Ekonomi

IHSG BEI Selasa 21 Juli 2026: Perkasa Meroket ke Level 6.340, Simak Skenario Perdagangan Besok

Published

on

Didorong oleh gelombang aksi beli bersih (net buy) investor domestik maupun asing di pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) tampil perkasa pada perdagangan Selasa (21/7/2026). (Foto: AI)

Didorong oleh gelombang aksi beli bersih (net buy) investor domestik maupun asing di pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) tampil perkasa pada perdagangan Selasa (21/7/2026). (Foto: AI)

FAKTUAL INDONESIA: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) tampil perkasa pada perdagangan Selasa (21/7/2026). Indeks ditutup melesat tajam 108,24 poin atau 1,74 persen ke level 6.340,02, didorong oleh gelombang aksi beli bersih (net buy) investor domestik maupun asing di pasar modal.

Penguatan di penutupan itu jauh melonjak dari saat pembukaan perdagangan saham Selasa pagi ketika IHSG dibuka menguat 41,79 poin atau 0,67 persen ke posisi 6.273,57.

Setelah dibuka menguat, IHSG betah di teritori positif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih betah di zona hijau hingga penutupan perdagangan saham.

Pada pembukaan Indeks LQ45 atau  kelompok 45 saham unggulan naik 6,25 poin atau 1,00 persen ke posisi 634,00. Ketika penutupan indeks LQ45 naik 8,89 poin atau 1,42 persen ke posisi 636,64.

Penguatan signifikan ini dipimpin oleh sektor teknologi, energi, dan barang baku yang tampil sebagai motor utama pergerakan bursa.

Advertisement

Terkait IHSG di pasar regional Asia, seperti dilansir Media Indonesia, mayoritas bursa saham juga menunjukkan tren positif. Indeks Nikkei menguat 3,29%, Shanghai naik 1,79%, Kospi melonjak 3,56%, dan Strait Times naik 0,45%. Hanya indeks Hang Seng yang tercatat melemah tipis 0,04%.

Pemicu Utama Melonjaknya IHSG

Sejumlah sentimen positif baik dari dalam negeri maupun regional berhadapan manis membakar optimisme pasar:

  1. Euforia Musim Laporan Keuangan (Earnings Season): Pelaku pasar merespons positif dimulainya rilis laporan keuangan emiten kuartal II dan semester I-2026. Kinerja fundamental perseroan yang solid memicu aksi akumulasi saham oleh investor.
  2. Ekspektasi Hasil RDG Bank Indonesia: Keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 21–22 Juli 2026 menjadi perhatian utama pasar. Investor mengantisipasi sinyal kestabilan suku bunga acuan (BI-Rate) serta efektivitas penguatan nilai tukar rupiah.
  3. Apresiasi Nilai Tukar Rupiah: Penguatan mata uang Garuda yang bergerak perkasa di kisaran Rp17.800-an per dolar AS memberikan angin segar bagi kestabilan pasar modal

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana menjelaskan bahwa penguatan ini tidak lepas dari kondisi pasar global. Koreksi yang terjadi pada saham-saham teknologi di bursa global, terutama yang sebelumnya terdongkrak euforia kecerdasan buatan (AI), memicu terjadinya rotasi investasi.

“Koreksi di bursa besar global membuka peluang rotasi investasi menuju pasar negara berkembang (emerging market) dengan valuasi yang lebih murah, termasuk Indonesia,” ujar Hendra di Jakarta, seperti dilansir Media Indonesia, Selasa (21/7/2026).

Selain faktor eksternal, katalis positif juga datang dari dalam negeri. Investor menaruh ekspektasi tinggi terhadap membaiknya kinerja keuangan emiten pada laporan kuartal II-2026 dan semester I-2026 yang akan segera dirilis.

Advertisement

Meskipun pasar sedang bergairah, Hendra menekankan bahwa keberlanjutan penguatan IHSG akan sangat bergantung pada tiga faktor utama:

  • Konsistensi arus dana asing (inflow) yang kembali masuk ke pasar modal Indonesia.
  • Stabilitas nilai tukar Rupiah agar tidak menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
  • Kemampuan emiten membukukan laba yang melampaui ekspektasi pasar.

Ia memperingatkan bahwa pelemahan Rupiah di atas Rp18.000 dapat memicu aksi jual investor asing dan meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi serta stabilitas ekonomi nasional.

Proyeksi & Prediksi IHSG untuk Rabu, 22 Juli 2026

Secara analisis teknikal, penguatan tajam IHSG yang berhasil menembus level psikologis 6.300 menunjukkan pembentukan pola bullish continuation yang kuat. Indikator MACD dan RSI mengindikasikan momentum pembelian masih belum jenuh.

Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana seperti dikutip dari Kotan memperkirakan, IHSG masih berpeluang menguat terbatas dengan support 6.306 dan resistance 6.355 untuk perdagangan Selasa (21/7/2026).  Pada perdagangan esok rawan terjadi aksi profit taking setelah kenaikan IHSG yang terjadi sejak awal Juli 2026. Selain itu, investor masih mencermati RDG BI besok yang secara konsensus diperkirakan akan menaikkan suku bunga ke 6%.

Investor pun disarankan untuk mencermati saham BRMS dengan target harga Rp 640 – Rp 670 per saham, MDKA Rp 2.840 – Rp 2.970 per saham, dan TLKM Rp 2.820 – Rp 2.900 per saham.

Advertisement

Analis BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda memproyeksikan, IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan Rabu (22/7/2026), dengan level support di 6.240–6.250 dan resistance di 6.390–6.400. 

“Namun, setelah reli yang cukup signifikan dalam beberapa hari terakhir, investor juga perlu mewaspadai potensi profit taking jangka pendek,” ungkapnya seperti dilansir Kontan.

Reza pun merekomendasikan beli untuk BRMS dan RATU dengan target harga masing-masing Rp 640 – Rp 690 per saham dan Rp 5.200 – Rp 5.350 per saham. Rekomendasi trading buy juga disematkan untuk INET dengan target harga Rp 240 – Rp 250 per saham.

Rentang Proyeksi Rabu (22/7):

  • Support: 6.280 / 6.225
  • Resistance: 6.380 / 6.420

Skenario Perdagangan Besok:

  • Skenario Optimis (Bullish): Jika pengumuman hasil RDG BI memberikan respons positif terhadap pertumbuhan kredit dan stabilitas ekonomi, IHSG berpotensi menguji resisten kuat di rentang 6.380–6.420.
  • Skenario Konsolidasi: Terjadinya aksi profit taking (ambil untung) jangka pendek berpotensi menahan laju indeks untuk melakukan pengujian area support di 6.280 sebelum kembali melanjutkan reli.

Rekomendasi Saham Pilihan Investor

Untuk perdagangan esok hari, beberapa saham dari sektor energi, barang baku, dan perbankan dapat dicermati untuk strategi buy on weakness maupun swing trading:

Advertisement
  1. Sektor Energi & Tambang (ADRO, ITMG): Berpotensi melanjutkan penguatan seiring stabilitas harga komoditas global.
  2. Sektor Industri & Infrastruktur (SSIA, DEWA): Memulai pola pembalikan arah (rebound) setelah fase konsolidasi.
  3. Sektor Perbankan Big-Cap: Tetap menjadi pilihan aman bagi investor institusi menjelang pengumuman keputusan suku bunga BI.

Statistik Perdagangan dan Sektoral

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sepuluh sektor menguat yaitu dipimpin sektor energi yang naik sebesar 3,58 persen, diikuti oleh sektor properti dan sektor barang baku yang naik masing-masing sebesar 2,95 persen dan 2,60 persen. Sedangkan satu sektor melemah yaitu sektor kesehatan turun paling dalam sebesar 1,23 persen.

Adapun saham-saham yang mengalami penguatan harga terbesar yaitu SULI, JGLE, TRON, MLPT, dan AGAR. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan harga terbesar yakni KOKA, OMRE, PAMG, FILM dan JELI.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.896.000 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 47,79 miliar lembar saham senilai Rp21,54 triliun. Sebanyak 439 saham naik, 221 saham menurun dan 305 tidak bergerak nilainya.

Ringkasan Perdagangan Bursa (Selasa, 21 Juli 2026)

Indikator Pasar Catatan Data
Posisi Penutupan IHSG 6.340,02 (+1,74%)
Perubahan Poin +108,24 Poin
Sektor Penggerak Utama Teknologi (+1,22%), Barang Baku, Energi
Sentimen Domestik RDG BI & Musim Laporan Keuangan Q2/2026

***

Advertisement

Exit mobile version