Ekonomi
IHSG BEI Senin 8 Juni 2026: Tumbang Dramatis 4,52% Terseret Panic Selling, Selanjutnya Tergantung BI

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin 8 Juni 2026, runtuh secara dramatis sebesar 4,52% atau ambles 253,12 poin ke posisi 5.342,14. pada penutupan perdagangan. (AI/Ist)
FAKTUAL INDONESIA: Aksi jual massal (panic selling) yang dipicu oleh rontoknya nilai tukar rupiah dan sentimen negatif global membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) runtuh seketika pada penutupan perdagangan Senin (8/6/2026).
Tak pelak lagi pasar modal Indonesia mengalami hari yang kelam di awal pekan.
Berdasarkan data resmi BEI, IHSG ditutup tumbang secara dramatis sebesar 4,52% atau ambles 253,12 poin ke posisi 5.342,14. Sementara, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 30,67 poin atau 5,50 persen ke posisi 527,08.
Merosot jauh dibandingkan dengan saat pembukaan perdagangan, Senin pagi, ketika IHSG dibuka melemah 108,46 poin atau 1,94 persen ke posisi 5.486,31. Sedangkan, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 12,06 poin atau 2,16 persen ke posisi 545,69.
Kejatuhan luar biasa ini menjadi salah satu koreksi harian terdalam sepanjang tahun ini, sekaligus menghapus ekspektasi penguatan indeks dalam jangka pendek.
Sudah begitu untuk perdagangan Selasa (9/6/2026), IHSG diperkirakan bergerak fluktuatif dengan tren melemah akan berlanjut. IHSG berpotensi akan menguji level 5.100.
Tiga Pemicu Utama Longsor
Kejatuhan IHSG hingga menembus ke bawah level 5.400 mengejutkan banyak pihak. Para analis melihat ada kepanikan yang terstruktur di market akibat akumulasi sentimen berikut:
- Rupiah Jeblok, Risiko Sistemik Mengintai
Keterpurukan rupiah yang sangat kontras di awal pekan menjadi motor utama kepanikan investor. Pelemahan mata uang Garuda yang masif memicu kekhawatiran nyata atas pembengkakan beban utang luar negeri korporasi dan ancaman imported inflation yang bisa memukul daya beli domestik.
- Eksodus Massal Dana Asing (Capital Outflow)
Kekhawatiran terhadap ketegangan geopolitik global dan arah kebijakan suku bunga The Fed membuat investor asing melakukan aksi net sell (jual bersih) dalam skala raksasa di pasar reguler. Dana jumbo dialihkan keluar dari pasar berkembang ke instrumen yang dinilai lebih aman (safe haven).
- Saham Blue Chip Bertumbangan
Saham-saham berkapitalisasi pasar raksasa (big caps), terutama dari sektor perbankan dan infrastruktur yang biasanya menjadi penopang indeks, kompak ambruk menyentuh batas koreksi harian. Hal inilah yang membuat penurunan IHSG langsung terjun bebas tanpa perlawanan berarti hingga closing bell.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, seperti dilansir tredingview, menilai tekanan pasar juga dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
“Bursa Asia kompak melemah setelah Iran meluncurkan serangan rudal ke arah Israel, yang meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan,” ujar Nico, Senin (8/6/2026).
Dari dalam negeri, tekanan juga datang dari derasnya arus keluar modal asing serta pelemahan nilai tukar rupiah.
Ia menambahkan, kekhawatiran investor terhadap kebijakan fiskal pemerintah yang ekspansif serta lonjakan subsidi energi turut membebani sentimen pasar.
Sementara itu Head of Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengatakan, sentimen negatif berasal dari data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih kuat dari ekspektasi, sehingga meningkatkan kekhawatiran bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah hingga menyentuh kisaran Rp18.200 per dolar Amerika Serikat juga turut menekan minat investor terhadap aset berisiko.
Prospek Teknis Esok
Penurunan tajam sebesar 4,52% ini secara teknikal merusak struktur tren jangka menengah IHSG dan membuka ruang pelemahan lanjutan. Level 5.300 kini menjadi benteng support psikologis berikutnya yang akan diuji oleh pasar.
Mengingat dalamnya koreksi hari ini, pelaku pasar diharapkan tidak terburu-buru melakukan catch-the-falling-knife (membeli saham yang sedang terjun bebas).
Untuk perdagangan esok hari, pergerakan indeks akan sangat bergantung pada seberapa agresif langkah intervensi dari Bank Indonesia dan otoritas terkait dalam menstabilkan sentimen makroekonomi demi meredam kepanikan investor.
Secara teknikal, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus memperkirakan IHSG masih berpotensi melanjutkan pelemahan.
“Dengan probabilitas 72%, IHSG berpotensi menguji level 5.080. Level psikologis berikutnya berada di 5.000,” jelasnya.
Ia menyebutkan, rentang pergerakan IHSG yang perlu dicermati saat ini berada di level 5.180 hingga 5.380.
Head of Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengatakan IHSG masih berada dalam tren turun yang cukup kuat.
“IHSG masih didominasi tekanan jual dan berada dalam fase downtrend yang kuat,” ujarnya.
Untuk perdagangan Selasa (9/6/2026), Herditya memperkirakan IHSG berpeluang mengalami penguatan terbatas dalam jangka pendek.
“IHSG berpeluang menguat dengan support di 5.300 dan resistance di 5.386,” katanya.
Ia menambahkan, pelaku pasar masih akan mencermati pergerakan rupiah serta rilis data neraca dagang China dan Amerika Serikat.
Herditya menyarankan sejumlah saham yang dapat dicermati antara lain ASII di rentang Rp4.690–Rp4.960, JPFA di Rp1.895–Rp2.160, serta NICL di Rp525–Rp630.
Investor disarankan untuk tetap mencermati perkembangan global dan domestik, mengingat volatilitas pasar masih tinggi dan tekanan eksternal belum mereda.
Kondisi Pasar dan
Hampir seluruh sektor saham memerah total tanpa menyisakan zona hijau pada sore ini. Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, seperti dikutip dari metrotv, semua atau sebelas melemah yaitu sektor infrastruktur paling dalam sebesar 6,47 persen, diikuti oleh sektor industri dan sektor transportasi & logistik yang turun masing-masing sebesar 6,00 persen dan 5,43 persen.
Adapun saham-saham, yang mengalami penguatan terbesar yaitu GRIA, FORU, ASPR, TPIA dan PSDN. Sedangkan, saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni ENAK, PTSN, GPSO, TNCA dan ANJT.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.215.560 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 32,52 miliar lembar saham senilai Rp21,74 triliun. Sebanyak 78 saham naik, 661 saham menurun dan 771 tidak bergerak nilainya. ***