Ekonomi

IHSG BEI Rabu 3 Juni 2026: Badai Besar, Sudah Anjlok 4 Persen Terancam Terus Tertekan Pula

Published

on

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)  ambruk tak berdaya hingga anjlok 4 persen lebih  pada penutupan perdagangan, Rabu (3/6/2026), membuat Bursa Efek Indonesia (BEI) lesu apalagi selanjutnya masih rawan melemah. (AI/Ist)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk tak berdaya hingga anjlok 4 persen lebih pada penutupan perdagangan, Rabu (3/6/2026), membuat Bursa Efek Indonesia (BEI) lesu apalagi selanjutnya masih rawan melemah. (AI/Ist)

FAKTUAL INDONESIA: Pasar modal Indonesia dihantam badai besar pada pertengahan pekan ini. Sejalan dengan rontoknya nilai tukar rupiah yang menembus level terendah sepanjang masa, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ikut ambruk tak berdaya pada penutupan perdagangan, Rabu (3/6/2026).

Berdasarkan data BEI, IHSG ditutup anjlok signifikan sebesar 4,11 persen atau 254,36 poin ke level 5.941,07. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 30,28 poin atau 4,89 persen ke posisi 588,99.

Padahal IHSG sempat memberikan optimisme ketika pada pembukaan perdagangan saham Rabu pagi dibuka menguat dibuka menguat 11,67 poin atau 0,19 persen ke posisi 6.207,10. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 0,25 poin atau 0,04 persen ke posisi 619,02.

Tergelincirnya IHSG sehingga jatuh  sebesar 4 persen dalam satu hari ini menjadi salah satu koreksi harian terdalam sepanjang tahun ini, sekaligus menghapus keuntungan yang sempat dibukukan indeks pada bulan-bulan sebelumnya.

Tekanan Belum Mereda

Advertisement

Untuk perdagangan esok hari, Kamis (4/6/2026), para pelaku pasar kini bersikap wait and see sambil mencermati langkah taktis dan intervensi lanjutan yang akan diambil oleh Bank Indonesia serta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menstabilkan pasar keuangan domestik agar kepanikan tidak berlanjut pada perdagangan esok hari.

Apalagi Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, mengatakan, secara teknikal, tekanan terhadap IHSG masih belum sepenuhnya mereda. Ia memperkirakan indeks masih berpotensi bergerak melemah dalam jangka pendek dengan volatilitas yang tetap tinggi.

“IHSG diperkirakan bergerak di kisaran 5.880-6.060 dengan potensi penurunan lanjutan, sementara level support terdekat berada di area 5.740,” katanya seperti dilansir tradingview.

Sementara Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta memperkirakan, untuk perdagangan Kamis (4/6/2026), IHSG akan bergerak dalam rentang support pada level 5.839 hingga 5.733. Sementara itu, area resistance diperkirakan berada di kisaran 6.075 hingga 6.287.

Dengan masih kuatnya sentimen negatif dari faktor global maupun domestik, investor disarankan untuk tetap mencermati perkembangan pasar secara cermat. Volatilitas diperkirakan masih tinggi dalam jangka pendek, terutama di tengah ketidakpastian geopolitik, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, serta kekhawatiran mengenai aliran dana asing keluar dari pasar keuangan Indonesia.

Advertisement

Aksi Jual Massal Asing dan Efek Domino Rupiah

Ambrolnya IHSG didorong oleh aksi jual massal (panic selling) oleh investor, terutama pemodal asing yang terus melepas aset saham mereka di pasar domestik. Sentimen negatif ini dipicu oleh kecemasan pasar terhadap nilai tukar rupiah yang makin melemah terhadap dolar AS.

Melemahnya rupiah membuat biaya operasional emiten dengan eksposur utang valas atau impor bahan baku membengkak, yang pada akhirnya memicu kekhawatiran penurunan kinerja laba bersih perusahaan-perusahaan kakap di bursa.

“Pasar mengalami kepanikan ganda. Di satu sisi, rupiah tertekan hebat oleh gejolak geopolitik global di Selat Hormuz. Di sisi lain, kenaikan inflasi domestik membuat investor khawatir Bank Indonesia akan merespons dengan kebijakan moneter yang jauh lebih ketat. Pilihan paling rasional bagi modal asing saat ini adalah mengamankan aset keluar dari pasar berkembang,” ujar seorang analis pasar modal di Jakarta, Rabu (3/6/2026).

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, mengatakan bahwa pelemahan IHSG dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik yang mendorong investor bersikap lebih hati-hati.

Advertisement

“Bursa Asia bergerak mixed seiring meningkatnya kekhawatiran pasar setelah rencana tarif baru dari Amerika Serikat. Selain itu, pelaku pasar juga mencermati eskalasi konflik AS–Iran yang kembali memanas,” kata Nico kepada Kontan, Rabu (3/6/2026).

Menurut Nico, sentimen eksternal tersebut menambah ketidakpastian di pasar keuangan global dan meningkatkan kecenderungan investor untuk mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk saham di negara berkembang.

Dari sisi domestik, pasar juga dihadapkan pada sejumlah data ekonomi yang kurang menggembirakan. Nico menyebut penyusutan surplus neraca perdagangan dan kenaikan inflasi menjadi faktor tambahan yang membebani pergerakan IHSG.

“Surplus perdagangan April menyusut ke level terendah sejak 2020, sementara inflasi tahunan naik menjadi 3,08% pada Mei, didorong harga pangan dan transportasi,” jelasnya.

Selain itu, pelaku pasar juga mencermati perkembangan terbaru terkait penilaian lembaga pemeringkat terhadap entitas investasi pemerintah yang dinilai berpotensi memengaruhi persepsi risiko investor.

Advertisement

“Penetapan outlook negatif dapat memengaruhi persepsi investor terhadap risiko, terutama di tengah tekanan eksternal,” tambahnya.

Pandangan serupa disampaikan Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta. Menurutnya, pelemahan nilai tukar rupiah dan meningkatnya risiko arus keluar modal asing turut menjadi faktor yang menekan pasar saham domestik.

“Outlook negatif dari Moody’s berpotensi memicu persepsi risiko di kalangan investor, sehingga dapat mendorong terjadinya capital outflow,” ujarnya.

Nafan menambahkan, faktor teknikal yang berasal dari proses penyesuaian bobot indeks global juga berpotensi memperbesar tekanan jual di pasar saham Indonesia.

“Proses rebalancing MSCI yang telah berjalan serta FTSE yang akan efektif dalam waktu dekat berpotensi menambah tekanan jual di pasar,” jelasnya.

Advertisement

Sektor Korban Terparah

Pada penutupan perdagangan, seperti dilansir okezone, terdapat 75 saham menguat, 726 saham melemah dan 158 saham stagnan. Transaksi perdagangan mencapai Rp25,1 triliun dari 36 miliar saham yang diperdagangkan.

Kemudian indeks sektoral semua kompak berada di zona merah yaitu konsumer non siklikal, keuangan, properti, teknologi dan kesehatan, energi, konsumer siklikal, infrastruktur, bahan baku, transportasi dan industri.

Sementara itu, saham-saham yang masuk top gainers yaitu saham PT WEHA Transportasi Indonesia Tbk (WEHA) naik 34,68 persen ke Rp167, PT Multi Medika Internasional Tbk (MMIX) naik 24,76 persen ke Rp655, dan saham PT Indonesia Prima Property Tbk (OMRE) naik 24,09 persen ke Rp1.365.

Adapun saham-saham yang masuk top losers antara lain, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) turun 15 persen ke Rp1.615, PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC) turun 14,97 persen ke Rp710 dan PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) turun 14,94 persen di Rp5.125.

Advertisement

Saking derasnya tekanan jual, hampir seluruh indeks sektoral di BEI terjerembab di zona merah tanpa perlawanan berarti.

  • Sektor Finansial / Perbankan: Saham-saham bank raksasa (big banks) yang biasanya menjadi motor penggerak indeks terpaksa rontok karena aksi ambil untung dan kekhawatiran pengetatan likuiditas.
  • Sektor Properti & Konstruksi: Menjadi sektor yang paling sensitif terhadap pelemahan rupiah dan potensi kenaikan suku bunga, saham di sektor ini rata-rata tergerus hingga menyentuh batas Auto Rejection Bawah (ARB).
  • Sektor Konsumer: Ikut tertekan akibat kekhawatiran penurunan daya beli masyarakat di tengah inflasi yang merangkak naik.

Akibat penurunan tajam 4 persen ini, nilai kapitalisasi pasar (market cap) di bursa efek Indonesia menguap hingga ratusan triliun rupiah hanya dalam hitungan jam. Data perdagangan menunjukkan lebih dari 500 saham berguguran, sementara saham yang mampu menguat bisa dihitung dengan jari—mayoritas hanya ditopang oleh saham-saham di sektor komoditas energi yang mendapat berkah dari lonjakan harga minyak mentah dunia. ***

Exit mobile version