Ekonomi

IHSG BEI Jumat 14 April 2026: Anjlok 3 Persen, Parkir di Zona Merah Level 7.129

Published

on

FAKTUAL INDONESIA: Harapan investor untuk melihat penutupan pekan yang ceria di pasar modal harus kandas. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) terpaksa tiarap loyo pada perdagangan Jumat (24/4/2026).

Meski mata uang rupiah berhasil bangkit, IHSG justru memilih jalur merah dan mendarat di level yang cukup rendah. Berdasarkan data BEI, IHSG ditutup anjlok cukup dalam sebesar 249,50 poin atau 3,38% ke level 7.129,49.

Padahal, pada awal pembukaan perdagangan pagi tadi, indeks sempat menunjukkan tanda-tanda perlawanan sebelum akhirnya menyerah pada aksi jual masif. IHSG dibuka melemah 0,53 poin atau 0,01 persen ke posisi 7.378,07. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 1,51 poin atau 0,10 persen ke posisi 715,75.

Namun tekanan terus menguat sehingga IHSG ditutup melemah  249,12 poin atau 3,38 persen ke posisi 7.129,49. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 25,12 poin atau 3,51 persen ke posisi 690,76.

Advertisement

Hampir seluruh sektor “kebakaran”, namun tekanan paling berat terasa pada sektor keuangan dengan bank-bank besar mengalami koreksi yang cukup signifikan setelah reli panjang di awal bulan. Kemudian sektor teknologi yang sangat sensitif terhadap suku bunga ini kembali terperosok karena kekhawatiran terhadap kebijakan moneter global yang tetap ketat.

Sektor saham energi seperti dilansir liputan6, turun 4,22%, sektor saham basic susut 2,76%, sektor saham industri merosot 3,47% dan sektor saham consumer nonsiklikal tergelincir 3,08%. Sementara itu, sektor saham siklikal susut 4,27%. Lalu sektor saham kesehatan merosot 1,52%, sektor saham keuangan terpangkas 2,27%. Sektor saham properti turun 3,89%, sektor saham teknologi melemah 2,63%, sektor saham infrastruktur turun 4,08% dan sektor saham transportasi terpangkas 3,315.

Sebanyak 670 saham melemah sehingga bebani IHSG. 83 saham menguat dan 62 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan 2.685.048 saham dengan volume perdagangan saham 47,1 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 24,3 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah di kisaran 17.211.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan,  emiten perbankan dicermati menjadi pemberat IHSG hari ini. Hal ini seiring langkah Fitch Rating terhadap emiten bank.

“Fitch ratings memberikan rating negatif kepada 4 emiten bigbanks, di mana hal ini disebabkan oleh efek domino atas diturunkannya outlook ekonomi Indonesia oleh Fitch menjadi negatif. Mereka melihat adanya risiko fiskal dan juga APBN Indonesia,” ujarnya.

Advertisement

Phintraco Sekuritas seperti dipantau dari investorid, menjelaskan, secara teknikal, IHSG telah breakdown dari level MA20. Histogram positif MACD menyempit dan berpotensi membentuk Death Cross.

“Terdapat gap down IHSG di sekitar level 7.022. Sehingga diperkirakan IHSG berpotensi menguji level psikologis di 7.000 pada pekan depan,” tulis Phintraco Sekuritas dalam ulasan, Jumat (24/4/2026).

Phintraco Sekuritas memberikan rekomendasi saham yang dapat diperhatikan pada pekan depan, antara lain saham ADMR, ADRO, BFIN, ISAT, ULTJ dan SRTG untuk trading, Senin (27/4/2026).

IHSG Gagal “Happy Ending”

Ada beberapa faktor utama yang membuat IHSG tampak kehabisan bensin di hari Jumat ini:

Advertisement
  1. Sentimen Geopolitik yang Memanas: Eskalasi konflik di Timur Tengah yang terus berlanjut membuat investor global cenderung bermain aman (risk-off). Mereka lebih memilih memindahkan asetnya ke instrumen yang dianggap lebih aman seperti emas.
  2. Aksi Jual Investor Asing: Sepanjang hari ini, investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) yang cukup besar. Sektor perbankan raksasa (Big Caps) yang biasanya jadi penopang, kali ini harus rela dilego pasar.
  3. Tingginya Imbal Hasil Obligasi AS: Kenaikan yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) membuat daya tarik pasar saham di negara berkembang, termasuk Indonesia, sedikit meredup di mata para fund manager internasional.

Meski IHSG merah membara, para analis menyarankan agar investor tetap berkepala dingin. Pelemahan ini dinilai sebagai bagian dari koreksi teknis yang wajar di tengah tingginya ketidakpastian global.

“Ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan evaluasi portofolio. Fokuslah pada saham-saham dengan fundamental kuat dan dividen yang stabil, karena badai di pasar modal pasti akan berlalu,” ujar salah satu pengamat pasar modal. ***

Exit mobile version