Ekonomi
IHSG BEI Selasa 9 Juni 2026: Melambung Menguat 7,5% Berpotensi Profit Taking

Dipicu rencana buyback BUMN dan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) sukses mencetak performa gemilang pada perdagangan Selasa (9/6/2026). (AI)
FAKTUAL INDONESIA: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) sukses mencetak performa gemilang pada perdagangan Selasa (9/6/2026), dengan ditutup melambung menguat siginifikan yang memberikan sinyal positif bagi para investor di tengah dinamika ekonomi global dan domestik.
Rencana program buyback saham-saham berkapitalisasi pasar besar (bigs caps) BUMN dan ditambah kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) menjadi pemicu utama. Suntikan sentimen positif, mulai dari aksi beli bersih (net buy) oleh investor asing hingga rilis data makroekonomi yang stabil, disinyalir menjadi bahan bakar utama di balik menguatnya taji IHSG hari ini.
Penguatan hari ini membuktikan bahwa psikologis pasar masih sangat kuat menahan sentimen negatif eksternal, seperti fluktuasi suku bunga global. Investor tampak lebih fokus pada fundamental emiten dalam negeri yang kokoh.
Tetapi ada yang menyoroti kenaikan ini sebagai reaksi atas periode penurunan tajam sebelumnya karena tanpa didukung perubahan banyak atas isu fundamental yang memicu tekanan terhadap Indonesia.
Karena itu untuk perdagangan esok hari, Rabu (10/6/2026) perlu dicermati potensi aksi profit taking atau ambil untung atas lonjakan hari ini.
IHSG Nyaman Di Zona Hijau
Sejak bel pembukaan perdagangan berbunyi, IHSG sebenarnya sempat membeku di area konsolidasi. Setelah bergerak fluktuatif sepanjang hari, memasuki sesi kedua, aliran dana segar (capital inflow) mulai deras mengalir ke saham-saham berkapitalisasi besar (blue chip), terutama di sektor perbankan dan komoditas.
Pada pembukaan perdagangan Selasa pagi, dibuka menguat 2,55 poin atau 0,05 persen ke posisi 5.344,69. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 1,22 poin atau 0,23 persen ke posisi 528,30.
Pada Selasa sore, IHSG ditutup menguat dipicu oleh rencana program buyback saham-saham berkapitalisasi pasar besar (bigs caps) BUMN dan ditambah kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).
IHSG nyaman di zona hijau menguat 404,51 poin atau 7,57 persen ke posisi 5.746,65. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 42,24 poin atau 8,01 persen ke posisi 569,32.
Volume perdagangan hari ini terpantau cukup ramai, mencerminkan tingginya optimisme pasar bahwa pemulihan ekonomi berjalan sesuai jalur.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, semua atau sebelas menguat yaitu dipimpin sektor barang baku yang naik sebesar 9,71%, diikuti oleh sektor energi dan sektor industri yang naik masing-masing sebesar 9,04% dan 8,24.
Adapun saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu BABY, AHAP, CTTH, MHKI dan PSKT. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni GMTD, GRIA, CTBN, DPUM dan MPMX.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.714.279 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 45,06 miliar lembar saham senilai Rp27,93 triliun. Sebanyak 678 saham naik, 89 saham menurun, dan 48 tidak bergerak nilainya.
Bursa saham regional Asia sore ini antara lain Indeks Nikkei menguat 1,92% ke 65.251,00, indeks Shanghai menguat 1,28% ke 4.010,03, indeks Hang Seng melemah 0,37% ke posisi 24.565,90, dan indeks Straits Times menguat 1,20% ke posisi 5.023,67.
Menakar Arah IHSG Esok Hari
Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata mencermati kenaikan IHSG terjadi ketika sebagian besar isu fundamental yang memicu tekanan terhadap Indonesia masih belum banyak berubah.
Salah satunya nilai tukar rupiah yang masih tertahan di atas level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah di pasar spot ditutup menguat 0,72% menjadi Rp 18.058 per dolar AS pada Selasa (9/6/2026).
“Persepsi risiko terhadap Indonesia masih tinggi, belum ada lembaga pemeringkat internasional yang menaikkan outlook Indonesia saat ini bahkan baru saja ada penurunan outlook menjadi negatif,” jelas Liza, Selasa seperti dilandir tradingview.
Selain itu, kata Liza, berbagai kebijakan pemerintah yang bertujuan menarik devisa maupun mengembalikan kepercayaan investor sejauh ini belum sepenuhnya berhasil meredam kekhawatiran pasar.
“Karena itu, kenaikan IHSG pada 9 Juni 2026 lebih tepat dipandang sebagai relief rally yang memiliki katalis jelas, tetapi belum dapat dikategorikan sebagai bukti bahwa seluruh masalah telah terselesaikan,” katanya.
Liza menjelaskan ada dua faktor utama yang menjadi pemicu. Pertama, munculnya sinyal dukungan terhadap pasar saham dari pemerintah dan BUMN dengan salah satu agenda pembahasan peluang buyback saham-saham BUMN.
Kedua, langkah agresif Bank Indonesia (BI) yang secara mengejutkan mempercepat rapat dan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%. Ini merupakan keputusan yang mengejutkan pasar.
Menurut Liza, reaksi pertama banyak pelaku pasar kemungkinan bukan rasa optimistis, melainkan kekhawatiran. Secara teori, kenaikan suku bunga biasanya bukan kabar baik bagi saham, terutama sektor perbankan dan sektor-sektor yang sensitif terhadap biaya pendanaan.
Dia bilang yang terjadi justru sebaliknya, BI tidak hanya menaikkan suku bunga, tetapi juga mengumumkan serangkaian langkah tambahan yang secara eksplisit ditujukan untuk mempertahankan stabilitas Rupiah dan menarik kembali dana asing.
“Dalam situasi seperti sekarang, mungkin pasar lebih menghargai keberanian dan kredibilitas kebijakan dibandingkan sekadar level suku bunga itu sendiri,” ucap Liza.
Secara teknikal, lanjut Liza, area 5.430–5.318 menjadi support utama IHSG. Sementara itu, area 5.900 menjadi target rebound jangka pendek yang perlu diuji terlebih dahulu sebelum pasar dapat berbicara mengenai pemulihan yang lebih berkelanjutan.
“Dengan kata lain, setiap pembelian saat ini masih lebih cocok dikategorikan sebagai akumulasi bertahap atau speculative buy dibandingkan buy-and-hold jangka panjang yang agresif,” jelasnya.
Sementara itu IHSG menguat dipicu oleh rencana program buyback saham-saham berkapitalisasi pasar besar (bigs caps) BUMN dan ditambah kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).
“Pembahasan dan rencana buyback saham big caps seperti (anggota) Himbara (Himpunan Bank Milik Negara) yang direncanakan menjadi sentimen utama,” ujar Research Analyst Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajnawi.
Kemudian, pada perdagangan sesi II hari ini, Bank Indonesia (BI) mengumumkan kenaikan BI-Rate sebesar 25 bps ke level 5,50 persen, sebagai upaya memperkuat stabilitas kurs rupiah. Langkah tersebut dinilai menegaskan prioritas kebijakan kembali ke penguatan nilai tukar dan jangkar inflasi, sekaligus meningkatkan daya tarik aliran dana portofolio ke Indonesia.
Selain itu, kenaikan indeks ditopang oleh saham-saham sektor komoditas seiring dengan pemerintah yang memastikan tidak ada mekanisme gross split dalam skema ekspor. Kekhawatiran pasar eksportir wajib menyerahkan sebagian hasil ekspor ke perantara negara mulai mereda, yang mana risiko gangguan ke arus kas eksportir berkurang.
Di sisi lain, Arjun, seperti dilansir mediaindonesia, mengingatkan penguatan signifikan IHSG pada perdagangan hari ini, tentunya akan memunculkan potensi profit taking (ambil untung) dari pelaku pasar, khususnya untuk perdagangan Rabu, 10 Juni 2026.
“Karena cukup kuat hari ini berpotensi profit taking,” ujar Arjun.
Secara teknikal, penutupan IHSG di zona hijau pada hari Selasa ini membuka peluang terjadinya reli lanjutan (continuation trend). Posisi indeks saat ini berhasil bertahan di atas garis Support psikologisnya, yang berarti tren jangka pendek masih cenderung bullish (menguat).
Jika momentum beli ini terjaga hingga besok pagi, IHSG berpotensi besar menguji area Resistance berikutnya. Namun, investor tetap disarankan untuk waspada terhadap potensi aksi ambil untung (profit taking) sesaat di tengah minggu. ***









