Ekonomi

IHSG BEI Hari Senin 7 September 2026: Anjlok ke Bawah Level Psikologis, Simak Penyebab & Prediksi Selasa

Published

on

Tekanan aksi jual (profit taking) dan sentimen negatif dari pasar global dan regional membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efak Indonesia (BEI) yang menguat di pembukaan harus anjlok ke bawah level psikologis pada penutupan perdagangan Senin (7/9/2026). (Foto: Istimewa)

FAKTUAL INDONESIA: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efak Indonesia (BEI) pada perdagangan awal pekan, Senin (7/9/2026), bukan saja terpeleset dari posisi menguat saat pembukaan namun anjlok tajam hingga ke bawah level psikologis 6.000.

Meskipun IHSG sempat melangkah mantap dengan langsung masuk zona hijau namun tekanan aksi jual (profit taking) yang masif serta sentimen negatif dari pasar global dan regional memaksa indeks domestik berputar mengakhiri perdagangan di zona merah.

Pada Senin pagi IHSG membuka perdagangan dengan menguat 15,61 poin atau 0,24 persen ke posisi 6.652,09. Diiringi kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 1,43 poin atau 0,22 persen ke posisi 659,02.

Namun pada penutupan perdagangan di sore hari, IHSG tercatat melemah signifikan sebesar 254,36 poin atau 4,11 persen ke level 5.941,07. Indeks LQ45 juga turun 1,17 poin atau 0,18 persen ke posisi 656,42.

Untuk bursa saham regional kawasan Asia, IHSG mengalami nasib sama dengan Hang Seng turun 0,93 persen ke 25.413,12 dan Straits Times melemah 0,16 persen ke 5.793,36.

Sedangkan yang berkibar antara lain Nikkei menguat 2,02 persen ke 66.334,00, Shanghai Composite naik 0,07 persen ke 3.932,70, dan Kospi menguat 4,61 persen ke 6.995,39.

Advertisement

Faktor Utama Penurunan

Pelemahan drastis pasar saham Indonesia pada hari ini dipicu oleh beberapa kombinasi sentimen utama:

  • Aksi Jual Investor Asing (Net Sell): Terjadi pelepasan aset pada saham-saham berkapitalisasi besar (big caps), terutama di sektor perbankan dan infrastruktur.
  • Sentimen Suku Bunga Global: Ketidakpastian arah kebijakan moneter Bank Sentral AS (The Fed) memicu sikap hati-hati di kalangan investor pasar berkembang.
  • Koreksi Harga Komoditas: Menurunnya harga sejumlah komoditas unggulan membebankan pergerakan saham emiten tambang dan energi.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan pergerakan IHSG pada awal pekan dipengaruhi sejumlah sentimen eksternal dan internal.

Menurut Nico dalam kajiannya, Kamis, seperti dilansir Metrotv, mengemukakan,  dari eksternal, bursa saham kawasan Asia bergerak variatif seiring kehati-hatian pelaku pasar di tengah eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Nico mengatakan aksi saling serang antara kedua negara, termasuk terhadap kapal tanker minyak dan kapal yang terkait dengan AS, meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi.

Sentimen pasar juga dipengaruhi data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan. Data US Change in Nonfarm Payrolls meningkat dari 21 ribu menjadi 162 ribu. Perkembangan tersebut membuat pelaku pasar kembali mencermati kondisi pasar tenaga kerja AS dan prospek kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada September 2026.

Di sisi lain, saham teknologi global mendapat sentimen positif dari optimisme terhadap model kecerdasan buatan (AI) terbaru OpenAI yang dinilai berpotensi meningkatkan permintaan terhadap cip memori. Kenaikan saham teknologi AS pada perdagangan Jumat, 4 September 2026, turut memberikan sentimen terhadap saham produsen chip dan perusahaan terkait AI di kawasan Asia.

Advertisement

Sedangkan dari dalam negeri, pelaku pasar mencermati risiko bencana alam, termasuk erupsi Gunung Anak Krakatau. Kondisi tersebut dinilai berpotensi meningkatkan risiko terhadap kesehatan masyarakat serta mengganggu transportasi dan logistik.

Sentimen domestik lainnya datang dari perkembangan cadangan devisa Indonesia. Bank Indonesia mencatat posisi cadangan devisa pada akhir Agustus 2026 sebesar USD146,5 miliar, meningkat dari USD145,3 miliar pada akhir Juli 2026.

Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 5,4 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka tersebut juga berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Prediksi Selasa, 8 September 2026

Memasuki perdagangan besok, Selasa (8/9/2026), IHSG diperkirakan masih akan bergerak dalam rentang konsolidasi berfluktuasi tinggi (volatile). Para analis memperkirakan adanya potensi teknikal rebound terbatas setelah penurunan tajam, namun kewaspadaan tinggi tetap diperlukan.

Advertisement
  • Support Psikologis:880 – 5.900
  • Resistance:000 – 6.050

Rekomendasi Strategi bagi Investor

  1. Wait and See: Investor disarankan menanti sinyal stabilisasi harga sebelum masuk kembali (entry point).
  2. Fokus Saham Defensif: Pertimbangkan emiten sektor barang konsumen primer (consumer staples) dan telekomunikasi yang relatif lebih tahan terhadap fluktuasi indeks.
  3. Disiplin Cut Loss: Menerapkan manajemen risiko yang ketat untuk mengantisipasi potensi pelemahan susulan.

“Diperkirakan IHSG akan bergerak sideways cenderung melemah menguji level 6.550-6.600 pada perdagangan Selasa (8/9/2026),” tulis Phintraco Sekuritas dalam ulasan, Senin.

Sementara itu, MNC Sekuritas memperkirakan IHSG rawan terkoreksi dengan area terdekat berada di 6.578-6.598. MNC Sekuritas memberikan rekomendasi saham HRUM, INKP, MDKA, dan TPIΑ untuk trading, Selasa.

Pergerakan Pasar Hari Ini

Berdasarkan indeks sektoral IDX-IC, tujuh sektor menguat. Sektor industri memimpin kenaikan sebesar 1,30 persen, diikuti sektor energi sebesar 1,06 persen dan sektor barang kesehatan sebesar 0,77 persen.

Sebaliknya, empat sektor melemah. Sektor teknologi mencatat penurunan terdalam sebesar 0,73 persen, diikuti sektor keuangan sebesar 0,70 persen dan sektor barang baku sebesar 0,60 persen. Saham yang mencatat penguatan harga terbesar antara lain MEDS, NZIA, HALO, SOHO, dan SHID. Sementara saham dengan pelemahan harga terbesar yakni HOPE, JAYA, AKSI, LUCY, dan LOPI.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2,12 juta kali transaksi dengan volume perdagangan 35,26 miliar saham senilai Rp13,62 triliun. Sebanyak 300 saham menguat, 348 saham melemah, dan 315 saham stagnan. ***

Advertisement
Exit mobile version