Ekonomi
IHSG BEI Rabu 24 Juni 2026: Ambruk Terlempar dari Level 6.000, Rawan Koreksi Lanjutan

Dihantam gelombang koreksi massal pada pertengahan pekan ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI ambruk cukup dalam pada penutupan perdagangan Rabu (24/6/2026). (AI)
FAKTUAL INDONESIA: Pasar modal Indonesia dihantam gelombang koreksi massal pada pertengahan pekan ini dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI ambruk cukup dalam.
IHSG BEI terlempar dari level psikologis 6.000 akibat meluasnya aksi jual investor menyusul sentimen negatif dari pasar global dan regional.
Pada penutupan perdagangan Rabu (24/6/2026) sore, IHSG parkir di zona merah dengan koreksi tajam sebesar 217,45 poin atau merosot 3,56 persen ke posisi 5.883,88. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 20,26 poin atau 3,39 persen ke posisi 578,17.
Padahal, saat pembukaan perdagangan saham Rabu pagi, IHSG sempat memberikan harapan dengan bergerak menguat 26,94 poin atau 0,44 persen ke posisi 6.128,27. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 2,70 poin atau 0,45 persen ke posisi 601,13.
Namun dengan tekanan yang makin meninggi, IHSG bergerak ke teritori negatif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG betah di zona merah hingga penutupan perdagangan saham.
Kejatuhan ini menjadi salah satu penurunan harian terdalam sepanjang tahun ini, seiring dengan rontoknya harga komoditas dunia dan melesatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) yang menekan stabilitas pasar domestik.
Faktor Utama Penyebab IHSG Ambruk
Kejatuhan indeks yang cukup drastis ini dipicu oleh kombinasi sentimen eksternal dan internal yang datang secara bersamaan:
- Aksi Jual Massal (Panic Selling) Investor Asing: Sikap ketat bank sentral AS (The Fed) yang diproyeksikan mempertahankan suku bunga tinggi memicu pengetatan likuiditas global. Investor asing memilih bermain aman dengan menarik dana mereka (capital outflow) dari pasar berkembang untuk dipindahkan ke aset safe haven.
- Sektor Perbankan dan Blue Chip Jadi Pemberat: Saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) di sektor keuangan, infrastruktur, dan manufaktur kompak bertumbangan menjadi beban utama indeks hari ini.
- Sentimen Negatif dari Pasar Komoditas: Rontoknya harga komoditas global, termasuk merosotnya harga emas dunia secara signifikan, turut memberikan sentimen negatif bagi emiten-emiten berbasis pertambangan di bursa domestik.
Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menyampaikan bahwa rilis MSCI Annual Market Classification Review menjadi sentimen utama penekan indeks. Dalam tinjauan ini, MSCI menyoroti kekhawatiran investor global terkait aspek investabilitas di Indonesia. MSCI bahkan membuka opsi untuk mereklasifikasi status Indonesia dari pasar berkembang atau emerging market menjadi pasar perintis (frontier market) pada November 2026 apabila tidak ada kemajuan.
Mengutip bisnis.com, Nafan menilai penurunan tajam itu mencerminkan respons langsung dari para pelaku pasar luar negeri yang kecewa terhadap hasil evaluasi berkala tersebut. “Anjloknya IHSG pasca-pengumuman menunjukkan bahwa ekspektasi pasar, terutama investor asing belum sepenuhnya terpenuhi. Pasalnya, asing kerap mengantisipasi adanya perbaikan bobot atau kejelasan regulasi yang lebih akomodatif,” ucap Nafan.
Dia menambahkan ketika hasil review tidak membawa katalis positif baru atau justru menyoroti isu struktural, aliran dana keluar jangka pendek menjadi respons alami akibat aksi ambil untung atau rebalancing portofolio. Di sisi lain, pergeseran narasi global yang kembali bersiap menghadapi era suku bunga tinggi untuk jangka waktu lebih lama turut memperberat langkah indeks. Penundaan ekspektasi pemangkasan Fed Rate serta aksi jual besar-besaran pada sektor teknologi di Wall Street disebut kian memperkeruh sentimen eksternal.
“Di sisi lain, tekanan eksternal dari dinamika geopolitik Timur Tengah agak mereda seiring perkembangan diplomasi AS–Iran. Namun, tekanan masih belum hilang sebab Iran masih mengembangkan program nuklir,” ucapnya.
Apa Langkah Selanjutnya?
Secara teknikal, jebolnya level psikologis 6.000 menempatkan IHSG pada posisi rawan koreksi lanjutan jangka pendek. Namun, bagi investor jangka panjang dengan profil risiko moderat, kejatuhan indeks ke area 5.800 ini dinilai mulai membuka ruang bagi saham-saham berfundamental kuat untuk masuk ke dalam area “diskon” atau undervalued.
Investor disarankan untuk tetap mencermati pergerakan nilai tukar rupiah dan rilis data makroekonomi global sebelum kembali melakukan akumulasi beli secara agresif.
Untuk perdagangan Kamis (25/6/2026), seperti dilansir TredingView, Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana memperkirakan IHSG berpeluang mengalami technical rebound meskipun masih terbatas, dengan level support di 5.850 dan resistance di 5.930.
Sementara itu, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang melihat IHSG masih berpotensi melanjutkan pelemahan dengan menguji area 5.750.
Herditya juga merekomendasikan sejumlah saham yang dapat dicermati, di antaranya BREN pada kisaran Rp4.100-Rp4.920, INCO pada level Rp5.500-Rp5.925, serta MBMA pada rentang Rp565-Rp605.
Saham Merah Mendominasi
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, semua atau sebelas sektor melemah yaitu sektor barang baku turun paling dalam 6,26 persen, diikuti oleh sektor energi dan sektor infrastruktur yang turun masing-masing sebesar 5,83 persen dan 4,47 persen.
Adapun saham-saham yang mengalami penguatan harga terbesar yaitu PTPW, BHAT, LINK, SCMA dan BINA. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan harga terbesar yakni CTTH, ARKO, BABY, BIPI, dan ENRG.
Dari data BEI pada penutupan Rabu sore, performa pasar menunjukkan kondisi yang sangat defensif:
- Saham Melemah: 646 saham ditutup merosot ke zona merah.
- Saham Menguat: Hanya 103 saham yang mampu bertahan dan parkir di zona hijau.
- Saham Stagnan: 210 saham lainnya bergerak mendatar atau tidak mengalami perubahan harga.
Total volume perdagangan saham hari ini mencapai 24,80 miliar lembar dengan nilai transaksi agregat yang membengkak hingga Rp15,13 triliun, mencerminkan tingginya intensitas transaksi di tengah tekanan jual.
Kompak Bersama Bursa Asia
Tren koreksi ini sejatinya tidak hanya dialami oleh bursa domestik. Mayoritas bursa saham di kawasan Asia-Pasifik juga terpantau layu dan kompak memerah pada perdagangan hari ini.
Indeks Nikkei 225 (Tokyo) dan Hang Seng (Hong Kong) memimpin kejatuhan di zona regional, mengindikasikan bahwa kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global dan volatilitas nilai tukar tengah melanda pasar keuangan secara luas. ***