Ekonomi

IHSG dan Rupiah Hari Ini Harus Sama-sama Masuk Zona Merah

Published

on

Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sama-sama terperosok masuk zona merah pada penutupan perdagangan valuta dan saham Kamis (12/2/2026)

Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sama-sama terperosok masuk zona merah pada penutupan perdagangan valuta dan saham Kamis (12/2/2026)

FAKTUAL INDONESIA: Jika sehari sebelumnya sama-sama tampil perkasa menguat maka hari ini, Kamis (12/2/2026), nilai tukar (kurs) rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sama-sama terperosok masuk zona merah. Apa penyebabnya?

Pada perdagangan valuta hari ini, nilai tukar (kurs) rupiah sudah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sejak pembukaan hingga penutupan.

Sedangkan IHSG BEI sempat menguat saat pembukaan perdagangan saham namun kemudian terseret ke zona merah sehingga melemah ketika penutupan perdagangan.

Rupiah Tertekan Faktor Eksternal

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS harus rela menutup perdagangan hari ini di zona merah. Setelah sempat menguat di tengah pekan, mata uang Garuda kembali mengalami tekanan seiring dengan dinamika pasar global yang kembali memihak pada greenback.

Advertisement

Berdasarkan data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, Rupiah ditutup pada level Rp16.826 per dolar AS. Posisi ini melemah dibandingkan penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp16.781.

Ketika pembukaan perdagangan rupiah bergerak melemah 25 poin atau 0,15 persen menjadi Rp16.811 dari sebelumnya Rp16.786 per dolar AS.

Pada Pasar Spot, rupiah dibuka melemah sejak pagi hari di level Rp16.818 dan terus bergerak fluktuatif sepanjang sesi perdagangan. Sementara kurs jual di beberapa bank besar terpantau berada di kisaran Rp16.837 untuk e-Rate, sementara kurs beli berada di Rp16.777.

Pelemahan Rupiah tidak hanya terjadi terhadap Dolar AS, tetapi juga terlihat terhadap Euro dan Poundsterling yang ikut menguat tipis.

Para analis mengidentifikasi dua alasan utama di balik loyonya Rupiah sore ini:

Advertisement
  • Rebound Dolar AS: Mata uang Paman Sam kembali menguat setelah rilis data tenaga kerja Non-Farm Payrolls (NFP) Amerika Serikat yang ternyata lebih kuat dari ekspektasi pasar. Hal ini memicu spekulasi bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama.
  • Aksi Wait and See: Menjelang libur panjang Tahun Baru Imlek esok hari, banyak pelaku pasar memilih untuk memegang Dolar AS sebagai aset aman (safe haven) guna menghindari risiko volatilitas selama pasar dalam negeri tutup.

Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX), Taufan Dimas Hareva, menyatakan bahwa pelemahan rupiah mencerminkan tekanan eksternal yang masih mendominasi pasar keuangan domestik.

“Secara teknikal dan fundamental jangka pendek, rupiah bergerak dengan volatilitas yang tetap dipengaruhi dinamika indeks dolar AS dan ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed,” ungkap Taufan di Jakarta, Kamis, seperti dilansir mediaindonesia.

Meski ditutup melemah di level Rp16.826, Rupiah diprediksi masih memiliki ruang untuk stabil pada pekan depan. Investor disarankan untuk tetap memantau rilis data inflasi global dan langkah intervensi Bank Indonesia yang biasanya sigap menjaga stabilitas mata uang di pasar domestik.

IHSG Sempat Agresif

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) terpaksa harus parkir di zona merah pada penutupan perdagangan Kamis (12/2/2026). Setelah sempat bergerak agresif di awal sesi, indeks akhirnya menyerah pada aksi ambil untung (profit taking) para pemodal.

Berdasarkan data BEI, IHSG ditutup melemah sebesar 25,61 poin atau turun 0,31% ke posisi 8.265,35. Meski dibuka menguat di awal pagi hingga sempat menyentuh level tertinggi di 8.334, tekanan jual yang masif di sesi kedua menyeret indeks turun dari singgasananya.

Advertisement

Hal itu tercermin dari nilai transaksi mencapai Rp23,55 triliun dengan volume perdagangan 42,84 miliar saham.

Sektor kesehatan (IDXHEALTH) mencatatkan koreksi terdalam sebesar 1,25%, diikuti oleh sektor barang konsumen non-primer (IDXCYCLIC).

Di tengah pelemahan, sektor barang baku (IDXBASIC) tetap tampil perkasa dengan kenaikan 1,46%.

Analis pasar modal menilai pelemahan hari ini bersifat teknis dan wajar. Beberapa faktor utamanya pelemahan adalah sentimen long weekend dimana Investor cenderung mengamankan keuntungan (profit taking) menjelang libur panjang Tahun Baru Imlek 2026 yang akan dimulai esok hari.

Kemudian respons kebijakan global yang membuat pelaku pasar masih bersikap hati-hati sambil mencermati rilis data inflasi Amerika Serikat yang akan menjadi arah kebijakan moneter global ke depan.

Advertisement

Untuk dinamika domestik,  pasar  tengah mengantisipasi agenda sarasehan ekonomi yang akan digelar pemerintah esok hari untuk merespons dinamika ekonomi nasional.

Melihat posisi IHSG yang saat ini berada di level 8.265, investor disarankan untuk tidak panik. Koreksi ini dianggap sebagai konsolidasi sehat setelah pasar sempat reli dalam tiga hari terakhir. Manfaatkan momentum koreksi ini untuk mengakumulasi saham-saham berfundamental kuat di harga yang lebih kompetitif. ***

Exit mobile version