Ekonomi

IHSG BEI Kamis 23 Juli 2026: Terpeleset Gara-gara Aksi Ambil Untung, Besok Cenderung Mixed hingga Sideways

Published

on

Sempat bergerak nyaman di zona hijau pada sesi pagi hingga siang, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kemudian tergelincir ke zona merah pada penutupan perdagangan Kamis (23/7/2026). (Foto: Istimewa)

Sempat bergerak nyaman di zona hijau pada sesi pagi hingga siang, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kemudian tergelincir ke zona merah pada penutupan perdagangan Kamis (23/7/2026). (Foto: Istimewa)

FAKTUAL INDONESIA: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) gagal mempertahankan laju positifnya hingga penutupan perdagangan Kamis (23/7/2026). Sempat bergerak nyaman di zona hijau pada sesi pagi hingga siang, IHSG akhirnya berbalik arah dan ditutup melemah 19,17 poin atau 0,30% ke posisi 6.315,31.

Aksi profit taking (ambil untung) pada saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) di sektor keuangan dan industri menjadi pemicu utama terpelesetnya indeks jelang penutupan.

Sebenarnya IHSG mengawali perdagangan saham pagi ini masuk zona hijau dengan bergerak  menguat 12,14 poin atau 0,19 persen ke posisi 6.346,62. Naik pula 0,81 poin atau 0,13 persen ke posisi 633,36 untuk  kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45.

Namun IHSG hanya mampu bertahan di teritori positif hingga penutupan sesi pertama. Selanjutnya di sesi kedua, IHSG bergerak ke zona merah hingga penutupan perdagangan saham. Pelemahan IHSG ini juga dibarengi dengan melemahnya kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 yang turun 5,43 poin atau 0,86 persen ke posisi 627,12.

Padahal di kawasan Asia, mayoritas bursa saham mencatatkan penguatan. Indeks Nikkei naik 0,39% ke level 66.374,00, Shanghai Composite menguat 0,25% menjadi 3.876,78, Hang Seng bertambah 1,28% ke 25.210,81, dan Kospi melonjak 4,40% ke level 7.096,89. Sementara itu, Strait Times menjadi satu-satunya indeks yang melemah dengan penurunan 0,32% ke posisi 5.577,75.

Advertisement

Meningkatnya Kehati-hatian Investor

Pelemahan indeks dipengaruhi meningkatnya kehati-hatian investor setelah harga minyak mentah dunia terus menguat akibat memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menilai kenaikan harga minyak membuat pelaku pasar lebih memilih strategi perdagangan jangka pendek sambil mencermati perkembangan situasi global.Asia Tenggara & Kepulauan Pasifik

“Berlanjutnya kenaikan harga minyak mentah pada level tertinggi selama enam pekan terakhir, membuat para pelaku pasar cenderung mulai berhati-hati dan melakukan trading jangka pendek,” kata  Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim seperti dilansir Media Indonesia.

Sementara itu Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, pelemahan IHSG terjadi di tengah aksi profit taking investor.  Dalam keterangannya kepada Kontan, ia menjelaskan, sebelumnya Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%, setelah sempat menaikkan suku bunga secara kumulatif dalam beberapa bulan sebelumnya. Menurutnya, langkah BI tersebut diiringi dengan kebijakan lain seperti penurunan biaya lindung nilai valuta asing dan dorongan penggunaan mata uang lokal untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Advertisement

Dari sisi global, pelaku pasar masih mencermati ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak ke level tertinggi dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi serta peningkatan tekanan inflasi global.

Jumat, Peluang Konsolidasi atau Rebound?

Menatap perdagangan akhir pekan, Jumat (24/7/2026), analis memperkirakan pergerakan IHSG masih akan cenderung mixed hingga sideways dengan kecenderungan menguji area support terdekat.

Ratna memperkirakan pergerakan IHSG masih akan berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan melemah. Menurutnya, pelaku pasar berpotensi melakukan aksi ambil untung menjelang akhir pekan.

“Diperkirakan jika IHSG breakdown dari level MA5 di sekitar 6,279, maka berpotensi uji level support berikutnya di 6.200- 6.250,” ujar Ratna.

Advertisement

Sedangkan Nico memperkirakan IHSG masih berpotensi mengalami pelemahan dalam jangka pendek. “Secara jangka pendek, IHSG berpotensi melemah, termasuk pada perdagangan besok,” jelasnya.

Namun dalam jangka menengah, ia melihat IHSG masih memiliki peluang bergerak dalam rentang 6.290 hingga 6.510.

Analisis Teknikal & Katalis Pasar

  1. Area Support & Resistance:
    • Support:270 – 6.300
    • Resistance:380 – 6.420
  2. Kondisi Pasar Global & Regional:
    • Sikap investor masih wait and see mengantisipasi rilis data ekonomi global terkini dan dinamika nilai tukar rupiah.
    • Sektor energi dan komoditas diproyeksikan masih menjadi penopang IHSG jika harga minyak dan batu bara global tetap stabil.

Catatan Analis:

“Jika IHSG mampu bertahan di atas level support psikologis 6.300 pada pembukaan Jumat pagi, terdapat peluang terjadinya teknikal rebound menuju area resistance 6.380. Namun, pemodal disarankan tetap waspada terhadap rotasi sektor secara cepat jelang penutupan akhir pekan.”

Rekomendasi Sektor Pilihan untuk Jumat:

Advertisement
  • Energi & Komoditas: Menfaatkan momentum tren positif minyak dan komoditas.
  • Properti: Trading buy memanfaatkan tren kenaikan lanjutan.
  • Perbankan Big Caps: Buy on weakness jika terjadi koreksi sehat lanjutan di area support.

Ringkasan Perdagangan IHSG Kamis

  • IHSG Penutupan:315,31 (-0,30%)
  • Level Tertinggi:454,31
  • Level Terendah:306,64
  • Total Nilai Transaksi: Rp23,88 Triliun
  • Frekuensi Transaksi: 3,15 Juta Kali
  • Jumlah saham diperdagangkan: 59,77 miliar lembar
  • Pergerakan Saham: 343 Saham Menguat, 309 Saham Melemah, dan 313 Saham Stagnan

Pergerakan Sektor dan Saham Movers

Meskipun IHSG parkir di zona merah, mayoritas sektor sebenarnya masih sanggup bertahan di zona hijau. Sektor properti memimpin penguatan sebesar 3,13%, disusul sektor barang konsumen primer (1,56%) dan sektor energi (1,52%).

Tekanan terbesar yang menyeret indeks datang dari sektor industri (-1,32%) dan sektor keuangan (-0,89%), dipicu oleh melemahnya sejumlah saham perbankan papan atas.

Kategori Nama Emiten Perubahan (%) Harga Penutupan
Top Gainer PT Futura Energi Global Tbk (FUTR) +24,39% Rp306
Top Gainer PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) +19,87% Rp13.875
Top Loser PT Swapro Inti Mandiri Tbk (SWID) -11,86% Rp104
Top Loser PT Hope Finance Tbk (HOPE) -9,37% Rp174

***

Advertisement
Exit mobile version