Ekonomi

IHSG BEI Kamis 18 Juni 2026: Melemah Lagi ke Level 6.172, Gerak Bakal Terbatas

Published

on

Sikap pasar yang cenderung berhati-hati (wait and see) mengantar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak melemah pada perdagangan Kamis (18/6/2026) sehingga kembali masuk zona merah. (AI/Ist)

Sikap pasar yang cenderung berhati-hati (wait and see) mengantar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak melemah pada perdagangan Kamis (18/6/2026) sehingga kembali masuk zona merah. (AI/Ist)

FAKTUAL INDONESIA: Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali tertahan di zona merah pada akhir pekan ini. Membuka dan menutup perdagangan pada Kamis (18/6/2026), IHSG terpantau parkir di zona rendah seiring dengan sikap pasar yang cenderung berhati-hati (wait and see).

Berdasarkan data BEI, IHSG hari ini ditutup melemah 0,78% atau terpangkas 48,40 poin ke level 6.172,34. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 8,31 poin atau 1,33 persen ke posisi 616,92.

Perlemahan ini sekaligus melanjutkan tren koreksi dari hari sebelumnya yang sempat berada di level 6.220,74.

IHSG memang sudah masuk zona merah sejak pembukaan perdagangan Kamis pagi ketika dibuka melemah 28,85 poin atau 0,46 persen ke posisi 6.191,89. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 5,28 poin atau 0,84 persen ke posisi 619,95.

Anjlok di Sesi Pertama

Advertisement

Sejak bel pembukaan pasar berbunyi pada pukul 09.00 WIB, tekanan jual memang sudah terasa. IHSG langsung dibuka merosot ke level 6.191,89.

Bahkan, tidak lama setelah pasar dibuka, indeks sempat anjlok cukup dalam hingga lebih dari 1% menyentuh level terendahnya di 6.073,72. Menjelang penutupan sore, barulah IHSG berhasil mengikis sebagian pelemahannya meskipun belum mampu keluar dari zona merah.

Sebanyak 6 sektor saham terpantau ikut menyeret indeks ke bawah, dengan sektor infrastruktur mencatatkan penurunan paling dalam pada perdagangan kali ini. Beberapa saham blue chip dengan kapitalisasi besar seperti BBCA, BBRI, BMRI, TPIA, dan BRMS menjadi yang paling aktif ditransaksikan oleh para investor.

Faktor Krusial

Ada beberapa faktor krusial yang membuat para pelaku pasar memilih untuk bermain aman dan menahan diri, di antaranya:

Advertisement
  • Sinyal Hawkish dari The Fed: Bank sentral AS tetap mempertahankan suku bunga acuan di level 3,50% hingga 3,75% pada FOMC pertemuan Juni 2026. Namun, di bawah kepemimpinan Ketua yang baru, Kevin Warsh, The Fed menghapus panduan arah suku bunga (forward guidance) dan memberi sinyal kuat bahwa inflasi yang masih di atas target 2% bisa memicu kenaikan suku bunga lanjutan tahun ini.
  • Menanti Pengumuman Indeks Global: Investor dalam negeri juga sedang mencermati penyeimbangan kembali (rebalancing) indeks global utama seperti MSCI dan FTSE yang diproyeksikan rilis dalam waktu dekat.
  • Fokus Suku Bunga Domestik: Sikap pasar diperketat menyusul langkah Bank Indonesia (BI) yang juga menyesuaikan kebijakannya demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak sentimen global.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Kamis (18/6/2026) mengemukakan, pergerakan IHSG tertekan karena pelaku pasar memilih berhati-hati menjelang pengumuman dari indeks saham global MSCI serta agenda rebalancing FTSE Russel yang akan berlangsung pada Jumat (19/6/2026).

“Investor cenderung hati-hati menjelang rebalancing indeks FTSE dan pengumuman MSCI,” kata Ratna Lim.

Seperti dilansir mediaindonesia, dari sisi domestik, investor masih menunggu sejumlah agenda penting, termasuk pengumuman MSCI Global Market Accessibility Review dan rebalancing indeks FTSE.

Selain itu, perhatian pasar juga tertuju pada pengumuman MSCI Annual Market Classification Review yang akan dirilis pada Rabu (24/6) pekan depan.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) kembali menaikkan suku bunga acuan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75% pada Kamis. Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan bahwa kenaikan tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus mengendalikan inflasi.

Dengan keputusan tersebut, total kenaikan BI Rate sepanjang periode ini mencapai 100 bps dan membuat suku bunga acuan berada di level tertinggi sejak April 2025.

Advertisement

Dari pasar global, muncul kabar bahwa Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Iran telah menandatangani nota kesepahaman secara digital sebagai langkah awal pengembangan kesepakatan perdamaian permanen dengan Iran.

Bergerak Terbatas

Sikap hati-hati dari investor asing dan domestik ini diprediksi masih akan membayangi arah gerak pasar modal hingga akhir pekan. Pelaku pasar disarankan untuk tetap memperhatikan level psikologis kritis IHSG dan fokus pada saham-saham dengan fundamental kuat yang defensif terhadap fluktuasi suku bunga.

Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, mengatakan secara teknikal, IHSG masih berada dalam tren penurunan dan belum menunjukkan sinyal pembalikan arah.

“Secara teknikal masih downtrend, dengan support di 6.170 dan resistance di 6.400. Belum ada sinyal reversal, sehingga breakout ke atas masih membutuhkan katalis yang kuat,” katanya seperti dikutip dari tradingview.

Advertisement

Untuk perdagangan Jumat (19/6/2026), pergerakan IHSG diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh hasil peninjauan indeks MSCI serta dampak lanjutan dari kebijakan suku bunga Bank Indonesia.

“Jika hasil MSCI lebih baik dari kekhawatiran pasar, ada potensi rebound. Namun jika sebaliknya, IHSG berpeluang melanjutkan pelemahan ke area 6.000-6.100,” tambahnya.

Sejumlah saham yang dapat dicermati investor antara lain BBCA, BMRI, dan ADRO.

Lima Sektor Menguat

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, lima sektor menguat yaitu dipimpin sektor barang baku yang naik 2,49 persen, diikuti oleh sektor barang konsumen non primer dan sektor transpprtasi & logistik yang naik masing-masing naik 0,47 persen dan 0,29 persen.

Advertisement

Sedangkan enam sektor turun yaitu sektor infrastruktur turun paling dalam sebesar 1,96 persen, diikuti oleh sektor keuangan dan sektor kesehatan yang turun masing-masing sebesar 1,32 persen dan 1,07 persen.

Adapun saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu CBUT, JECC, ZONE, KOPI, dan RLCO. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan harga terbesar yakni KONI, DEFI, BCIC, DPUM, ESIP.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.779.000 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 23,68 miliar lembar saham senilai Rp17,97 triliun. Sebanyak 271 saham naik, 445 saham menurun, dan 243 tidak bergerak nilainya.

Bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei menguat 1.223,75 poin atau 1,75 persen ke 71.126,00, indeks Hang Seng melemah 387,35 poin atau 1,59 persen ke 23.924,81, indeks Shanghai melemah 17,59 poin atau 0,43 persen ke 4.090,48, sedangkan indeks Strait Times menguat 36,38 poin atau 0,70 persen ke 5.212,84. ***

Advertisement
Exit mobile version