Ekonomi
IHSG BEI Selasa 8 September 2026: Meluncur Mulus Menguat 66,77 Poin, Berpeluang Berlanjut
Mulus dan perkasa pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan terus menguat sejak pembukaan hingga penutupan perdagangan saham Selasa (8/9/2026). (Foto: Istimewa)
FAKTUAL INDONESIA: Hari ini, Selasa (8/9/2026), pasar modal Indonesia mencatatkan kinerja positif lewat laju mulus Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menanjak menguat setelah sehari sebelumnya anjlok tajam.
Sudah sejak pembukaan perdagangan saham Selasa pagi, IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) melangkah mulus memasuki zona hijau dengan bergerak menguat 19,84 poin atau 0,30 persen ke posisi 6.639,51. Menguat juga kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 yang naik 1,31 poin atau 0,20 persen ke posisi 657,73.
Sepanjang hari, indeks saham domestik bergerak stabil di rentang 6.636 hingga level tertinggi 6.696. Mulusnya pergerakan ini akhirnya mengantar IHSG ditutup menguat 66,77 poin atau 1,01 persen ke level 6.686,44. Indeks LQ45 juga naik 9,16 poin atau 1,40 persen ke posisi 665,58.
Dengan kebangkitan ke posisi menguat itu mengantar IHSG juara di bursa saham regional Asia. IHSG lebih baik dari indeks Shanghai yang menguat 0,20 persen ke 3.940,55.
Sedangkan indeks Nikkei menurun 1,69 persen ke 65.278,00, Hang Seng melorot 0,38 persen ke 25.317,18, indeks Kospi melemah 0,58 persen ke 6.954,52, dan indeks Straits Times merosot 0,144 persen ke 5.764,37.
Penguatan Rupiah dan Saham Tambang
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus alias Nico, menjelaskan bahwa laju IHSG ditopang ketahanan ekonomi domestik.
“IHSG menguat ditopang dari dukungan pasar seiring dengan posisi cadangan devisa Agustus yang terjaga, dimana membukukan sebesar US$46,5 miliar atau lebih tinggi dari posisi akhir Juli 2026 sebesar US$145,3 miliar,” ujar Nico dalam kajian tertulisnya di Jakarta, seperti dilansir Media Indonesia, Selasa.
Faktor pendorong pasar domestik lainnya berasal dari normalisasi operasional transportasi udara setelah sempat lumpuh imbas erupsi Gunung Anak Krakatau. “Aktivitas kembali beberapa bandara tersebut tentunya dapat mengaktifkan kembali roda ekonomi sektor logistik, supplay chain, pemulihan mobilitas dan konektivitas bisnis,” ujar Nico.
Namun, laju bursa regional Asia cenderung tertahan oleh eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kondisi ini memicu kecemasan pasar terhadap pasokan energi global yang berujung pada lonjakan harga minyak mentah berjangka. Sentimen ini kian dinamis lantaran investor mencermati kejelasan kerja sama Iran dan Oman terkait jalur distribusi energi di Selat Hormuz.
Dari kawasan Tiongkok, data menunjukkan surplus perdagangan Tiongkok menembus 119,1 miliar dolar AS pada Agustus 2026, meningkat dari bulan sebelumnya yang bernilai US$112,5 miliar. Lonjakan ini didorong pertumbuhan ekspor sebesar 25,0% (yoy) menjadi US$401,44 miliar serta impor yang tumbuh 28,2% (yoy) hingga US$282,36 miliar.
Di tengah dinamika bursa kawasan Asia yang bervariasi, IHSG tampil perkasa berkat kombinasi sentimen positif domestik:
- Apresiasi Nilai Tukar Rupiah: Rupiah yang bergerak stabil dan menguat ke posisi Rp17.632 per dolar AS memberikan angin segar bagi investor. Ditambah penopang utama dari lonjakan cadangan devisa Bank Indonesia per Agustus 2026 mencapai 146,5 miliar dolar AS.
- Laju Saham Sektor Komoditas & Tambang: Penguatan IHSG dipimpin oleh lonjakan harga saham sektor nikel dan mineral. Saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) menjadi top gainer di indeks LQ45 dengan kenaikan 9,80%, disusul PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang melesat 8,33%.
- Gairah Perbankan: Saham-saham big caps perbankan seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turut menyokong indeks dengan kenaikan 1,51%.
Prediksi Rabu, 9 September 2026
Mengawali perdagangan Rabu (9/9/2026), IHSG diproyeksikan masih memiliki peluang untuk melanjutkan tren penguatan terbatas (bullish continuation).
Faktor Penggerak Utama:
- Sentimen Regional & Harga Komoditas: Investor akan terus mencermati pergerakan harga energi dan komoditas global yang memicu aksi beli di saham-saham energi dan tambang.
- Arus Modal Asing (Capital Inflow): Penguatan nilai tukar rupiah dan fundamental makroekonomi yang solid berpotensi memicu masuknya kembali modal asing ke pasar saham domestik.
- Ekspektasi Pertemuan The Fed: Pelaku pasar mulai bersiap mengantisipasi sinyal arah suku bunga dari Bank Sentral AS (The Fed) pertengahan September 2026.
Analisis Teknikal & Rekomendasi:
Analis memperkirakan IHSG pada Rabu (9/9/2026) akan bergerak pada rentang area support di 6.630 dan area resistance di 6.720. Jika IHSG berhasil bertahan di atas level 6.680, indeks berpeluang besar menguji level psikologis baru di angka 6.700.
“IHSG diperkirakan akan uji level 6.700-6.750,” tulis Phintraco Sekuritas dalam ulasan, Selasa (8/9/2026).
Sementara itu, MNC Sekuritas mengatakan cermati area penguatan IHSG yang berada di 6.736-6.812. Namun demikian, waspadai akan adanya potensi koreksi terdekat ke rentang 6.668-6.683.
MNC Sekuritas memberikan rekomendasi saham ESSA, PGAS, SSIA, dan WIFI untuk trading.
Perdagangan Tergolong Semarak
Aktivitas perdagangan tergolong semarak dengan frekuensi sebanyak 2.265.000 kali dengan volume mencapai 35,15 miliar lembar saham senilai Rp15,70 triliun. Secara keseluruhan, 388 saham melesat, 253 saham tertekan, dan 322 saham stagnan.
Pergerakan IHSG konsisten berada di jalur hijau sejak awal pembukaan, lalu bertahan di area positif sepanjang perdagangan sesi I dan II hingga penutupan.
Berdasarkan data IDX-IC, delapan sektor membukukan penguatan. Sektor barang baku mencatatkan lonjakan tertinggi sebesar 1,94%, disusul sektor barang konsumen primer (1,56%) dan sektor industri (1,17%). Sebaliknya, tiga sektor mengalami koreksi, dipimpin sektor kesehatan yang merosot 0,67%, lalu sektor teknologi (-0,58%) serta barang konsumen non-primer (-0,06%).
Jajaran top gainers diisi oleh saham POLA, ASPI, SHID, SOHO, dan PPRI. Sementara deretan top lossers dihuni oleh saham FPNI, NZIA, OMED, UDNG, dan LUCY. ***
