itu, Mentan juga mengaku tidak gentar dalam mengungkap kasus kecurangan beras.
Ia menegaskan tak gentar hadapi intimidasi saat bongkar kecurangan beras dan meski diserang pihak tertentu, tetap siap berjuang demi keadilan, petani, harga wajar, dan ketahanan pangan nasional.
“Kami tidak peduli yang penting kami di posisi membela rakyat Indonesia, membela petani Indonesia, membela yang ada di level bawah. Kami siap segala risiko, kami siap tanggung,” kata dia.
Baca Juga : Harga Beras Naik Saat Stok Melimpah, Mentan Amran dan Satgas Pangan Selidiki Dugaan Mafia Bermain
Amran menyatakan tekadnya membela petani, penyuluh, serta masyarakat kecil tanpa takut terhadap risiko yang dihadapi karena semua langkahnya didedikasikan sepenuhnya untuk Merah Putih dan bangsa Indonesia.
“Tidak boleh kita biarkan, aku tahu ini risikonya besar, kami mulai diserang. Tidak masalah, jiwa ragaku untuk Merah Putih, kami siap untuk Merah Putih,” ujarnya.
Ia menceritakan pengalaman masa kecil saat terpaksa makan beras dicampur pisang karena harga beras mahal, dan tak ingin kondisi serupa kembali dialami rakyat Indonesia saat ini.
“Kami pernah makan beras dicampur dengan pisang. Karena beras mahal pada saat itu. Kami pernah merasakan kami tidak ingin terulang hal yang tidak baik untuk saudara-saudara kita seluruh Indonesia,” tegasnya.
Ia menyebut Presiden telah memerintahkan untuk segera membenahi regulasi, memberantas mafia serta koruptor, dan memberikan kemudahan bagi petani.
Mentan juga mengungkapkan mimpi besar menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia, dilanjutkan dengan hilirisasi sektor hortikultura dan perkebunan demi masa depan pertanian yang lebih mandiri.
Baca Juga : Duh! Mentan Temukan Kemasan Minyak Goreng MinyaKita Tak Sesuai Takaran
Sebelumnya, Kementerian Pertanian bersama Bapanas, Satgas Pangan, Kepolisian hingga Kejaksaan melakukan investigasi kasus kecurangan beras komersial dilakukan setelah adanya anomali soal beras.
Padahal produksi padi saat ini sedang tinggi secara nasional, bahkan tertinggi dalam 57 tahun terakhir dengan stok hingga saat ini mencapai 4,2 juta ton.
Berdasarkan hasil temuan pada beras premium dengan sampel 136, ditemukan 85,56 persen tidak sesuai ketentuan; 59,78 persen tidak sesuai harga eceran tertinggi (HET); serta 21,66 persen tidak seusai berat kemasan.
Lalu, temuan pada beras medium dengan sampel 76 merek ditemukan 88,24 persen tidak sesuai mutu beras; 95,12 persen tidak sesuai HET; serta 9,38 persen tidak seusai berat kemasan. Pelanggaran itu ditemukan terhadap 212 merek beras. ***














