Ekonomi
IHSG BEI Selasa 1 September 2026: Melesat Hampir Tembus Level 6.600, Berpeluang Berlanjut
Di awal bulan September, Selasa (1/9/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat kinerja cemerlang, ditutup menguat signifikan ke posisi 6.599,94. (Foto: Istimewa)
FAKTUAL INDONESIA: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengawali perdagangan bulan baru dengan mencatatkan kinerja cemerlang. IHSG ditutup menguat signifikan 74,46 poin atau 1,14% ke posisi 6.599,94 pada penutupan perdagangan Selasa (1/9/2026).
Sejak dibuka menguat 12,64 poin atau 0,19 persen ke posisi 6.538,12 pada pembukaan perdagangan saham Selasa pagi, IHSG terus melaju dan tetap di zona hijau sampai penutupan sesi pertama. Seiring dengan itu kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 0,92 poin atau 0,14 persen ke posisi 644,75.
Meneruskan perdagangan sesi dua, IHSG makin menguat di zona hijau hingga ditutup perkasa sore harinya. Dengan ditutup posisi 6.599,94, IHSG nyaris mendekati level psikologis 6.600 diiringi indeks LQ45 naik 10,58 poin atau 1,64 persen ke posisi 654,41.
Penguatan ini dipimpin oleh aksi beli investor di berbagai sektor unggulan, didorong oleh respon positif terhadap stabilitas kebijakan ekonomi domestik.
Dengan ditutup menguat, IHSG untuk bursa saham kawasan Asia menyamai pergerakan indeks Shanghai menguat 0,16 persen ke 3.979,89, dan indeks Kospi menguat 0,23 persen ke 6.835,80.
Sedangkan indeks Nikkei melemah 0,19 persen ke 66.188,00, indeks Hang Seng melemah 0,93 persen ke 25.329,73, dan indeks Straits Times melemah 0,98 persen ke 5.699,21.
Pengesahan Gubernur BI
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan penguatan IHSG di dalam negeri, didukung sentimen positif terhadap kredibilitas fiskal pemerintah yang tercermin dari target defisit 2,40 persen pada 2027. Realisasi anggaran hingga Juli 2026 juga tetap solid, dengan pendapatan negara tumbuh 21,3 persen year on year (yoy) dan belanja meningkat 18,2 persen yoy.
Kemudian Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Agustus 2026 sebesar 0,21 persen secara bulanan atau month to month (mtm). Secara tahunan, inflasi tercatat 3,19 persen atau year on year (yoy), masih berada dalam sasaran Bank Indonesia (BI) sebesar 2,5 persen plus minus satu persen. Selain itu, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus USD120 juta pada Juli 2026, berbalik dari defisit pada Juni 2026.
“Surplusnya neraca perdagangan tentunya akan menopang dan memperkuat stabilitas pasar keuangan dalam negeri,” kata Nico dalam kajiannya di Jakarta, Selasa, seperti dikutip dari Metrotv.
Namun, aktivitas manufaktur domestik menunjukkan perlambatan. Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur Global S&P Indonesia turun menjadi 49,8 pada Agustus 2026 dari 50,2 pada Juli 2026. Angka di bawah 50 menunjukkan sektor manufaktur berada di zona kontraksi.
Nico mengatakan inflasi yang masih berada dalam kisaran sasaran menunjukkan konsistensi kebijakan moneter serta sinergi antara BI dan pemerintah dalam menjaga stabilitas harga. Selain data ekonomi, penguatan IHSG turut didukung sentimen dari pengesahan Destry Damayanti sebagai Gubernur BI periode 2026-2031 melalui Rapat Paripurna DPR RI.
Menurut Nico, pengesahan tersebut memberikan kepastian mengenai arah kebijakan moneter domestik. Kondisi itu dinilai dapat memberikan sinyal positif bagi stabilitas serta meningkatkan kepercayaan investor domestik dan asing.
Dari mancanegara, bursa kawasan Asia bergerak beragam hingga cenderung melemah akibat meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Ketegangan tersebut mendorong kenaikan harga minyak dan meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi serta kemungkinan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut.
Di sisi lain, Ketua The Fed Kevin Warsh mengatakan masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan jika belum terdapat bukti yang lebih jelas bahwa inflasi kembali bergerak menuju target dua persen.
Pernyataan tersebut mendorong pelaku pasar meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September 2026. Peluang kenaikan suku bunga diperkirakan telah berada di atas 65 persen, meningkat dari sekitar 36 persen sebelum pernyataan Warsh.
Prediksi Rabu, 2 September 2026
Untuk perdagangan besok, Rabu (2/9/2026), IHSG diproyeksikan berpeluang melanjutkan penguatan teknikal (uptrend) terbatas setelah menembus resistensi terdekatnya.
- Rentang Support & Resistance:560 – 6.635
- Fokus Pasar Besok: Investor diperkirakan akan mencermati data inflasi bulanan domestik dan respon indeks bursa regional Asia. Jika momentum akumulasi saham big cap berlanjut, IHSG berpotensi kuat menembus dan bertahan di atas psikologis 6.600
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, pasar merespons positif sejumlah indikator ekonomi domestik yang dirilis terbaru. Jika IHSG mampu bertahan di atas level 6.635, Alrich memperkirakan indeks berpeluang menutup gap pada level 6.705. Namun, apabila level tersebut belum mampu ditembus, IHSG diperkirakan cenderung berkonsolidasi. “Jika IHSG mampu bertahan di atas 6.635, maka berpeluang akan menutup gap di 6.705. Jika tidak, diperkirakan IHSG akan berkonsolidasi pada kisaran 6.535-6.635,” jelas Alrich seperti dikutip dari Kontan.
Untuk perdagangan Rabu (2/9/2026), Nafan memproyeksikan IHSG bergerak dengan level support di 6.552 dan 6.453. Sementara itu, level resistance berada di 6.695 dan 6.780.
Faktor Utama Penggerak
Total nilai transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini mencapai Rp20,70 triliun dengan frekuensi perdagangan mencapai 2.626.000 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan mencapai 57,89 miliar lembar.
Berdasarkan indeks sektoral IDX-IC, sembilan sektor menguat. Sektor industri mencatat kenaikan tertinggi sebesar 3,77 persen, diikuti sektor teknologi 2,97 persen dan sektor energi 2,56 persen. Sementara itu, dua sektor melemah. Sektor barang baku turun 0,31 persen, sedangkan sektor infrastruktur melemah 0,15 persen.
Saham yang mengalami kenaikan harga terbesar antara lain SQMI, KKES, AIMS, BSIM, dan SAFE. Sementara saham yang mengalami penurunan terbesar yakni RGAS, KICI, HBAT, UDNG, dan AMMS.
Adapun faktor utama pendukung pergerakan menguat:
- Aksi Beli Saham Energi & Komoditas: Saham-saham berbasis pertambangan batu bara dan energi, seperti PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI), mencatatkan lonjakan tajam dan memimpin jajaran top gainers di indeks LQ45.
- Sentimen Positif Finansial: Sektor perbankan turut menjadi penopang utama IHSG seiring dengan rilis data makroekonomi yang tegar serta respon positif pasar atas kepastian kepemimpinan di otoritas moneter.
- Dominasi Saham Hijau: Sebanyak 420 saham berhasil bertengger di zona hijau, sementara 233 saham melemah dan 310 saham bergerak stagnan. ***
